Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 32 : Keberadaan Ku


__ADS_3

Diana yang baru keluar dari kamar mandi di kejutkan oleh keberadaan pria yang sudah membantunya mendapatkan uang untuk operasi Neneknya ternyata saat ini sedang berada di depan pintu rumahnya tiba-tiba.


"Tu-tuan... Anda!!" Pekik Diana sembari mengelus dadanya karena sangat terkejut, sedangkan lelaki yang ia ajak bicara hanya terkekeh lalu menarik pergelangan tangannya lembut


"Tu-tuan, Apa yang ingin anda lakukan? Kenapa bisa ada di sini?" Tanya Diana sedikit tercekat


"Aku sudah lama mencari mu. Seperti yang kau lihat akhirnya aku ada di hadapan mu, itu artinya aku menemukan mu. Aku pikir kau wanita penipu yang membawa kabur uang ku karena tidak memberi kabar akan janji mu itu. Kau lupa ya?" Ucap Marvin yang terus menarik Diana, membawa ia untuk memasuki mobil mewahnya


"Maaf Tuan, Saya akan dibawa pergi kemana?" Tanya Diana ketakutan karena Marvin terus memaksanya masuk ke dalam mobil sampai akhirnya Diana dengan tasnya sudah duduk di jok depan dan pintu mobil sudah terkunci bersama Marvin yang akan mulai melajukan mobilnya


"Kemana pun ke tempat yang akan kau tuju. Aku siap mengantar mu, karena sepertinya kau akan pergi dengan membawa tas itu. Apa kau akan kabur dari negara ini agar bisa terlepas dari janjimu?" Sindir Marvin mengira


"Tidak Tuan, Anda datang dengan tiba-tiba. Dari mana Tuan bisa tahu tempat tinggal Saya?" Malah bertanya Diana


"Dari mananya kau tidak perlu tahu. Aku hanya menjaga dan mencoba menemukan barang milikku agar dia tidak bisa kabur dari pemiliknya. Kau sudah membawa uangku dan membayar pengobatan Nenek mu, bukan. Kenapa tidak mencoba menemui ku?"


"Maaf Tuan, tapi saat ini Nenek saya baru saja siuman dan kemarin operasinya baru dilakukan, dan kini sedang dalam masa pemulihan. Saya tidak mungkin mulai bekerja bersama Tuan di saat Nenek saja belum keluar dari rumah sakit." Jelas Diana


Lalu, berkata


"Tapi jika Tuan ingin Saya segera bekerja di tempat Tuan, Saya akan coba mulai kerja besok hari."


"Agh tidak... Bahkan aku saja belum bekerja."


Respon Marvin berhasil membuat Diana mengerutkan keningnya keheranan.


"Kau bingung 'kan? Ya, Aku belum bekerja. Pasti kau bertanya kenapa jika aku tidak bekerja malah mengajakmu untuk menjadi sekretaris ku."


Diana hanya mengangguk pelan tak sabar mendengarkan penjelasan Marvin yang ia kira akan menjebaknya.

__ADS_1


"Jangan berpikir yang aneh. Sudah lama aku berada di Amerika dan baru saja kembali kesini sekitar 1 Minggu. Alhasil aku pulang untuk menjalankan perusahaan salah satu milik ayah ku yang diberikan padaku untuk mengelolanya. Hanya karena mencari sekretaris ku, aku rela menunda masuk ke perusahaan untuk mulai bekerja. Tapi kapanpun kau siap untuk mulai bekerja, Aku juga akan mengikuti keputusan mu, ayo mulai masuk pertama kali ke perusahaan bersama-sama." Ajak Marvin yang enggan mulai mengurus perusahaannya sebelum Diana yang akan menjadi sekretarisnya masuk


"Ta-tapi Kenapa, Tuan? Bukankah Tuan adalah CEO dari perusahaan yang anda miliki dan Tuan sendiri memiliki tanggung jawab yang besar untuk perusahaan itu. Kenapa harus masuk setelah saya bisa mulai bekerja?" Ucap Diana sembari bertanya


"Itu keinginan ku. Itu artinya aku memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang sebelum aku terjun mengurus perusahaan yang akan menyibukkan ku. Maka dari itu, aku akan menunggu mu."


"Lalu, Bagaimana jika Saya akan mulai bekerja besok hari?"


"Mustahil. Kau sendiri mengatakan akan mulai bekerja setelah Nenek mu benar-benar pulih kembali, dan dia saat ini baru sadarkan diri bukan, belum lagi tahap pemulihan di rumah. Jadi, berlama-lama lah karena dengan begitu waktu bersenang-senang ku akan lama."


"Kenapa Tuan Marvin seperti ini? Aku merasa dia tidak benar-benar ingin berkontribusi dengan baik terhadap perusahaannya. Dia malah mengambil keputusan yang tidak relevan, dan memilih bersenang-senang daripada segera menanggung tanggung jawabnya." Gumam Diana bertanya-tanya pada dirinya sendiri karena tidak habis pikir dengan Marvin


"Sudahlah... Aku akan mengantarkan sekretaris ku ke rumah sakit Neneknya dirawat." Ucap Marvin yang sudah menancap gas


Untuk terakhir kalinya, Marvin menghentikan kembali mobilnya yang baru saja maju beberapa detik secara mendadak akibat Diana yang melarangnya terus berbicara.


