Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 30 : Operasi Berhasil


__ADS_3

Operasi Neneknya pun berjalan dengan lancar malam hari tadi dan saat ini masih berada di rumah sakit untuk pemulihan. Saat pagi hari, Nek Ira telah siuman.


Diana sendiri telah membaik dari sakitnya dan segera memutuskan untuk menjaga Neneknya setelah operasi selesai dilakukan pukul 02.00 dini hari tadi.


Diana membuka matanya dengan berat, saat ia merasakan sebuah tangan yang mengusap pucuk kepalanya dengan lembut, samar-samar ia melihat wajah Neneknya sedang menatapnya, ia meregangkan ototnya yang terasa kaku karena ia tidur dengan posisi duduk, beberapa jam ia tidur di rumah sakit menjaga Neneknya tepat di sebelah neneknya.


"Nenek sudah bangun? Akhirnya Nenek siuman juga. Apa ada yang Nenek butuhkan?" Tanya Diana sangat senang Neneknya telah sadar setelah operasi semalam dan beberapa hari sebelumnya


Nenek Diana menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis di wajah pucatnya.


"Tidak, Nenek hanya berpikir sudah berapa lama Nenek terbaring di rumah sakit. Apa yang terjadi pada Nenek?" Melihat Neneknya tersenyum walau dengan wajah yang pucat membuat Diana juga ikut tersenyum, Diana meraih tangan Neneknya lalu menggenggamnya.


"Nenek tak perlu khawatir dan takut lagi. Sekarang Nenek sudah sembuh dan bisa menemaniku terus di dunia ini." Jawab Diana bergetar


"Nenek tidak ingat. Terakhir kali ingatan Nenek sedang bekerja, tapi kenapa bisa ada di sini? Sudah berapa hari Nenek ada di sini?" Masih linglung Nek Ira


"Nenek tidak boleh banyak pikiran. Nenek baru saja tersadar dan lebih baik istirahat saja lagi, ya."


"Aku tidak mungkin menceritakan apa yang terjadi pada Nenek sebenarnya saat ini. Dia masih terlihat kebingungan, dan baru saja sadar, aku tidak ingin Nenek langsung memikirkan penyakitnya dan biaya operasi rumah sakit itu. Dia pasti akan banyak bertanya yang membuatnya sampai khawatir..." Gumam Diana sambil menatap getir Neneknya


"Rasanya Nenek ingin pulang saja, Diana." Gundah Nek Ira


"Oleh karena itu, Nenek cepat sembuh, setelah nenek sembuh ayo pulang bersama Diana." Nek Ira kembali tersenyum, ia menganggukkan kepalanya


"Tapi, Apa yang terjadi pada Nenek selama ini?" Tanya Nek Ira lagi tak akan tenang sampai ada seseorang yang bisa menjelaskan padanya kenapa bisa terbaring di rumah sakit


"Diana, kau di sini." Percakapan Nenek dan cucu itu terpotong saat suara seorang pria menginterupsi percakapan mereka, yang tidak lain adalah Dokter Jeremy


Dokter Jeremy datang di saat yang tepat. Itu membuat Diana yang belum bisa menceritakan masalah Neneknya menjadi sedikit tenang dan bisa menghindar dari sebuah jawaban untuk neneknya.


"Ah Dokter, aku di sini sejak pukul 02.00 dini hari tadi." Jawab Diana


Dokter Jeremy menganggukkan kepalanya mengerti, ia datang bersama seorang suster yang membawa beberapa alat.

__ADS_1


"Baiklah. Syukurlah Bu Ira sudah siuman. Betapa sangat khawatirnya kami melihat Bu Ira terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sekarang waktunya pemeriksaan, Bu." Kata Dokter Jeremy ramah disertai senyuman tipis dari suster yang datang bersamanya


Dokter Jeremy memang tidak hanya dekat dengan Diana, tapi juga dengan Neneknya, Nek Ira tahu jika selama ini Jeremy yang selalu membantu saat di masa lalu, ia juga tahu Jeremy pernah terlibat cinta segitiga dengan ibunya Diana, dan betapa baiknya Jeremy yang tidak pernah membawa masa lalu menyakitkannya itu.


"Baiklah jika begitu. Nenek, Diana ke toilet sebentar ya, Diana ingin mencuci muka." Izin Diana pamit


Nek Ira mengangguk masih dengan senyum di ujung bibirnya.


Selanjutnya Dokter Jeremy bersama susternya melakukan pemeriksaan rutin, seperti memeriksa tekanan darah, menyuntikkan beberapa vitamin, serta menanyakan beberapa hal tentang keluhannya.


"Nah, kondisi Ibu sudah semakin membaik dari sebelumnya. Ibu harus rutin minum obat jangan sampai lupa, ya." Kata Dokter Jeremy


Nek Ira mengangguk mengerti.


"Ibu jangan terlalu banyak berpikir juga." Timpal suster sambil membereskan alat-alat, karena pemeriksaan sudah selesai


"Benar. Dan untuk saat ini, Ibu hanya tinggal masa pemulihan agar kondisi Ibu semakin fit seperti anak muda lagi." Balas Dokter Jeremy sambil mengacak bercanda


Dokter Jeremy menyangka apa yang akan dikatakan Nek Ira sangatlah serius, ia memberi isyarat kepada suster untuk keluar terlebih dahulu dan suster itu menurut tanpa bertanya.


