
"Ya, lalu?" Jawab Diana sedikit tidak yakin. Bukan ia tak yakin tentang keperawanannya, bagaimana ia bisa berhubungan badan jika berpacaran saja ia tidak pernah sekalipun.
"Jadi aku menawarkan mu untuk lelang itu, aku tidak memaksamu untuk mengikutinya, Diana. Itu tergantung diri mu sendiri."
"Jika aku mengikuti lelang itu, apa setelahnya aku juga harus bekerja sepertimu?" Tanya Diana
Tarisa menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, tidak harus jadi seperti ini, Diana. Beberapa orang melelang keperawanannya karena kondisi sepertimu, tapi tidak semua dari mereka melanjutkan untuk menjadi pelacur ya... Walaupun kebanyakan dari mereka memang berlanjut, tapi jika kau tidak ingin, kau bisa berhenti hanya sampai kau melayani pemilik mu."
Diana berpikir dengan keras, menimbang tawaran dari temannya, ia berjanji tidak akan melepaskan keperawanannya sampai ia menikah nanti.
"Karena ini lelang, Kau bisa mendapatkan bayaran yang sangat tinggi hanya dengan sekali main. Dengan wajah cantik sepertimu aku yakin akan banyak yang akan memperebutkan mu. Jika kau memasang harga terendah mu dari berapa jumlah yang kau butuhkan, dari situ kau akan bisa mendapatkan uang yang lebih banyak dari yang kau butuhkan, bahkan mungkin saja kau bisa mendapatkan uang satu milyar hanya dalam sekali main."
Diana semakin bimbang mendengar penuturan Tarisa. 1 Milyar dalam sehari? Berapa tahun ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu dari hanya menunggu pekerjaan yang belum ia dapatkan? Jika seperti itu, Ia bisa melunasi semua biaya operasi ibunya serta hutang-hutangnya dalam 8 hari, bukan? Bahkan masih sisa banyak jika ia ingin meneruskannya. Operasi Neneknya pun akan segera dilakukan tanpa menunggu waktu lama.
Saat ini, Diana berpikir kesehatan dan keselamatan Nenek merupakan keluarga yang ia miliki satu-satunya lebih penting daripada keperawanan yang sudah hilang dibandingkan kehilangan Neneknya.
"Tarisa..."
...***...
Seorang pria tampan keluar dari mobil sporty hitam miliknya, ia membuka kacamata hitam yang menyembunyikan kedua mata tajamnya di balik sana membuatnya menjadi pusat perhatian dari sekitarnya, ia berjalan penuh percaya diri memasuki sebuah cafe, tak lama berselang seorang pria melambaikan tangan ke arahnya.
Senyum tipis terukir di wajah tampan pria itu, membuat beberapa wanita di sekitar tempat itu yang juga sedang memerhatikannya memekik kegirangan.
"Whats up bro!" Kedua pria itu saling berjabat tangan dengan gaya kekinian dan tos kepalan tangan bersamaan
"Kau benar-benar Marvin? Tidak di Amerika tidak di Indonesia, kau masih menjadi bahan perhatian."
Lelaki yang ia panggil Marvin itu memerhatikan sekelilingnya, berpuluh pasang mata pengunjung cafe yang mayoritas berisi wanita itu tertuju padanya. Marvin yang playboy mengedipkan satu matanya menggoda membuat wanita-wanita itu memekik kegirangan.
"Itu karena aku sempurna." Jawab Marvin penuh percaya diri sedangkan temannya itu hanya mencibir, ingin mengelak tapi Marvin memang benar. Bahkan ia seperti lalat yang digandrungi para wanita.
Pria itu berkulit putih bersih dengan mata tajam, rambut hitam yang tidak tertata rapi, sedikit acak-acakan membuatnya terkesan bad boy, tubuh atletisnya ia balut dengan sweaters abu panjang sampai menutupi setengah dari telapak tangannya, di luar sweatersnya ia menutupi dengan jaket kulit hitam, kaki panjangnya terbalut jeans berwarna hitam dengan sepasang sepatu kets, sungguh siapapun yang melihatnya pasti tergoda apalagi melihat wajah sempurnanya, letak bentuk wajahnya seperti terukur dengan sempurna tidak ada satupun yang kurang ataupun kurang tepat.
