Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 60 : Ciuman Ungkapan Perasaan


__ADS_3

"Nenek akan mencoba membujuknya. Walaupun sulit, nenek akan pastikan Diana ingin menerima ketulusan mu."


Jawab Nek Ira yang sudah memberi lampu hijau mendukung hubungan Damian dengan Diana.


"Tidak perlu ada di pihaknya untuk membujuk ku!!!" Gertak Diana dari belakang. Ia sedang berdiri di depan pintu kamarnya yang muncul di sela perbincangan Nek Ira serta Damian dan langsung berteriak.


Diana berjalan lebih dekat menghampiri mereka dan keduanya tampak langsung berdiri.


"Nenek tidak perlu membujuk ku karena aku sudah menolaknya dari awal. Biarkan saja Tuan Damian segera pergi dari sini karena ini sudah malam. Silakan Tuan Damian, pintu keluar ada di sana!" Dingin Diana berbicara sambil menunjuk ke arah pintu.


"Diana, biarkan aku bicara sebentar dengan mu. Aku mohon... ini adalah pertama kalinya aku memohon pada orang lain bahkan pada seorang wanita." Kata Damian memohon.


"Benar Diana. Kau tidak langsung memutuskan sesuatu tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu dari Tuan Damian. Niatnya sangat tulus untuk menikahi mu." Ikut Nek Ira meyakinkan.


Damian mengangguk benar, setuju pada perkataan Nek Ira sembari melihat Diana yang tampak masih marah padanya. Wajah Damian penuh dengan memelas.


Diana merasa terpojokkan dan semua orang bahkan neneknya sendiri seperti menyalahkan dirinya. Pada akhirnya Diana setuju, ia langsung saja pergi keluar mendahului Damian untuk mengajaknya berbicara di luar.


Damian pergi menyusul sambil masih memegang kotak cincin itu.


Diana tampak membelakanginya dan Damian tampak ragu untuk berada dihadapan Diana.


Mereka pun saling berhadapan karena Damian yang penuh keberanian untuk meluluhkan hati sang pujaan hatinya.


Mereka mulai berbicara berdua di sana.


"Aku ingin bertanya padamu, Sampai kapan kau akan menghindar?" Tanya Damian yang memulai pembicaraan.


"Sampai kau berhenti menyerah." Jawab dingin Diana.


"Aku tidak bisa. Kau sudah mendengar semuanya mengenai perasaan ku dari awal."


"Tuan Damian, Sudah cukup!! Tidak ada harapan untuk kita berdua."


"Sekali saja ungkapkan masalah tersebar mu di mana?"


"Banyak sekali wanita yang mengejar mu, Tuan. Saya bukan wanita yang sesuai dengan ekspektasi, Tuan."


"Apa kau sendiri tahu bagaimana wanita ekspektasi ku??"


Diana tertegun.

__ADS_1


"Tuan tidak akan bisa menikahi seorang wanita yang tidak memiliki kemampuan apapun di dunia ini. Hubungan kita akan sulit lebih dari yang dibayangkan ketika melihat anda sendiri orang yang terpandang."


"Diana, Aku sangat mencintai mu. Entah harus berapa kali aku mengatakan kalimat ini padamu." Ujar Damian. Dari sana ia langsung memeluk Diana sangat erat.


"Apa itu cinta? Kenapa anda bisa mengatakan hal semudah itu? Kita baru saja tidak lama ini bertemu. Tuan tidak kenal siapa diriku, dan aku pun tidak mengenali, Tuan. Yang aku tahu Tuan adalah petinggi sebuah perusahaan yang terkenal. Itu saja sebatas perkenalan kita!" Gertak Diana mencoba melepaskan pelukan Damian dan akhirnya terlepas setelah mendorong kuat.


Terjadilah perdebatan diantaranya.


