Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 34 : Bekerja


__ADS_3

1 Minggu Kemudian...


Di hari pertama Marvin menjabat menjadi CEO, Marvin sudah di sibukkan oleh tumpukan dokumen yang sudah harus ia cek, padahal ayahnya tidak pernah mengatakan pekerjaan seorang CEO itu seberat ini. Jika ia tahu, maka dari dulu dia tidak menginginkan untuk menjadi seorang CEO. Percuma saja memiliki karyawan yang banyak dan Marvin pikir bisa menghandle pekerjaan apapun. Tapi dalam masalah ini, ia sendiri yang harus terjun mengerjakannya.


Waktu terus berjalan kenapa masih sebanyak ini dokumen yang harus ia cek, apa memang seperti ini hari-hari menjadi CEO sungguhan? Ia pikir kembali tugas CEO itu sangat mudah hanya tinggal duduk manis dan menandatangani dokumen saja. Ternyata tidak! Marvin tidak habis pikir bagaimana Damian kakaknya seorang CEO yang sudah banyak pengalaman dan merupakan saingannya bisa sukses besar hingga saat ini. Apakah itu imbas dari otak mereka yang berbeda, Damian jenius sedangkan Marvin bodoh? Jujur, Marvin sangat kesulitan mengemban tugasnya. Tapi ia tidak ingin menyerah agar bisa menandingi Damian dan menjatuhkan perusahaannya.


Tok... tok...


"Masuk!" Kata Marvin tanpa menoleh


Seorang wanita masuk dari balik pintu, yang tidak lain adalah sekretaris Marvin yakni Diana, yang sudah mulai bekerja bersama Marvin. Syukurlah keadaan neneknya sembuh dan sudah bisa pulang. Bahkan Nek Ira sangat senang mendengar Diana sekarang bekerja di perusahaan yang besar. Tanpa sebenarnya ia tahu dan Diana sendiri yang merahasiakan dari mana uang untuk pengobatan itu didapatkan meskipun Nek Ira selalu bertanya dan bagaimana ia bisa bekerja di sebuah perusahaan sekarang.


"Agh ... Diana, Masuklah!" Titah Marvin berubah senang saat melihat ternyata Diana yang masuk


"Permisi Tuan, Saya ingin menyampaikan pesan jika satu jam lagi ada agenda rapat bulanan bersama karyawan." Ucap Diana sopan


"Oh ya ... Baru saja masuk bekerja aku sudah harus dihadapkan dengan meeting. Pengalaman baruku yang sangat menguji nyali. Menurutmu apakah aku harus menghadirinya?" Kata Marvin bertanya

__ADS_1


"Iya. Anda harus menghadiri rapat ini karena penting, Tuan." Jawab Diana sambil menunduk


"Haha... Padahal aku tidak tahu apa saja yang perlu dibahas saat meeting. Apakah sepenting itu harus melakukan meeting segala rupa? Bukankah hal yang sudah direncanakan jelas tinggal dilakukan saja." Marvin malah tertawa seolah menertawakan dirinya sendiri yang entahlah sepertinya saat belajar dia selalu meninggalkan kelas


"Meeting bulanan bersama karyawan ini memiliki beberapa poin pembahasan, Tuan. misalnya terdiri dari, kesulitan yang dihadapi oleh karyawan selama sebulan ini, memberikan kritik satu sama lain, atau menanyakan ide berlian dari setiap personil yang bisa saja memiliki rencana untuk memajukan perusahaan ke depannya, bahkan Tuan bisa memberikan target kepada mereka untuk ke depannya." Jelas Diana yang awalnya terbesit dalam pikirannya kenapa bisa Marvin tidak begitu tahu akan tugasnya


"Benarkah. Sepertinya kau lebih banyak tahu dariku." Kata Marvin terkagum dengan pengetahuan Diana. Ia bahkan menopangkan dagunya satu tangan sembari menatap Diana dengan senyuman.


"Saya hanya membaca sedikit topik pembahasannya saja, Tuan." Jawab Diana sedikit malu dan hanya bisa menunduk


"Baik Tuan..." Jawab Diana setelahnya pamit pergi kembali ke ruangannya dan mempersiapkan meeting yang satu jam lagi akan dilakukan


...***...


Di Perusahaan Damian berada...


Pekerjaan seorang CEO memang tidak luput dari dokumen-dokumen, berkas, meeting, proyek, tanda tangan, kerja sama, tugas, yang tidak pernah lepas dari laptopnya.

__ADS_1


Contohnya Damian yang sudah berkecimpung menjadi seorang CEO sudah sangat lama hampir 8 tahun. Ayahnya memang sudah mengangkat Damian menjadi CEO saat diusia muda bahkan belum lulus kuliah. Tapi tetap saja tugas CEO masih jauh lebih berat dan membuat stress Damian dengan segala tugasnya. Hal itu disebabkan oleh perkembangan era globalisasi dengan teknologi yang semakin canggih dan banyak para pengusaha yang selalu berinovasi baru hingga bersaing ketat dan membuat Damian harus berpikir lebih keras lagi meskipun perusahaan dibawah kepemimpinannya selalu mengudara di nomor satu.


Seperti biasa sang sekretaris selalu datang apabila Asisten Joo belum hadir di perusahaan yang sedang mengerjakan pekerjaan di luar. Tanpa Damian pedulikan siapa yang sudah ia izinkan untuk masuk, Damian tetap fokus pada laptopnya.


"Tuan, 30 menit lagi meeting mengenai pembahasan proyek K For W akan segera dilakukan." Beri tahu sang sekretaris wanita yang berbagi tugas dengan Asisten Joo satu persatu setiap waktu selalu membacakan agenda Damian setiap harinya


"Ya aku mengerti, apa berkasnya sudah di siapkan?" Dan baru sekarang akhirnya Damian mengangkat kepalanya menatap wanita yang sedang berdiri di depannya, sedikit terpaksa sebenarnya, ia merasa tumpukan kertas di depannya jauh lebih menarik ketimbang wajah wanita di depannya


"Ini berkas untuk meeting nanti, Tuan."


Damian mengangguk lalu kembali fokus membaca kumpulan dokumen di depannya bersama sang laptop yang selalu menemani.


"Letakkan di atas meja, setelah ini akan aku pelajari."


Sekretaris meninggalkan berkas itu di atas meja Damian, ia sedikit membungkuk sebelum akhirnya pergi. Damian tak sedikitpun menatap sekretarisnya itu, ia terus terfokus oleh dokumen yang ada di depannya.


K for W adalah proyek baru Damian. Proyek ini bergerak di bidang kuliner yang rencananya akan berdiri sebuah restoran kelas dunia yang diisi oleh menu makanan dari khas belahan dunia.

__ADS_1


__ADS_2