Marvin Nicholas Sander, namanya. Marvin yang merupakan adik tiri Damian, dari hasil pernikahan Nyonya Marie dan Pak Brata baru saja kembali dari Amerika...
__ADS_1
"Tapi kau akan kalah tampan jika berhadapan langsung dengan kakak mu." Cibir temannya
"Hanya Kakak tiri... Apa pentingnya bagi ku. Ini adalah diriku sendiri dan ketampanan ku tidak terbagi oleh siapapun..." Balas Marvin
"Apa kau sudah berkencan sekarang?" Tanya teman Marvin, Gideon namanya namun sering dipanggil Deon saja.
Marvin memutar bola matanya malas, kenapa temannya menanyakan pertanyaan yang ia sudah tahu pasti apa jawabannya?
"Jangan katakan kau belum juga taken dengan gadis manapun?" Tebak pria itu membuat Marvin mengangguk tanpa ragu dengan wajah songongnya
"Kau sudah tahu kan berkencan bukanlah style ku, Gideon Syahputra! Semua wanita itu diperlakukan sama saja hanya untuk dimainkan tubuhnya."
Tepat setelah Marvin selesai mengatakan hal itu seorang gadis seksi berjalan menghampirinya. Marvin menatap Deon dengan pandangan 'kau lihat sendiri'.
Wanita seksi itu berdiri di depan meja Marvin, Marvin bisa melihat lekukan sempurna wanita itu di balik dress merah ketat yang ia kenakan, dadanya terlihat sangat menonjol dan menantang terlihat jelas karena hampir setengahnya tidak tertutup dress yang wanita itu kenakan.
"Permisi, maaf dari sejak pertama kau datang aku sudah memerhatikanmu dan sepertinya aku tertarik denganmu, bisakah kau memberiku nomormu?" Kata gadis itu sembari mengulurkan tangannya yang sedang menggenggam ponsel dengan case pink miliknya
Mata Deon terbelalak, bagaimana gadis itu bisa seberani itu?
Sedangkan Marvin hanya menatap gadis itu dengan santai seperti tidak terkejut sedikitpun, apa seperti ini kehidupan pria itu biasanya?
Wajah gadis itu terlihat kecewa, uluran ponselnya juga mengendor, tapi matanya terbelalak saat Marvin tiba-tiba mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa tulisan di sana.
'Ku tunggu besok pukul 8 malam ya.'
Tulis Marvin di iringi dengan kerlingan nakal. Gadis itu menatap layar ponselnya. Marvin memuliskan nama hotel serta nomor kamarnya di sana, gadis itu menatap Marvin dengan pandangan tidak percaya serta senang bercampur jadi satu.
"Aku pasti datang." Jawab gadis itu, setelahnya ia berjalan meninggalkan Marvin, menghampiri teman-temannya yang sudah menunggunya, mereka terlihat heboh sepertinya mereka sedang membicarakan Marvin, sebelum gadis itu pergi ia menoleh untuk menatap Marvin, saat ia tahu Marvin juga sedang menatapnya, ia mengedipkan matanya menggoda Marvin lalu ia pergi.
"Kau bisa lihatkan, seperti apa wanita itu?" Kata Marvin dengan wajah malas lalu menyesap sedikit kopi cappucino nya
"Apa maksudmu?"
Marvin mendesis pelan, merutuki kebodohan temannya tersebut, tapi akhirnya ia menjawab juga, siapa yang lebih bodoh sekarang?
"Bagaimana bisa mereka memberikan tubuh mereka semudah itu kepada pria yang tidak ia kenal, bahkan ia baru melihatmu semenit yang lalu? Karena mereka suka pada mu, bukan?" Ucap Deon menggedikkan bahunya, lalu ia menimpali.