"Aku tahu segalanya tentang dirimu. Tapi bisakah kau membuatku yakin apa yang bisa agar aku berhenti mengejar mu. Beri aku satu jawaban dan alasan yang membuat yakin dari jawaban lainnya." Kecam Damian penuh penekanan.


Lalu, berkata kembali


"Tapi, apapun penjelasan mu, aku akan tetap mencintai mu dengan segala risikonya." Imbuh Damian akan perdebatannya.


"Jika perbedaan sosial ekonomi kita masih belum cukup untuk mu, maka jawabannya memang aku tidak mencintaimu."


Damian sangat geram bahkan ia sendiri menelan salivanya kasar.


"Apakah kedua hal itu sangat dipentingkan dalam membina sebuah hubungan?? Berbicara mengenai sosial ekonomi, tidak ada perbedaan diantara kita. Kau sendiri berasal dari keluarga kaya yang hanya diasingkan oleh ayah mu sendiri. Apa yang membuatmu berbeda denganku? Apa kau terlahir miskin sejak dari kecil? Tidak bukan, kau hidup mewah bersama ayah dan ibumu dulu."


"Itu dulu! Tap- ..." Bicara Diana terpotong karena Damian tidak ingin Diana yang terus bicara sehingga tidak memberikannya celah sedikitpun.


Lalu, berkata kembali


"Jika pun kau trauma terhadap perlakuan ayahmu dan juga Keburukan Marvin yang dilakukan padamu. Sampai kapan kau akan bertahan?? Kau sendiri harus melawan keterpurukan itu." Pungkas Damian lagi


Sedari tadi Diana hanya menangis dan kini malah semakin tersedu-sedu. Dia hanya menjadi pendengar saat Damian berbicara tanpa tahu harus menjawab apalagi agar Damian berhenti.


"Diana, apa kau masih ingat dengan pertemuan kita pertama kalinya dan beberapa pertemuan yang lainnya? Pertemuan pertama, aku yang menolong mu saat hujan deras mengguyur mu, apakah selain aku selama kau ada di sana ada yang peduli padamu? Kedua, pertemuan yang unik saat kau mengira aku seorang pencuri yang membawa mobil mu tapi untuk kedua kalinya aku menolong mu dengan mengembalikan mobil itu meskipun kau kehilangan pekerjaan mu."


Lalu, terus berkata


"Ketiga, Aku memang bersikap lancang padamu karena terjadi kesalahpahaman. Dan seterusnya, aku sendiri yang menolong mu dari kesarkasan Marvin yang akan melecehkan mu beserta sudah membayar lunas hutang mu padanya tanpa kau perlu mengganti uang yang ku keluarkan untuk membebaskan mu dari gangguan pria itu. Bahkan tadi sore saja, aku melihatmu menangis dan aku orang yang mengusap air matamu. Bahkan saat ini, aku kembali menghapus air matamu." Pungkas Damian sembari menghapus air mata Diana yang sedang menangis sejak tadi.


"Coba saja pikirkan berapa kali kita bertemu dan hal apa saja yang sudah dilalui sehingga itu terlihat terkesan. Bukankah itu takdir yang selalu mempertemukan kita berdua? Aku sama sekali tidak menganggap sebuah pertemuan kita sebagai balas budimu padaku dengan cara membalas perasaan mu, tapi aku benar-benar tulus mencintai mu." Tanya Damian


"Itu hanya kebetulan." Jawab Diana. Itu membuat Damian geram dan mengusap kasar wajahnya sampai berkacak pinggang frustasi.


"Tidak ada takdir yang kebetulan. Jika takdir sudah berkata, kita pasti akan tetap bertemu." Ujar Damian tidak bosannya memberi nasihat.


Diana kembali terdiam.

__ADS_1


"Diana, berilah kepercayaan padaku maka aku akan membuktikan segalanya. Terima perasaan ku padamu ini."


Damian menghela napas panjang dan menghembuskan kasar. Ia menyeka keringatnya yang bercucuran menggunakan sapu tangannya akibat perdebatan yang sangat melelahkan dan keras kepala.


