
1 Minggu Kemudian...
Siang Hari pukul 14.00 WIB...
"Baik, Tuan. Saya akan ambilkan berkas lain di ruangan Saya. Mohon tunggu sebentar." Timpal Diana
Marvin mengangguk dan tersenyum manis pada Diana sebagai jawaban.
Melihat senyuman yang dilayangkan Marvin pada Diana membuatnya merinding. Senyuman pria itu berbeda dari yang lainnya, sebuah senyuman yang penuh tanda tanya padanya berbeda seperti senyuman sebelum-sebelumnya. Diana sendiri sampai tidak nyaman di ruangan itu.
"Diana!" Seru Marvin. Di saat Diana baru berjalan beberapa langkah, dia terpaksa harus berhenti dan berbalik badan.
"Iya Tuan... Anda membutuhkan sesuatu lagi?" Balas Diana
Marvin beranjak dari singgasananya. Ia berdiri dan mengibaskan jas untuk membenarkannya dan berjalan mendekati Diana.
"Sudah lama aku ingin mengungkapkan suatu hal padamu." Kata Marvin
"Hal apa, Tuan?" Tanya Diana kebingungan dan sepertinya kali ini Marvin terlihat serius
"Mengenai perasaan ku padamu!!" Ucap Marvin spontan
Deg!
Diana mengerutkan dahinya. Meminta penjelasan yang lebih agar ia bisa mengerti apa maksud dari perkataan Marvin padanya secara mendadak tanpa ada angin dan hujan.
"Kau sudah lama bekerja dengan ku sudah hampir berapa bulan?" Tanya Marvin
"Yang saya ingat mungkin sudah akan berjalan menuju 2 bulan, Tuan." Jawab Diana
"Selama itu juga, saat pertama kali aku melihat mu, Aku sudah menyimpan rasa. Rasa yang tidak pernah berubah hingga saat ini." Ucap Marvin masih tidak dimengerti oleh Diana
Diana hanya melihat Marvin yang tampak serius sampai mengernyit. Pikirannya masih membeku tidak dapat mencerna perkataan dari atasannya.
"Saat baru pertama kali melihat seorang yang ditemuinya. Seseorang akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku juga seperti itu. Aku jatuh cinta padamu, Diana..."
Cetarrr...
Jantung Diana berdetak lebih kencang berbeda sebelum 3 detik yang lalu. Matanya melotot menatap atasannya tidak percaya.
__ADS_1
"Tu-tuan me-menyukai Saya?" Tanya Diana penuh penekanan setelah dalam waktu yang sangat lama tidak terdengar dari keduanya berkutik apapun lagi.
"Seperti yang keluar dari mulut ku tadi." Jawab Marvin dengan senyumnya
Diana menggelengkan kepalanya terus menerus.
"Ti-tidak Tuan Marvin. Anda tidak mungkin mencintai Saya."
"Cinta bisa tumbuh di hati seseorang kapan saja ketika melihat wanita yang dicintainya. Hati itu seperti tanah yang ditanami benih. Kau sudah menyiram hatiku hingga sekarang benih-benih cinta itu sudah mulai tumbuh." Jelas Marvin
"Tapi Tuan... Jangan cintai Saya!" Kata Diana terdengar khawatir
"Tapi kenapa? Kau juga mencintai ku, bukan?"
"Dari mana Tuan bisa mengetahui Saya mencintai Tuan atau tidak?"
"Dari cara matamu yang ketika melihat ku. Katakan jika kau menerima perasaan ku ini." Kata Marvin
"Tidak. Maaf Tuan, Saya tidak bisa menerima perasaan anda." Kata Diana menolak mentah
Marvin meremang. Raut wajahnya berubah tanpa ekspresi melihat Diana.
"Karena Saya tidak mencintai, Tuan." Jawab Diana
"Kau berani menolak atasan mu? Kau tidak takut Aku memecat mu dari pekerjaan ini. Siapa yang sudah mempertahankan harga dirimu dengan mengambil mu dari tempat keji itu. Apa kau wanita tidak tahu diri yang tidak tahu cara membalas budi?" Bentak Marvin pada Diana yang meremang
"Perasaan seseorang yang tidak memiliki timbul balik tidak bisa dipaksakan, Tuan."
"Perasaan mana yang kau bicarakan? Perasaan yang lebih penting daripada membiarkan kehormatan mu direnggut oleh setiap pelanggan VIP yang datang menjamah tubuh mu. Apa perasaan itu yang lebih penting dalam dirimu? Melihat tubuhmu dijamah orang lain?" Geram Marvin
"Kenapa Tuan berbicara seperti itu? Jangan hanya karena Tuan mencintai Saya dan Saya menolak, Tuan sampai marah, anda tidak bisa menghina Saya. Jika Tuan menolong hanya untuk mendapatkan balas budi dari Saya, lebih baik saat itu Tuan tidak menolong Saya. Dan biarkan pria hidung belang menggeromboli tubuh Saya seperti lalat." Gertak Diana
Diana beranjak dari diamnya, kakinya melangkah dan hendak keluar dari ruangan atasan nya itu setelah mendapatkan perlakuan yang tidak mengenakkan, namun belum sampai tangannya meraih gagang pintu, ia merasakan pinggangnya direngkuh oleh seorang.
