Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 52 : Seperti Nyonya Rumah Ini


__ADS_3

Pagi hari...


Dari subuh hari, Para pelayan di rumah Damian sudah terbangun dan langsung mempersiapkan segalanya untuk sarapan. Di sela itu, karena mereka tahu di rumah ada Diana dan sangat ingin bertemu dengannya tidak sabar untuk memeluk. Mereka selalu mengedarkan matanya melihat ke arah tangga untuk memastikan Diana keluar dari kamar Tuannya. Mata mereka tak lengah terus menerus melihat tangga dan sayangnya tak ada satupun makhluk yang menuruninya.


Hingga pada saatnya Diana keluar, Bu Isma dan Emma yang paling antusias menyadari. Saking antusiasnya, Emma yang sedang menyiapkan makanan di meja makan, begitu melihat Diana ia meletakkan piring itu sangat keras hingga membuatnya berdentingan dengan kaca meja makan.


"Nona Diana!!" Bu Isma dan Emma datang menerjang Diana saat sampai di bawah dengan sebuah pelukan hangat dari keduanya layaknya seorang sahabat.


"Kalian apa kabar?" Tanya Diana sama senangnya membalas pelukan mereka


"Kabar kami sangat baik. Tapi tidak dengan kabar Nona yang selalu saja datang kemari dibawa oleh Tuan dalam keadaan sakit." Ucap Emma


"Benar Nona Diana, kami sangat mengkhawatirkan kondisi Nona di luaran sana memangnya bagaimana sampai mengalami kesedihan terus menerus. Tapi untungnya Tuan Damian ternyata masih dipertemukan dengan anda tidak sampai malam itu saja dan kemarin beliau kembali menolong anda." Timpal Bu Isma


"Hidup ku itu sangat sulit. Tapi aku bersyukur dipertemukan dengan salah satu penghuni di dunia ini yang masih memiliki hati nurani, seperti kalian dan Tuan kalian." Balas Diana


"Kami sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan, Nona. Kau tidak tahu bagaimana aku kemarin tidak bisa tidur nyenyak karena menunggu pertemuan ku besok paginya." Ucap Emma begitu memancarkan raut wajah ceria


"Benar yang dikatakan Emma, Saya sendiri sampai begadang di luar kamar Tuan tadi malam, karena siapa tahu Nona keluar dan saya bisa bertemu dengan Nona sebagai orang pertama kalinya." Timpal Bu Isma


"Eehh, Bu Isma, kau lupa ya, yang pertama kali bertemu dengan Nona Diana kan Tuan. Kenapa bisa begitu percaya diri seperti itu." Tidak terima Emma yang merasa memiliki pesaing


"Cukup sudah, Jangan bertengkar! Kalian ini terlalu berlebihan bertemu dengan ku. Padahal kan, aku bukan Presiden Amerika sampai begitu antusiasnya bertemu." Derai Diana memisahkan perdebatan yang bisa saja terjadi


"Kami berharap untuk keesokan harinya, Nona datang ke rumah ini bukan dengan kondisi menyedihkan lagi, tapi nona datang dengan membawa kebahagiaan menjadi Nyonya rumah ini. Kami sangat berharap sekali karena melihat kepedulian Tuan pada Nona itu sangat meyakinkan hati kecil kami kalian bisa bersatu."


"Kalian ini berbicara apa, mana mungkin Tuan Damian memiliki tipe idaman seperti ku. Dia pasti mengincar seorang wanita seperti model, artis, yang pastinya tipe idamannya adalah wanita cantik dan paket lengkap." Ucap Diana sambil terkekeh


"Semua paket lengkap itu yang pasti semuanya ada dalam diri Nona. Bahkan sebelum Tuan meminta restu pada kami untuk menggaet nyonya rumah ini, kami adalah yang pertama merestui hubungan kalian." Ucap Bu Isma


"Benar itu, bahkan kami adalah penggemar berat kalian berdua. Sampai aku membuat sebutan untuk kalian sebagai Mania." Timpal Emma membuat sebuah fandom.


"Apa itu Mania??" Tanya Bu Isma dan Diana dengan intonasi bersamaan.


"Itu Lho yang ada di salah satu tayangan televisi. Slogannya itu Mantap Mania... Mancing!" Ujar Emma sambil memperagakannya.


Bu Isma dan Emma saling bertukar pandangan merasakan perasaan yang sama yakni kebingungan dan geli melihat kekonyolan Emma.


"Bukannya terbalik, ya." Ucap Bu Isma yang menyadari maksud tayangan terbalik tersebut.


"Hhaa... Aku hanya bercanda. Kalian ini terlalu serius. Tentu saja singkatan Damian dan Diana. Menyebut nama fandom saja kalian ini tidak tahu." Seru Emma sambil menaik turunkan alisnya menatap semua orang


"Hahh??" Bu Isma dan Diana bersama pelayan lainnya hanya bisa melongo, sedikit terkejut tapi ada benarnya.


