
Pukul 20.00 Wib...
Sementara itu di rumah kediaman Nek Ira, Sepulangnya dari luar Diana terlihat sedang tertidur di dalam kamarnya. Seperti biasanya gadis itu selesai menangis. Gadis malang yang tak pernah mengubur impiannya, untuk dapat kembali bersama ibunya, yang sebenarnya telah tiada.
Namun, apalah artinya sebuah kematian bagi gadis yang saat ditinggalkan masih berusia 15 tahun? Pikirannya masih belum dapat mencerna bahwa kematian itu adalah sebuah perpisahan yang abadi dan tidak akan mungkin orang yang sudah mati akan hidup kembali.
Diana masih terus berharap, agar sosok ibu yang dicintainya hadir dan kembali memberikan dekapan hangat padanya. Dekapan yang sudah 7 tahun ini hilang dalam hidupnya.
"Sampai kapan Diana akan seperti ini?" Nek Ira terus menatap iba ke arah Diana. Wanita paruh baya itu kini mendekat untuk menyelimuti tubuh mungil gadis itu, yang sedang memeluk sebuah guling dengan erat.
"Pasti di dalam mimpinya, ia mengira guling itu adalah tubuh Ibunya," Ujar Nek Ira menitikkan air mata yang sedari tadi sudah mengenang di kelopak matanya.
"Diana, Kau pasti sangat kelelahan, ya. Setengah hari kau pergi keluar untuk mendapatkan ketenangan sebentar. Tapi saat pulang, hal itu tidak mengubah kesedihan mu dan malah Nenek perhatikan kau terlihat memiliki beban pikiran dan mungkin itu yang membuatmu menangis dalam tidur. Lain kali bercerita lah masalah apapun pada Nenek mu ini." Bicara Nek Ira sembari mengusap-usap lembut pucuk rambut Diana yang tengah tertidur lelap.
"Kapan kau dipertemukan dengan sosok pria yang bisa menjagamu, memberikan kebahagiaan dan sangat menyayangi mu melebihi kasih sayang ibu dan nenek mu sendiri. Nenek sudah menantikan hari itu di mana bisa melihatmu sudah berstatus menjadi istri orang. Sebelum nenek pergi, nenek ingin kau sudah memiliki pendamping yang akan bertaruh apapun demi dirimu. Pria itu benar-benar tulus mencintai mu. Diana, semoga kau segera dipertemukan dengan jodoh mu agar nenek bisa pergi dengan tenang!" Kata Nek Ira tak henti dari usapan lembutnya dan tidak terasa sudah menitikkan air mata.
Di sela menyeka air matanya, Di luar sudah terdengar suara ketukan pintu yang mengejutkan Nek Ira. Setelah menyelimuti dan mengecup kening Diana, Nek Ira pergi dari kamar Diana dan segera membuka pintu untuk menerima tamu yang datang malam-malam.
"Sebentar!" Teriak Nek Ira dari dalam. Ia tengah berjalan menuju arah pintu.
Pintu sudah berhasil di buka dan menampilkan Damian dibaliknya.
Nek Ira cukup terkejut melihat kedatangan CEO hebat itu ke rumahnya malam-malam. Siapa yang tidak kenal dengan Damian. Pertama kali Nek Ira bertemu dengan petinggi itu saat mengantar mobil kerja Diana yang sempat dikira mencuri.
"Tuan Damian?! Anda datang ke rumah saya. Ada apa malam-malam begini?" Tanya Nek Ira senang dan ramah. Ia sendiri merasa segan karena ia berbicara dengan orang yang terpandang. Apalah artinya jika ia berbicara tanpa hormat pada Damian. Itu pikirnya!
"Maaf mengganggu waktumu malam-malam, Nenek. Kedatangan ku sangat mendadak seperti ini tanpa memberitahu orang rumah." Ujar Damian. Diakhir kalimat ia mengukir senyum kaku.
"Eh Tidak masalah, kebetulan Nenek belum tidur. Ayo masuk dulu! Di luar anginnya cukup kencang dan dingin." Ajak Nek Ira
Atas titah Nek Ira, Damian pun masuk dan duduk di sofa tamu yang sebelumnya Nek Ira bersihkan menggunakan tangan sendiri agar tidak terlalu kotor.