"Ada apa ibu?"


"Ibu minta tolong katakan apa yang terjadi pada ibu selama ini. Sudah berapa hari dan as penyebabnya bisa ada di sini?" Tanya Nek Ira yang mengganggu pikirannya dan kini ditanyakan pada Dokter Jeremy


"Sepertinya Diana pun tidak ingin bercerita apa-apa pada Neneknya. Ia enggan mengatakan semua yang terjadi selama Neneknya sakit." Gumam Dokter Jeremy pun berspekulasi


"Aagghh... Tidak ada Ibu. Ibu hanya kelelahan saja dan setelah sembuh total ibu sudah bisa pulang nanti." Balasnya


"Ibu masih tidak percaya. Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan dari Ibu."


"Percayalah Ibu. Kau sudah menganggap ku seperti anak mu sendiri, bukan. Bagaimana mungkin aku berani membohongi mu dengan semua diagnosa palsuku." Ucap Dokter Jeremy meyakinkan


Tatapan Nek Ira tak lekat dari pandangan yang sangat dalam menatap manik Jeremy yang berbola mata coklat itu.

__ADS_1


"Sudahlah. Ibu baru sadarkan diri. Untuk saat ini jangan dulu memikirkan hal yang tidak penting."


Nek Ira pun menurut dan mencoba seperti apa yang diperintahkan Dokter Jeremy untuk tidak memikirkan apapun saat ini. Tapi rasanya sangat sulit.


"Ibu minta tolong, ajak Diana makan, anak itu sulit untuk makan jika hatinya sangat sedih. Wajahnya terlihat pucat dan ibu tahu jika anak itu pasti jarang sekali makan, Jadi tolong paksa dia untuk makan, ya. Masalahnya ibu tidak tahu apa saja yang terjadi selama ini."


Dokter Jeremy melemparkan senyuman kepada Neneknya Diana, ia janji akan mengajak Diana makan tanpa rasa keberatan. Toh ia tahu bahwa Diana baru bangun dari sakit.


...***...


Marvin akhirnya sampai juga di Pigalle, tempat pelelangan seorang wanita perawan yang sering diadakan setiap tahunnya itu dan setiap harinya dijadikan club untuk berkumpulnya para hidup belang. Sesampainya ia langsung mengedarkan matanya mencari seorang gadis yang telah ia berani bisa mendapatkan pelelangan itu dengan bayaran mahal dan ikatan janjinya itu.


Padahal suasana masih pagi. Tempat itu tidak terlalu ramai, hanya ada seorang wanita komersial yang bekerja di sana karena para pemakai akan kembali berdatangan ramai-ramai sore hingga malam hari nanti.


Matanya terus menjelajahi seluruh club tapi ia tak kunjung menemukan gadis yang ia cari. Marvin tidak akan mungkin kehilangan gadis yang sudah mengikat janji dengannya, ataupun mungkin seorang wanita penipu yang membawa kabur uangnya tanpa melakukan apapun saat ada alasan mengapa ia ingin mendapatkan pelelangan wanita itu.


"Apa ia tidak kembali ke sini dan menipu untuk membawa kabur uangku?" Pikir Marvin


Sampai akhirnya tak jauh dari tempat Marvin berada, Tarisa yang merupakan teman SMA Diana dulu dan membawa Diana mengikuti pelelangan club' nya melihat seorang pria yang membelakangi seperti sedang mencari seseorang, sehingga ia meminta izin kepada kliennya untuk menghampiri Marvin sebentar, karena sepertinya Marvin sedang perlu bantuan.


"Hai Tuan, Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Tarisa sopan tapi masih terdengar sedikit nada menggoda, atau memang seperti itu gaya bicara gadis itu? Entahlah...


Marvin menoleh menatap Tarisa heran, Ia langsung mengenali wanita dihadapannya karena ia adalah MC yang membuat acara pelelangan kemarin berlangsung. Marvin menatap Tarisa dari atas sampai bawah dan setelah itu ia bisa menyimpulkan jika Tarisa sendiri salah satu pelacur di tempat ini.


Setelah Marvin menoleh tiba-tiba tubuh Tarisa sedikit menjengkit, karena ternyata ia mengenal pria dihadapannya saat ini.


"Ah... bukankah Tuan pemenang 10 Milyar?" Pekik Tarisa


Marvin mengerutkan keningnya sampai pada akhirnya ia mengerti maksud wanita itu jika ia pemenang lelang yang berani membayar 10 Milyar hanya untuk seorang wanita, ia menganggukkan kepalanya, segitu terkenalnya kah dia di club ini? Pikir Marvin


"Ada apa Tuan kembali ke sini lagi? Apa Tuan ingin memesan salah satu wanita di club ini? Seharusnya jika ingin bermain-main datang malam hari, tapi bukankah Tuan sudah memiliki mainan sendiri, ya. Jadi tidak perlu jauh-jauh datang kemari. Pasti wanita yang kemarin sangat memuaskan anda ya, Tuan." Kekeh Tarisa menggoda Marvin


"Apa kau tahu gadis yang tempo hari mengikuti lelang?"

__ADS_1


__ADS_2