"Kalian ini, aku bingung dengan pemikiran kalian. Kalian seperti owner pencarian jodoh saja yang menjodohkan orang lain." Komentar Diana saat dirinya dipasangkan bahkan memiliki nama penggemar dengan Damian.


"Owh tidak..." Emma terperanjat dan teringat akan sesuatu. Ia refleks menutup mulut dengan dua tangannya seolah salah berucap. Ia begitu mengedarkan pandangannya melihat sekeliling apakah terdapat Damian di sana.


"Ada apa?" Tanya Bu Isma.


"Aku tidak sengaja menyebut nama Tuan Damian hanya namanya saja tadi. Sekarang dia ada di sini tidak, ya. Jika muncul tiba-tiba dihadapan ku apa dia ingin mengeksekusi karena sudah menyebut namanya sembarangan." Ujar Emma dilanda ketakutan dan terus waspada mengedarkan pandangannya.


"Kau pikir dia pemimpin negara Korea Utara?!" Timpal Diana.

__ADS_1


Mereka tertawa bersama-sama dan terlihat bahagia.


Damian yang menguping pembicaraan mereka sedari tadi di balik dinding hanya tersenyum-senyum kecil melihat keakraban dan keseruan mereka. Ia tidak masalah akan kegundahan pelayan juniornya itu karena hal itu berhasil membuat Diana banyak bicara. Anggap saja ia tidak mendengar apa-apa.


"Ekhmm..." Damian keluar dari tempat persembunyiannya dan berdehem menghampiri mereka.


Melihat Tuannya datang, Spontan Bu Isma dan Emma pun saling menjaga jarak dari Diana dan mereka tertunduk. Sedangkan para pelayan lainnya membubarkan diri untuk kembali bekerja setelah menunduk pamit.


"Tu-tuan, Selamat Pagi!" Gugup mereka malu jadinya.


"Tuh kan benar, Tuan Damian langsung datang." Bisik Emma pada Bu Isma ketakutan.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya itu menarik, terlihat dari kalian yang bahagia, lalu kenapa sekarang kalian malah ketakutan saat aku datang." Ucap Damian


"Agh, Tidak ada, Tuan. Kami hanya senang bisa bertemu dengan Nona Diana lagi." Jawab Bu Isma tertunduk


Damian hanya mengangguk-angguk mengerti.


"Lain kali kau tidak perlu menanggapi perkataan mereka terlalu serius. Mungkin apa yang dikatakan mereka ada benarnya dan juga bisa dikatakan salah." Ucap Damian memperingatkan pada Diana, tapi tidak dapat dimengerti olehnya, bahkan oleh dua pendengar di sana, tapi mereka rasa Damian sedang menyindirnya. Apakah Damian sempat mendengar perbincangan mereka? Pikir Bu Isma dan Emma.


"Ayo, sebelum aku antarkan pulang, kita sarapan terlebih dahulu!" Ajak Damian


"Iya, Nona Diana. Ayo, kita sarapan, Dulu kau datang dan pulang tidak sempat makan apapun. Sekarang kau harus ikut kami sarapan tanpa kami dengar penolakan lagi darimu." Ajak Emma


Diana hanya mengangguk sambil tersenyum manisnya.


Para pelayan pun segera menyajikan makanan pada masing-masing piring itu. Menu sarapan mereka pun sangat banyak, banyak pilihan masakan yang bisa menjadi teman makan mereka. Siapapun yang dijamu atau tinggal di rumah itu, dijamin tidak akan kekurangan gizi.


"Silakan di makan, Nona! Ini adalah pertama kalinya kami menyajikan makanan yang akan dicoba oleh wanita cantik seperti mu. Kami harap anda akan menyukainya. Maaf makanan berat ini disajikan saat sarapan, pagi hari seharusnya roti dan susu, bukan." Pungkas Bu Isma mempersilakan Diana menyantap sarapan


Bu Isma pun sangat senang mendengar respon baik dari Diana, itu menambah kekagumannya lagi. Sedangkan Damian yang duduk di samping Diana hanya menahan senyum untuk menjaga image sifat dinginnya dihadapan semua orang, padahal hatinya sudah terkena panah asmara.


"Kalian tidak makan juga??" Tanya Diana karena merasa hanya ia dan Damian yang makan, melihat para pelayan berdiam diri berdiri saja.


Bu Isma dan Emma, beserta 3 pelayan lainnya yang hadir di sana hanya saling menatap.