Damian sangat menyayangkan perlakuan Nek Ira padanya. Padahal Damian tidak mempermasalahkan sofa itu bagus atau jelek, bersih atau kotor. Ia tidak peduli sama sekali selain bisa duduk dengan nyaman.
__ADS_1
"Silakan duduk! Maaf Sofanya seadanya. Beginilah rumah tempat tinggal kami yang tidak seperti rumah milik, Tuan." Canggung Nek Ira
"Tidak masalah, Nenek. Lain kali jangan seperti ini. Nenek duduklah, aku yakin setelah ini kau pasti akan ke dapur untuk mengambil air minum atau cemilan lainnya. Sungguh itu sangat merepotkan dan jangan menyuguhkan apapun padaku." Kata Damian yang sudah mengambil keputusan lebih awal setelah ia peka bahwa Nek Ira pasti akan melakukan itu.
"Tapi, Tamu terhormat datang dan Nenek tidak menyuguhkan apapun padamu." Tidak enak hati Nek Ira.
"Tidak masalah. Duduklah saja, Nenek! Mana mungkin orang yang lebih tua dariku melayani yang lebih muda, seharusnya aku yang melakukan itu padamu." Titah Damian memaksa.
Nek Ira pun duduk berhadapan dengan Damian. Ia menunggu Damian untuk mengungkap kedatangannya.
"Nenek, Apakah Diana sudah bercerita tentang satu hal terkait masa depannya padamu? Aku harap Diana sudah mengatakannya padamu?" Kata Damian langsung masuk ke topik pembicaraan.
"Mengenai apa? Nenek tidak mendengar apapun yang dikatakan Diana pada Nenek." Kata Nek Ira.
Damian sudah paham saat Nek Ira bertanya "Mengenai apa?" Dari sana Damian sudah tahu jika sebenarnya Diana belum mengatakan apapun pada neneknya atas kejadian tadi sore. Ia langsung putus asa dan merasakan bahwa memang Diana masih menolaknya.
"Memangnya ada apa, Tuan Damian? Yang Nenek tahu, tadi pagi Diana bertemu dengan adik tirinya yang menyebabkan Diana menangis hari ini karena awalnya Diana ingin berjualan, tapi bahan yang ia beli dari uang tabungannya dihancurkan begitu saja oleh adiknya yang tidak sengaja bertemu setelah lamanya. Diana langsung putus asa dan sedih karena itu satu-satunya harapan yang ia miliki dan semua uang pun sudah habis bersamaan dengan bahan yang dibelinya tadi." Cerita Nek Ira menjelaskan.
"Jadi, ternyata ini yang menyebabkan Diana menangis tadi. Adik tirinya sangat keterlaluan!" Geram Damian. Ia sampai mengepal tangannya hingga terlihat urat-urat ditangannya.
Damian pun kembali menstabilkan emosinya walaupun dalam hatinya rasa amarah masih membuncah.
"Agh,,, Iya. Tadi sore aku tidak sengaja melihat Diana tengah duduk sendirian di taman kota sembari menangis." Jujur Damian
Nek Ira mengangguk-angguk paham. Terukir senyum tipis yang tidak jelas di bibirnya. Tapi jika dilihat baik-baik sebenarnya sedang tersenyum. Nek Ira sendiri entah mengapa muncul tiba-tiba perasaan senang dalam hatinya.
"Tapi sayangnya Diana sudah tidur, mungkin dia lelah karena seharian ini ia menjalani hidup yang rumit dan membuatnya menangis." Kata Nek Ira
"Dan, Tuan sendiri keperluan apa yang membawamu datang kesini? Masa depan apa yang perlu Diana bicarakan?" Imbuh Nek Ira bertanya untuk melanjutkan topik Damian.
"Agh, Emm... Nenek, Awalnya aku sudah mengatakan ini lebih awal pada Diana. Tapi sepertinya Diana membutuhkan banyak waktu untuk mengatakannya langsung padamu. Tapi, aku sendiri yang akan mengatakannya padamu." Ujar Damian. Nek Ira sangat memperhatikan kata demi kata yang keluar dari mulut Damian. Nek Ira sangat kagum dengan gaya bicara Damian yang sangat tenang, berkelas dan terdengar cerdas itu.
