Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 48 : Perkosa


__ADS_3

"HAHAHAHA, Jangan mengelak Diana, aku tahu kau seorang pela*cur, 'kan? Itu kenapa kau bisa ada di Pigalle saat itu. Tapi kau munafik menolak kenikmatan yang akan ku berikan padamu." Pungkas Marvin menyeringai


Marvin, kini telah kembali pada sosoknya yang hiper*seksual. Dia tidak akan mengampuni siapapun wanita yang sudah membuatnya tidak senang atas penolakan dari keinginannya. Dorongan itu, ia lakukan hanya karena tergila-gila pada Diana.


"AKU BUKAN WANITA SEPERTI ITU BAJI*GAN!!" Diana kembali menaikkan suaranya karena kesal, bahkan ia sampai mengumpat dan tanpa ia tahu jika umpatannya itu membuat Marvin semakin marah, ia menatapnya dengan mata berkilat.


Diana menatap kakinya yang bebas saat Marvin membungkukkan tubuhnya, sepertinya Marvin berniat untuk menciumnya, dan dengan cepat ia menendang masa depan Marvin membuat Marvin mengaduh kesakitan.


la segera berdiri dan berlari dengan cepat menuju pintu keluar selagi Marvin kesakitan, ia membuka handel pintu dengan tidak sabaran, sayangnya pintu tersebut tidak kunjung terbuka juga karena sepertinya Marvin sudah menguncinya jauh sebelum Diana menyadari hal itu. Diana berniat menghubungi seseorang untuk meminta bantuan, namun saat ia mencari ponselnya ia merutuki kebodohannya meninggalkan ponselnya di dalam tas miliknya yang berada di ruangannya.


"Hahahaha... Kau ingin melawan seorang Marvin sekarang? Tidak ada satupun mangsa yang sudah ku dapatkan lepas begitu saja dari tangan ku. Pintunya sudah ku kunci... Hahaha..."


Diana melihat Marvin yang tengah berlari ke arahnya dengan langkah sempoyongan membuatnya sangat ketakutan, Diana pun mencoba mempertahankan diri untuk menghindar ke ruangan lain yang ada di sana. Saking terburunya tanpa sadar sepatu heels terlepas karena itu membuatnya hampir terjatuh, ia terus menghindar dari Marvin yang mengikutinya.


Sayangnya Diana seperti memancing hasrat Marvin, Ia malah masuk ke ruangan kamar pribadi Marvin yang ada di perusahaan dan di sana ia terjebak karena tidak ada celah lain untuk kabur dan Marvin pun sudah ada dekat di hadapannya.


Marvin dengan cepat menahan pergelangan tangan Diana lalu mendorongnya, membuat tubuh mereka tersungkur tepat di atas ranjang.


Marvin mendorong tubuh Diana sampai ke sudut ranjang membuat punggungnya menabrak tembok yang ada di belakangnya dan tiba-tiba ia mencium Diana dengan ganas.


Diana mendorong tubuh Marvin tapi tidak berhasil karena tubuhnya yang sudah semakin lelah.


"Hah... hah..." Diana menghirup udara di sekelilingnya dengan rakus seolah ia berebut oksigen dengan pria di depannya itu karena Marvin menciumnya dengan brutal, bahkan ujung bibirnya sampai berdarah.


KRAK!!


"AAAHH, JANGAN..." Marvin menyobek baju Diana sampai memperlihatkan bra merah yang ia kenakan, dan dengan susah payah ia menutupi dadanya, tapi dengan cepat lelaki itu singkirkan.


Wajah seram Marvin menatap Diana dengan pandangan mendamba, lalu ia menciumi leher Diana sampai leher gadis itu basah di buatnya, dan semakin lama ciuman itu semakin turun.

__ADS_1


Diana mengedarkan matanya mencari alat yang mungkin bisa membantunya, dan tanpa sengaja matanya melihat sepatunya yang tinggal sebelah tergeletak tidak jauh dari tempatnya, dengan susah payah tangannya meraih sepatu itu lalu memukulkannya ke kepala Marvin membuat lelaki itu mengaduh kesakitan, la pun tidak ingin menyianyiakan kesempatan ini untuk lari menjauh dari Marvin sejauh-jauhnya. Tapi harus kemana ia lari, pintu depan terkunci.


Diana berdiri tapi Marvin menarik ujung dress dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang kepalanya yang berdarah, dan terjadilah adegan tarik menarik diantara mereka sampai akhirnya roknya sobek namun berkat itu Diana bisa terlepas dari Marvin.


Dengan langkah sempoyongan karena tubuhnya yang semakin lelah serta kakinya yang terasa nyeri Diana mencoba mendobrak pintu itu sendiri dan menggedor-gedor siapa tahu dari luar ada yang bisa menolongnya.