"Hey, Siapa yang menumpang? Apakah tadi kau menghentikan mobilku, lalu sembarangan masuk dan memintaku untuk mengantarkan mu ke tempat yang ingin kau tuju?" Balas Marvin menatap Diana begitu dalam


Diana hanya menunduk dan menggelengkan kepalanya, Tak berani menatap Marvin yang menatapnya begitu lekat bahkan sangat dekat jaraknya.


"Tidak bukan? Aku sendiri yang bersedia untuk mengantarkan mu. Jadi, tenang saja duduk manis menikmati perjalanan bersama mobilku ini sampai tiba-tiba saja kau sudah ada di rumah sakit."


"Tapi Tuan..." Kalimat Diana terpotong


"Tapi apa? Tenang saja, Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu. Kau pikir aku akan menculik mu?!" Ucap Marvin terkekeh


Dengan menghiraukan Diana, Marvin tidak peduli lagi dengan Diana yang melarangnya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit. Marvin langsung saja kembali menancapkan gasnya, melajukan mobilnya dengan kecepatan jalan raya.


Setelah mengalami penawaran yang panjang, Diana yang awalnya merasa tidak enak hati terhadap pria yang belum lama ini ia kenal, Akhirnya hanya bisa memasang sabuk pengaman dan menikmati perjalanan bersama Marvin yang akan mengantarkannya ke rumah sakit.

__ADS_1


...***...


Damian sedang ada di dalam ruangannya. Pagi hari sekali ia datang dan langsung terjun berkecimpung pada pekerjaanya yang teramat banyak dengan beberapa tumpuk berkas di depannya mulai dari berkas proyek K for W, progres keuangan, progres harga saham mulai dari pertama kali perusahaan itu di bangun Ayah Damian sampai dengan tahun ini yang semakin naik.


Beberapa hari ini Damian terus berkutat dengan banyak berkas, bahkan sudah 3 hari ia tak sempat sarapan dari rumahnya, sesekali ia memasak sendiri makanannya di dapur perusahan dan terkadang jika malas ia hanya memesan makanan cepat saji.


Nada dering berbunyi...


Damian menaikkan sedikit kacamata yang ia kenakan, mencoba membaca siapa yang berani menelepon di saat ia sedang fokus bekerja, ia bukannya terkena rabun, hanya saja matanya sering tidak fokus jika membaca tulisan terlalu lama dan banyak.


"Siapa yang berani-beraninya sudah menelepon di pagi hari? Menganggu orang yang sedang serius bekerja saja, Padahal agar pekerjaan ini cepat selesai tapi rupanya masih ada yang merusak konsentrasi ku."


Baru Damian mengangkat telepon itu tapi ia sudah menghardik si penelepon yang sudah berani mengganggunya.


"Aku tak memiliki waktu bermain denganmu, Joo. Aku sudah memintamu untuk tidak menelpon ku, bukan. Di mana kau sekarang, ini sudah jam kerja tapi kau belum datang hingga saat ini. Cepat datang dan bukannya menelepon, atau tidak aku akan memecat mu." Hardik Damian yang nada tingginya begitu terdengar menggelegar dari telepon sambil menutup laptopnya, melepas kacamata bulatnya lalu meletakkannya di atas meja tepat di depan.


"Mohon jangan ditutup dahulu, Tuan. Saya sedang berada di restaurant yang sudah buka pagi saat ini. Saya tahu jika selama tiga hari ini Tuan tidak sempat sarapan pagi, maka dari itu untuk hari ini datanglah ke restaurant untuk sarapan, atau saya akan membawakan pesanan untuk Tuan. Tuan ingin pesan apa?" Jelas Asisten Joo dalam telepon


"Aku tidak memiliki waktu untuk itu." Jawab Damian mengecam, dan langsung menutup teleponnya begitu saja


Damian langsung melempar handphonenya ke meja tepat dihadapannya, ia begitu stress saat ini. Di sisi lain, Asisten Joo sedang kesulitan untuk terhubung dengan Tuannya dalam telepon dan terus memanggil Tuannya dan ternyata saat ia lihat telepon sudah dimatikan.


Setelah mendinginkan kepala yang serasa ingin meledak, Damian kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Tapi kali ini konsentrasinya benar-benar buyar dan kesulitan untuk berpikir. Yang dia rasakan saat ini adalah lapar, itu terdengar dari perutnya yang terus berbunyi keroncongan.


Damian sendiri sampai harus menutup laptopnya kembali. Dan mengambil handphonenya memanggil Asisten Joo.


"Haissh, Baiklah Aku akan kesana, lagipula sekarang aku lapar ingin makan jadinya." Bicara Damian terdengar gengsi


"Ya ya, Saya tunggu, Tuan." Jawab Asisten Joo meletakkan ponselnya setelah panggilan itu berakhir, ia meregangkan sedikit ototnya yang serasa kaku dan senang akhirnya Tuannya menerima ajakannya

__ADS_1


__ADS_2