"Orang cerdas, saat berbicara pun dia sangat berbeda. Aku bisa merasakan kelemahlembutan dalam diri Tuan Damian. Andai saja Tuan Damian adalah pendamping Diana. Maka hidup dan mati ku akan lebih tenang. Tapi tidak mungkin, Tuan Damian berasal dari keluarga terpandang." Ungkap Nek Ira dalam hatinya.
__ADS_1
"Iya Tuan Damian, katakan saja!" Ujar Nek Ira
"Kedatangan ku kemari ingin melamar Diana dan meminta restu darimu. Aku... INGIN MENIKAHI DIANA!!!" Ungkap Damian akhirnya langsung pada inti kedatangannya setelah melewati beberapa kecanggungan atas ketidakyakinannya.
DEG!!
Nek Ira sangat terkejut, terhenyak, terjungkal, dan Ter lainnya. Jantungnya seketika berdebar cepat akibat senang. Senyum merekah mengembang di bibirnya begitu lebar. Matanya sangat berbinar menatap Damian yang panas dingin setelah mengungkap keinginannya itu takut ditolak pula oleh Nek Ira.
"Benarkah?? Tuan Damian, Ingin, Menikahi Diana??" Ucap Nek Ira terbata-bata akibat kelu karena orang lain tidak tahu kebahagiaannya kali ini.
"Iya Nenek. Aku harap kau menyetujui hubungan ini. Aku berjanji akan menjadi orang terdepan untuk membahagiakan Diana, karena aku tahu hidupnya sangat sulit dan rumit dari dulu hingga sekarang ini. Dari awal saat kami bertemu, aku menemukannya menangis di bawah guyuran hujan, dan setiap kali bertemu dengannya aku selalu melihat dia menangis." Kata Damian
Lalu, berkata kembali
"Aku pikir akibat dari tangisannya disebabkan oleh ku karena aku yang selalu saja melihatnya menangis. Jadi, aku ingin sekali mengubah kesedihannya itu. Dia pantas untuk bahagia Nenek... Aku berjanji akan menjaga cucu kesayangan mu itu." Imbuh Damian
"Dan ini, Ini adalah cincin lamaran yang ku bawa untuknya. Setelah Diana menerima cincin lamaran ini, aku akan segera melangsungkan pernikahan kami." Ucap Damian sembari mengeluarkan kotak cincin lamaran yang ia kocek dari saku jasnya.
Nek Ira sangat kagum melihat keindahan cincin itu. Selain aksen mewah, harganya pun pastinya sangatlah mahal. Tapi bukan itu yang Nek Ira pentingkan, bukan masalah harta yang menjadi hal utama agar Diana bahagia.
"Baru saja nenek mengungkapkan keinginan agar Diana segera mendapatkan pria yang bisa membawanya pergi dari rumah ini. Dan sekarang Tuhan sudah mengabulkannya lebih cepat dari yang nenek kira." Ujar Nek Ira sangat senang bahkan rasa senangnya hari ini tidak bisa tertandingkan dengan hal lain.
Lalu, berkata kembali
"Tapi, bagaimana dengan Diana sendiri? Bukankah Tuan sudah mengungkapkan pada Diana lebih awal." Tanya Nek Ira
"Diana menolak! Dia bersikeras untuk menjalaninya sendiri. Dari prinsipnya ingin menerima sebuah lamaran, harus dia sendiri yang mencintai seseorang. Dan aku paham, disini hanya aku saja yang mencintai Diana, tapi berbeda dengannya yang tidak mencintai siapapun. Diana masih trauma terhadap seorang pria setelah mendapatkan perlakuan buruk dari ayahnya sendiri, maka dari itu dia tidak percaya pada pria manapun, Nenek." Pungkas Damian menjelaskan.
"Tolong yakinkan Diana. Mungkin setelah Nenek yang berbicara, Diana akan luluh dan percaya padaku bahwa aku benar-benar mencintainya tanpa alasan apapun." Imbuh Damian berkata kembali.
"Nenek akan mencoba membujuknya. Walaupun sulit, nenek akan pastikan Diana ingin menerima ketulusan mu."
__ADS_1
Jawab Nek Ira yang sudah memberi lampu hijau mendukung hubungan Damian dengan Diana.
"Tidak perlu ada di pihaknya untuk membujuk ku!!!" Gertak Diana dari belakang. Ia sedang berdiri di depan pintu kamarnya yang muncul di sela perbincangan Nek Ira serta Damian dan langsung berteriak.