"Agh... Ka-kam..." Bicara Bu Isma terpotong


"Duduklah!!" Titah Damian


"Ya, Tuan?" Bu Isma sangat terkejut


"Aku perintahkan kalian untuk duduk! Makanlah bersama!" Titahnya dingin


Para pelayan Damian saling memandang, sangat terkejut mendengar Damian memerintahkan mereka untuk duduk sarapan pagi ini di meja makan yang sama karena sebelum-sebelumnya tidak pernah seperti ini. Apalagi atasan dan bawahan rasanya tidak hormat makan di meja makan yang sama.


"Ayo, duduk! Kalian menunggu apalagi?" Kata Damian semakin memaksa terdengarnya


"Agh,,, I-iya, Tuan. Ayo duduk!" Ajak Bu Isma sungkan


Mereka pun mulai sarapan bersama dengan bahagia.


Keluarga adalah titik awal kebahagiaan. Bahagia seluruh semesta adalah dari bahagia sebuah keluarga. Menyenangkan sekali bila itu semua terjadi setiap hari. Bila ketika seluruh penghuni rumah sudah dianggap sebagai keluarga. Menikmati setiap suapan mereka, sesekali menyuap kasih sayang mereka.

__ADS_1


"Agh,,, Diana itu!!" Tunjuk Damian menyela suapan makan Diana


"Hah, Apa?" Kerut Diana saat Damian menunjuk sesuatu padanya


"Itu di bibirmu!" Tunjuk Damian lagi


"Apa? Di bibirku??" Diana menyentuh bibirnya tapi tidak ada sesuatu. Memangnya apa yang dimaksud Damian?


"Itu di bibirmu." Kekeh Damian terus menunjuk dan mengarahkan


"Apa memangnya?" Tanya Diana semakin heran


Tck...


Karena terlalu geram, Damian akhirnya refleks mengusap bibir Diana menggunakan ibu jarinya sampai menyentuh bibir itu yang terdapat satu butir nasi.


Sontak Diana sangat terkejut, dan para penonton hanya histeris.


Mereka pun terdiam cukup lama, dan saling memandang satu sama lain. Hal itu membuat Emma mabuk kepayang sampai menggigit jari melihat mereka.


Damian akhirnya tersadar dalam waktu yang cukup lama berpandangan dengan Diana. Mereka sama-sama canggung jadinya dan berusaha menstabilkan detak jantung yang berdebar sangat cepat.


"Ekhmm... Silakan dilanjutkan lagi!" Kata Damian kaku jadinya


Sekitar 15 Menit sarapan telah berlalu, akhirnya mereka telah selesai. Para pelayan pun mulai membereskan piring kotor.


"Biar aku bantu..." Kata Diana yang berinisiatif membantu para pelayan


"Eeehh... Tidak perlu, Nyonya. Seharusnya anda nikmati saja sentuhan Tu..." Bicara Emma, saat ia bicara mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Damian diakhir kalimat yang membuatnya tak lagi melanjutkan perkataan.


"Aghh,, Iya, maksudku Nona tidak perlu membantu kami karena anda adalah tamu Tuan. Kami bisa mengerjakannya... Tidak perlu repot-repot. Hehe..." Ucap Emma dengan suara yang melemah karena tidak sanggup menahan malu setelah mendapatkan tatapan maut dari Damian


"Agh, Baiklah..." Canggung Diana


"Aduhh... Kenapa mulut ku tidak tahu kondisi sekali. Orang lain tidak tahu bagaimana tatapan maut Tuan Damian padaku tadi... Aku sangat malu!" Cerca Emma dalam hati kesal pada dirinya


"Kenapa kau bisa berbicara seperti itu dihadapan, Tuan??" Bisik Bu Isma bertanya


"Bagaimana lagi, Bu, Kejadian Tuan Damian yang mengusap bibir Nona Diana yang terdapat butir nasi tadi masih mengiang di kepala ku, Mata yang saling memandangi itu masih membekas dalam hatiku, aku tidak bisa mengontrol diriku saat tahu Tuan Damian akan seromantis ini. Jadi, aku sampai keceplosan..." Jawab Emma


"Huh, Dasar sekali kau ini! Untung saja Tuan Damian bukan malaikat pencabut nyawa..." Kata Bu Isma saling berbisik


"Oh Iya, Bu Isma. Untuk makanan tadi yang ada di dapur, tolong bungkus saja dibawa pulang untuk Diana."


"Eh, Kenapa seperti itu, Tidak perlu!" Ujar Diana menolak


"Tidak apa. Aku meminta agar bisa dibawa pulang untuk diberikan pada Nenek mu juga. Beliau pasti belum sarapan menunggumu pulang." Kata Damian


"Ah Iya benar, Nenek pasti belum sarapan." Tegun Diana


"Maka dari itu, Bu Isma segera bungkus saja!"


"Baik Tuan..." Balas Bu Isma segera pergi ke dapur

__ADS_1


Setelah keperluannya selesai. Akhirnya Diana diantar pulang oleh Damian sembari ia berangkat ke perusahaan.


Bersambung✍️


__ADS_2