__ADS_1
Deon hanya menggelengkan kepalanya tak setuju.
"Bukan. Tapi karena mereka murahan, hanya karena aku kaya dan sempurna mereka ingin memberikan apapun untukku, dan aku tak akan ingin berhubungan dengan wanita seperti itu."
Deon menatap wajah sarkas Marvin dengan tatapan ngeri, entah perasaannya atau memang iya menurutnya aura Marvin berubah menjadi gelap saat ia membicarakan wanita.
la tahu Marvin adalah pria bad boy. Bahkan diusia Marvin 26 tahun ia hidup tidak pernah sekalipun Deon melihat Marvin memiliki hubungan dengan wanita, kecuali hanya one night stand dan itupun ia lakukan random dengan wanita manapun yang mengajaknya berkenalan seperti yang barusan terjadi atau sekedar menyewa mereka dari biro. Tapi ia tak menyangka jika dia berasal dari keluarga terpandang pria itu bisa merubah aura kuningnya menjadi hitam yang bisa saja menjatuhkan harga diri nama keluarganya.
"Aku dengar di Pigalle akan ada lelang virgin one night stand." Ujar Deon
Mendengar kata virgin menarik perhatian Marvin, Marvin menatap temannya dengan pandangan tertarik dan hal itupun membuat Deon tersenyum menang.
"Pigalle? Diskotik yang ada di Apartemen Citrus yang selalu menyediakan Pekerja Se*s Komersil?"
Deon mengangguk membenarkan.
"Di sana setiap tahun ada lelang virgin one night stand, dan jika tidak salah ini tahun kelima mereka mengadakan lelang."
"Apa benar yang di lelang virgin? Jangan-jangan anak umur 10 tahun."
Deon memukul kepala Marvin dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.
"Apa kau kira negara kita sebrutal itu? Jangankan menjual anak berumur 10 tahun, anak sekolah yang melihat mobil Jeep saja dianggap mobil penculik dan orang tuanya mewanti-wanti orang yang tidak mereka kenal. Apalagi anak sekolah selalu diajarkan bagaimana menjaga diri agar teman pria mereka tidak memegang anggota bagian tubuh intim mereka saja tidak boleh. Kau pikir ini negara Thailand??"
Marvin hanya mengedikkan pundaknya lalu menyeruput cappucino nya lagi.
"Jadi, Apa kau ingin pergi kesana denganku besok?" Tanya Deon
Marvin kembali mengedikkan bahunya dengan wajah malas, ia tak percaya dengan perkataan temannya tersebut, di zaman sekarang memangnya masih ada gadis yang virgin? Bahkan anak SMA saja banyak yang sudah tidak virgin, dan kasus hamil di luar nikah. Dia tak ingin masuk penjara hanya karena tertangkap **** dengan anak di bawah umur dan di anggap pelecehan seksual bahkan di cap sebagai pedofil.
"Ayolah, aku dari dulu ingin sekali datang ke pelelangan itu, aku ingin tahu gadis seperti apa yang melelang keperawanannya sendiri. Kau pasti sudah berpengalaman di Amerika, bukan. Jangan berbohong padaku..." Kata Deon terkekeh
"Memang kau ingin menawarnya?"
Deon meringis menunjukkan rentetan gigi putihnya kepada Marvin, ia memang berasal dari keluarga yang berkecukupan tapi ia tak semilyarder keluarga Marvin yang bisa membuang uang 1 juta dolar dengan percuma dengan alasan tasnya basah dan kotor.
"Aku hanya ingin datang kesana. Mungkin saja aku bisa bertemu dengan gadis cantik di sana. Lagipula apa kau tidak penasaran seperti apa gadis itu? Mungkin saja ia cantik?" Ujar Deon membujuk
__ADS_1
"Sepertinya ia berwajah buluk makanya ia bisa menjaga keperawanannya, dan akhirnya menjualnya saking tidak adanya yang ingin melakukan **** dengannya." Batin Sarkas Marvin