
"Kau akan menjadi simpanan ku saat ini. Kau senang, 'Kan."
Damian mendengar suara isakan Diana yang nyaring membuatnya semakin emosi, lalu mendengar sebuah pembicaraan yang dilontarkan.
"Jangan munafik. Aku tahu kau akan menikmati permainan ku ini."
Begitu menyadari ada ruangan kamar pribadi di ruangan Marvin, Damian langsung mendobrak pintu tersebut menggunakan satu kakinya dalam sekali tendangan.
Brakk!!
Suara pintu di tendang keras dalam sekali hentakkan dan langsung terbuka.
Hal itu tidak menyurutkan Marvin untuk menghentikan aktivitasnya.
Damian menarik tubuh Marvin dari atas tubuh Diana sampai tertarik terbawa olehnya.
Bugh! Bugh!
Pukulan tinju melayang ke arah wajahnya beberapa kali.
"Dasar pria tidak berakal!!" Gertak Damian, rahangnya mengeras
Damian yang terbakar emosi, lalu melompat dan menerjang punggung Marvin membuat Marvin jatuh tersungkur.
la memukul Marvin dengan brutal tanpa perlawanan sedikitpun, sepertinya ia kehilangan banyak darah dari pukulan Diana dan pecahan gelas yang sempat melukai pipinya, ditambah dari lemparan Damian sehingga membuat tubuhnya lemah dan itu menguntungkan Damian.
Damian terus mengarahkan jotosan tangannya ke arah wajah pria brengsek itu berniat menghancurkan wajah pria itu, sampai membuat wajah pria itu babak belur dipenuhi oleh darahnya sendiri.
Damian menghentikan pukulan tangannya saat merasa jika pria itu sudah diam tak berdaya dengan wajah penuh luka, ia menoleh mendapati Diana yang duduk beringsut di pojokan, ia memeluk lututnya dengan tangan gemetaran serta isakan yang membabi buta. Bajunya sobek, memperlihatkan sedikit bra merah yang ia kenakan karena tertutup oleh lututnya yang ia peluk, rok dressnya pun juga sobek sampai di pangkal pahanya, karena posisinya yang sedang memeluk lutut membuat Damian bisa melihat jelas betapa mulusnya kaki gadis ini, andai saja situasinya tidak seperti sekarang mungkin Damian menerjang gadis ini sekarang juga karena dia pria normal dan bagaimana brutalnya Marvin sampai mengekspose bagian penting dari Diana.
Damian mengalihkan pandangannya menuju pria yang tergeletak di bawahnya, diinjaknya kaki lelaki itu dengan keras sampai terdengar bunyi gemeretak karena tulangnya yang patah sebelum akhirnya ia berjalan mendekati Diana dan berjongkok di depannya.
"Aku takut ... hu..hu..hu." Lirih Diana, membuat hati Damian teriris mendengar lirihan gadis itu yang terdengar sangat ketakutan dan menyakitkan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, kau sudah aman sekarang, sudah ada aku di sini. Maafkan aku datang terlambat." Damian membuang napasnya kasar saat ia mendengar isakan gadis itu yang masih ia tahan dengan tubuh gemetaran
Damian melepas jasnya, lalu menyampirkan ke pundak Diana untuk menutupi tubuh gadis itu, lalu di tariknya tubuh Diana ke dalam pelukannya, merengkuhnya dengan lembut dan membelai rambutnya.
"Tenanglah Diana, sudah ada aku sekarang. Kau tidak perlu takut lagi. Ini kesalahan ku yang datang terlambat menyelamatkan mu dari pria breng*sek itu." Suara isakan dari mulut gadis itu semakin keras dalam pelukan Damian
Betapa hancurnya hati Diana melihat kondisi tubuhnya yang sudah berpakaian acak-acakan. Meskipun demikian, kesuciannya belum direnggut oleh Marvin, tapi tetap saja ia mendapatkan pemerkosaan di bagian area bibir dan dada.