Duk ... duk ... duk


Diana pun berinisiatif untuk mencari keberadaan kunci tersebut. Belum sempat Diana melangkahkan kaki, dia pun berlari dengan tergopoh-gopoh mencari tempat persembunyian yang aman untuknya, Diana menghampiri jendela dan membiarkannya terbuka untuk membuat tipuan jika Marvin akan berpikir bahwa Diana melarikan diri melalui jendela, sampai pada akhirnya ia memutuskan bersembunyi di bawah meja.


Terdengar langkah kaki Marvin berjalan mendekat ke arahnya.


"Aku tahu kau masih di sini, Diana. Mustahil rasanya kau kabur melalui jendela sampai melompat. Kau pikir, kau cukup lebih pintar dengan ku." Mendengar suara Marvin yang terdengar sangat dekat dari tempat persembunyiannya membuat Diana menutup mulut sampai hidungnya sendiri agar ia tidak mengeluarkan suara napas terlalu keras.


"Keluarlah atau aku akan menghampiri mu!"


"Eeemm..." Diana semakin mengeratkan tangannya yang menangkup mulutnya saat ia melihat sepasang kaki dengan celana hitam yang sudah lusuh berdiri di depannya.


"Ketemu!! Hahaha ..."


Kyaa!!


"Tolong jangan! Biarkan saya pergi..." Tangis Diana pecah


"Bodohnya kau bersembunyi di bawah meja. Kenapa tidak langsung menerjunkan diri dari jendela ke bawah, itu akan semakin membuat ku lebih percaya." Ujar Marvin menyeringai


"Saya mohon jangan hancurkan saya, Tuan. Saya masih memiliki masa depan yang panjang." Ucap Diana sambil menangis, ia tahu bahwa Marvin akan memper*kosanya


"Masa depan? Apakah Tuhan memberikan mu masa depan? Masa depan mu sudah tidak ada sejak kau mengambil uang ku untuk pengobatan nenek mu itu dan menyerahkan dirimu sendiri tanpa memikirkan masa depan kau tidak digaji dan akan mendapatkan uang dari mana?!" Kata Marvin mengejek, masih memegang erat tangan Diana

__ADS_1


Diana menyadari apa yang dikatakan Marvin itu benar. Ia hanya semakin menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya yang entah akan bagaimana saat ini.


"Kau itu sangat cantik, kau memiliki mata yang indah, tubuh proporsional yang sekarang akan ku rasakan... Hahaha..." Tawa Marvin menggema di seisi ruangan


"Kau menginginkan ini, bukan??" Imbuh Marvin menunjukkan sebuah kunci pintu


Diana meraih kunci itu. Namun, Marvin dengan cepat melemparnya ke sudut ruangan.


"Oopss... Kuncinya hilang!" Ejek Marvin


Meski hampir menyerah untuk menyerahkan tubuhnya, Diana tetap ingin mempertahankan harga dirinya, Begitu Diana melihat sebuah gelas wine di meja dekatnya ia memiliki akal untuk mengambilnya secepat mungkin dan menghancurkannya ke lantai sampai pecah.


Diana mengambil bagian pecahan yang cukup besar, lalu menyodorkannya pada Marvin dengan ancaman nekat akan melukai Marvin jika ia berani macam-macam pada Diana.


"Jika kau berani mencoba lebih dekat lagi, aku tidak akan segan melawan mu menggunakan ini!!" Ancam Diana penuh penekanan


Bukannya merasa takut dengan ancaman Diana, Marvin malah semakin lebih tertantang.


"Kau pikir aku takut ... Uhh... Aku sangat takut! Hahaha..." Pungkas Marvin malah mengejek dengan mempermainkan Diana


Srreeaaatt...


Ternyata Diana tidak berbohong. Begitu Marvin sedang menertawakannya, Ia dekatkan pecahan gelas itu hingga melukai pipi Marvin hingga mengeluarkan darah segar.


Marvin sangat terkejut dengan serangan Diana yang membuat luka robek sedang di pipinya. Begitu Marvin lengah, Diana menggigit tangan Marvin yang memegangnya sampai Marvin teriak kesakitan hingga menimbulkan bekas gigitannya.


Begitu lepas, Diana berniat ke sudut ruangan untuk mencari kunci tersebut yang sempat di lempar.


Namun sayang, Nasibnya begitu nahas. Diana menginjak pecahan gelas yang ia lempar sendiri sampai menancap di telapak kakinya dan ia terjatuh hingga meraung kesakitan.

__ADS_1


Melihat hal itu, Marvin merasa sangat senang. Ia menyeringai Diana dengan tatapan mengejek, yang awalnya unggul untuk membela dan melepaskan diri, ternyata menimbun lubang sendiri hingga akan bisa lari kemana ia saat ini.


Bersambung ✍️


__ADS_2