Damian kembali mengocek saku jasnya untuk mengambil kotak cincin itu. Dia berlutut sembari menyodorkan kotak cincin yang menampilkan cincin indah dihadapan Diana.


"Cincin ini tidak sebanding keindahan dan kebehargaannya dengan dirimu. Cincin ini sangat indah, tapi akan lebih indah apalagi saat kau yang mengenakannya. Inginkah kau MENIKAH DENGANKU DAN MENJADI ISTRIKU SEUTUHNYA??" Ungkap Damian kali ini dia sangat berharap Diana menerimanya.


Diana bergantian menatap antara cincin dan wajah Damian dengan nanar serta ketulusannya yang sangat bersikeras untuk mempersuntingnya sebagai istri.


Batu saja yang merupakan benda hidup akan luluh melihat ketulusan Damian. Mengapa Diana sulit menyadari hal itu?


"Ini terlalu mendadak Tuan Damian. Apakah aku pantas menjadi istrimu di saat wanita lain di luar sana banyak yang mengantri untuk menjadi pendamping mu dan mereka lebih pantas. Aku akui kau sangat baik dan orang yang banyak menolong ku tak lama ini. Aku juga dapat merasakan ketulusan mu. Tapi aku masih bingung bagaimana yang akan terjadi pada keluarga mu, apakah mereka juga akan menerima ku seperti mu tanpa melihat kekurangan ku? Karena pada kenyataannya sekarang, kau dan aku bagaikan permata dan debu yang tidak akan bersatu. Sekalinya hinggap, debu itu akan dibersihkan dari permata karena akan mengotorinya."


"Tuhan, Mungkin ini adalah bagian dari rencana mu yang mempertemukan ku dengan Tuan Damian yang baik ini hingga kami ditakdirkan untuk bersatu. Jika ini memang jalan yang terbaik, Terima kasih engkau sudah mempertemukan ku dengan pria ini, Aku sudah mengambil keputusan sebagai balas budi meskipun dia tidak menganggapnya demikian..."


Batin Diana berkata sepanjang Damian masih berlutut menunggu jawabannya.


"Bagaimana? Kau sudah siap untuk menjadi Nyonya Damian Sander??" Tanya kembali Damian


YA!


Diana mengangguk dua kali dengan tempo pelan diiringi tangisnya.


DEG!


Seketika jantung Damian berdetak sangat kencang. Ia sedikit terkejut mendengar jawaban setelah berubah pikirannya. Damian langsung tergesa-gesa bangkit, ia sangat terharu. Berdiri dihadapan Diana sangat dekat dan memasangkan cincin lamaran yang indah itu di jari manis tangan kirinya.


Nilai cincin itu menjadi sangat indah saat melingkar di jari manis Diana. Sebuah mata berlian pun tampak berbinar menandakan sangat senang Diana menjadi pemiliknya.


Damian tidak henti mengembangkan senyumnya yang terukir merekah sampai lupa bagaimana caranya untuk berhenti tersenyum memandangi Diana yang tidak ada raut wajah terpasang.


Damian memegang tangan kiri Diana yang sudah dipasangkan cincinnya di jari manis, tak lupa untuk mencium punggung tangannya.


Setelah mencium tangan Diana, Damian menarik tengkuk leher Diana dan memajukan sedikit tubuhnya lebih dekat serta perlahan Damian memajukan wajahnya.


Wajah itu terus mendekati bibir Diana. Diana yang terasa membeku hanya bisa menutup matanya tanpa berani bergerak. Dan...


Cup!


Bibir Damian bertemu dengan bibir Diana. Sebuah ciuman yang awalnya merupakan kecupan bibir biasa berubah menjadi ciuman bibir ganas dan bergairah hingga lum*tan demi lum*tan diantara keduanya hingga timbul decakan terjadi dan Diana sendiri membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2