Damian berulang kali menenangkan Diana. Tangisnya malah semakin parah, dan Damian merasakan bagaimana tubuh wanita itu memeluknya begitu erat.
Saat tangisan Diana sudah mereda, Damian menghapus air mata yang masih menetes.
"Aku akan mengantarkan mu pulang. Pria itu sudah ku kerahkan pada anak bawah ku untuk membawanya dan dipastikan tidak akan menganggu mu lagi." Ucap Damian sambil menatap dalam manik Diana yang sembap
Diana hanya menatap Damian dengan sendu.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Bicara lembut Damian yang mengulurkan tangannya untuk membantu Diana bangkit
"Darah??" Tegun Damian
Mata Damian kembali mengedar ke arah Diana secara perlahan. Ia melihat bagaimana wanita itu sangatlah tak karuan dan terlihat meringis kesakitan terlihat dari giginya yang bergemeretak. Mungkinkah dugaannya benar, dan Diana enggan bangkit karena kesakitan di area tersebut.
"Diana, Kau bisa berdiri, 'Kan? Kau tenang saja, aku akan membantumu." Ucap Damian
Diana hanya sanggup menggelengkan kepalanya.
Deg!
Damian malah semakin yakin terhadap dugaannya.
"Tidak mungkin!" Tegun Damian lagi dalam hatinya
Dari sana, Diana mencoba bangkit sendiri dengan terseok-seok karena Damian masih sibuk dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Saat kakinya menyentuh lantai, rasa sakit lebih parah kembali menjalar hingga membuatnya terduduk.
Aaakhhh!
Ringis Diana. Damian pun mulai membantu dan melihat kondisi kaki Diana yang tertancap pecahan gelas dan sedari tadi darahnya mengalir ke ranjang. Damian bernapas lega karena ternyata dugaannya salah, tapi ia tetap merasa sakit karena Diana ternyata lebih menderita dari apa yang ia bayangkan, ia harus memberontak sembari menahan rasa sakit di kakinya.
"Kaki mu tertancap pecahan kaca. Kenapa tidak mengatakannya padaku dan mungkin aku akan menghabisi pria itu." Geram Damian
Diana hanya kembali menangis melihat kepedulian Damian padanya. Ia tidak kuasa menahan haru yang ternyata Damian begitu mencemaskannya.
Damian menggendong gadis itu.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit. Tenanglah kau sudah aman sekarang!" Diana menatap Damian dengan pandangan sayu, ia meremas kemeja yang lelaki itu gunakan lalu membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu.
la keluar menuju anak buahnya yang berjaga memintanya untuk memborgol pria yang sudah ia buat babak belur, ketiga anak buahnya itu nampak terkejut tapi Damian hiraukan, ia berlalu pergi menuju mobilnya lalu membuka pintu belakangnya.
"Kau, cepat antarkan aku ke rumah sakit!" Titah Damian memanggil satu anak buahnya untuk menggantikan ia mengendarai mobil
"Baik Tuan..." Salah satu anak buah menghampiri mobil Damian dan kedua lainnya mengurus Marvin yang tidak berdaya
Damian tahu gadis itu sudah lelah, ia lembur sampai malam dan saat ia bekerja ia harus berkejaran dengan pria mesum yang mengincarnya. Waktu pun akan menuju malam, matahari mulai terbenam, dan sudah menunjukkan pukul 17.48. Damian tidak tahu berapa jam Diana menderita.
Di tariklah kepala gadis itu membuat kepalanya bersandar di pundaknya.
"Tidurlah, kau pasti sangat lelah." Kata Damian
Diana memejamkan matanya dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lain, seolah menguatkan dirinya sendiri sembari menahan rasa sakit di telapak kakinya.
Damian memisahkan kedua tangan Diana dan mengubah dengan tangannya, ia menggenggam tangan gadis itu dengan lembut.
"Tenanglah aku akan selalu melindungi mu." Kata Damian sembari mengusap surai gadis itu lembut sampai gadis itu tertidur lelap hingga sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Bersambung✍️
__ADS_1