"Tuan, lepaskan!!! Lepaskan Saya!!!!" Pinta Diana memberontak
Marvin naik pitam.
Marvin mengeluarkan sebuah sapu tangan yang diberi tetesan obat bius dihadapan Diana langsung.
__ADS_1
Diana memberontak, melemparkan barang yang ada di sekitarnya mengenai Marvin yang berjalan mendekat.
Marvin tak banyak bicara, ia mengangkat tubuh mungil Diana lalu menghempaskan nya begitu saja ke atas sofa di ruangannya. la ikut naik ke sofa lalu mulai mendekati Diana yang tampak ketakutan. Namun, Diana berhasil menyingkirkan Marvin dan menjauh darinya.
"Kenapa kau menolak ku, Hah?! Selama ini tak pernah ada yang menolak untuk menjadi kekasih ku. Kau siapa berani menolak?!" Cecar Marvin dengan tatapan tajam perlahan berjalan menghampiri
"Tu-tuan, Saya mohon biarkan saya pergi." Pinta Diana gemetar
"Tidak akan, aku tidak pernah melepaskan gadis yang sudah aku putuskan untuk menjadi lawanku, termasuk dirimu!" Balas Marvin menolak...
"Tuan, saya akan menerima jika anda memecat saya, tapi biarkan saya pergi, Tuan." Mohon Diana dengan air yang mulai membasahi wajahnya
"Kenapa kau harus menangis, aku mengajakmu untuk menjadi kekasih ku itu tidak cuma-cuma, aku akan membiayai hidup mu dengan uang yang tidak sedikit, termasuk urusan kebutuhan seksual dengan mu!!" Cerca Marvin seraya mulai mengusap kepala Diana
"Tidak, Tuan. Saya tidak ingin!" Tolak Diana seraya berusaha menjauh dari sentuhan Marvin
"Diam! Kau ini hanya gadis biasa yang seharusnya beruntung saja ku jadikan kekasih, jika aku ingin aku bisa saja mendapat puluhan wanita yang lebih cantik dari mu!" Bentak Marvin mulai hilang kesabaran
Refleks ia menendang meja kerja sampai membuat komputernya bergoyang dan tubuh Diana juga terhuyung ke belakang dan akhirnya terjatuh, kepalanya terbentur lantai.
Dengan segera Diana merangkak menjauh tapi ternyata Marvin lebih cepat dari dugaannya, ia menangkap kakinya dan menyeretnya.
"Aaah, tolong lepaskan!" Diana mengaduh saat Marvin menahan kakinya, ia juga menahan kedua tangannya ke atas membuat ruang geraknya semakin terbatas, Marvin menatapnya dengan pandangan menakutkan membuatnya ingin menangis.
"Apa yang kau lalukan, ku mohon lepaskan!" Diana kembali merengek dengan suara bergetar, ia tidak bisa untuk menahan tangisannya karena ia benar-benar ketakutan.
Seolah terasuki iblis Marvin tertawa nyaring sampai suaranya memantul dan menggema di dalam ruangan.
"Kau tanya aku ingin apa? Tentu saja aku ingin tubuhmu." Lontar Marvin berbisik di dekat telinga Diana yang membuatnya semakin geli.
Diana semakin meronta agar Marvin melepaskan tangannya tapi tenaga Marvin ternyata lebih besar dari yang ia kira, di balik tubuh kurusnya ia memiliki tenaga yang cukup kuat walau tidak sekuat tenaga pria.
"Bukankah ini keinginan mu? Menggoda para lelaki dengan rok pendek yang memperlihatkan celana dalammu, tersenyum kepada semua pria, lalu berjalan melenggak-lenggok dengan dada yang kau busungkan. Penampilan mu saat bekerja denganku itu sudah berubah." Vulgar Marvin, yang kali ini Diana memang memakai dress selutut tapi tidak begitu seksi sampai memperlihatkan pahanya, Marvin dengan otak kotornya saja yang menjatuhkan citra seorang wanita.
"AKU TIDAK SEPERTI ITU!!" Di sela tangisnya Diana berteriak membela diri, ia tidak terima Marvin mengatakan hal buruk tentangnya yang bahkan ia sendiri tidak melakukan itu.
Sayangnya ruangan itu kedap suara, sekuat apapun Diana berteriak pasti tidak akan ada yang mampu mendengar rintihannya yang tersiksa bersama Marvin.
Bersambung✍️
__ADS_1