
Di lain tempat, Nyonya Marie memeluk anaknya dengan erat, ia sedang membuat gimbap makanan kesukaan Marvin yang berasal dari Korea.
"Astaga anak nakal ini, kemana saja kau ini hah? Kenapa baru pulang sekarang? Apa kau lupa kau masih memiliki orang tua di sini? Bahkan ibu dengar kau pulang dari sejak kemarin. Kenapa tidak langsung pulang?" Nyonya Marie memukul lengan Marvin lumayan keras membuat Marvin meringis kesakitan
"Aku menginap di hotel, Bu. Sekarang aku sudah pulang ke Mansion, Kan."
"Satu hari kau kembali dari Amerika dan baru hari ini kau pulang, Jika ibu tidak menyuruhmu pulang pun Ibu juga ragu kau akan pulang, sebenarnya kau ini anak siapa sih?" Nyonya Marie mendesis sebal melihat tingkah anaknya yang tidak pernah berubah, sejak ia SMA memang sudah jarang pulang ke rumah, dan sampai besarpun masih sama.
8 tahun ia menempuh pendidikan di LA bergelar S3 dan 2 tahun dikirim ke Amerika oleh Ayahnya. Total menjadi 10 tahun Nyonya Marie terpisah dari anaknya. Akhirnya kemarin ia kembali ke indonesia, bukannya pulang ke Mansion ia malah tidak menampakkan batang hidungnya sedikitpun ke keluarganya.
Marvin hanya tersenyum manis mendengar celotehan ibunya, akhirnya ibunya membuang napas menyerah, ia tidak akan menang melawan pria di depannya ini, semenyebalkannya pria itu tetap saja ia satu-satunya putra kesayangannya.
"Cepatlah naik, Ayahmu sudah menunggu di ruangannya. Jika sudah selesai cepatlah turun dan jangan lupa ajak Ayah mu juga, Ibu sudah mewanti-wanti jika dia akan memberikan satu perusahaan lain di sini untuk mu." Bisik Nyonya Marie kegirangan
Marvin mengangguk lalu ia pergi meninggalkan Ibunya menuju ke lantai 3 di mana ruangan Ayahnya berada menggunakan lift Mansion mereka.
Tok... Tok... Tok...
Marvin mengetuk ruang baca yang juga ruang kerja Ayahnya, sebelum akhirnya ia masuk saat Ayahnya menyahuti dari dalam.
"Sejak kapan kau sampai di Mansion?" Tanya Tuan Brata sesaat setelah ia melihat putra keduanya yang baru saja masuk
"Baru 10 menit yang lalu, Ayah. Aku menemui Ibu dulu sebelum menemui Ayah." Jawab Marvin sembari berjalan menuju sofa di mana Ayahnya berada, ia duduk tepat di depannya.
"Bagaimana perusahaan di Amerika?" Tanya Tuan Brata dingin
"Lancar Ayah, Kak Damian yang sempat menunda kedatangannya ke Amerika sudah terkendali oleh ku." Jawab Marvin membanggakan diri
"Tetap saja Damian harus berangkat ke Amerika. Mereka harus bisa menilai kedua kandidat calon direktur yang akan memimpin perusahaan tempat mereka bekerja. Tanyakan pada Kakak mu, kapan akan berangkat ke Amerika untuk menyelesaikan kekuasaan ini." Titah Tuan Brata
__ADS_1
"Baik Ayah... Akan ku tanyakan pada Kakak nanti." Jawab Marvin yang sebenarnya enggan menyebut Damian dengan Kakak
"Sesuai janji ku sambil menunggu informasi kapan keberangkatan kalian ke Amerika. Ayah sudah menyiapkan satu perusahaan untuk mu yang harus kau penuh tanggung jawab membangun perusahaan itu. Ayah sudah memutuskan agar tidak terjadi permusuhan antara kau dan Damian, Ayah akan memberikan seluruh aset perusahaan dari sekian yang Ayah miliki, Ayah akan berikan salah satunya mengatasnamakan dirimu."
Marvin tidak kuasa menahan rasa senangnya yang tetap ia tahan di depan ayahnya untuk menjaga image.
"Bicaralah dengan Hartanto mengenai perusahaan itu. Dia akan membantumu menjadi seorang direktur di sana." Titah Tuan Brata dingin
"Baik Ayah. Terima Kasih atas kepercayaan Ayah yang sudah ingin memberikan perusahaan itu untukku. Aku berjanji untuk mengembang tanggung jawab itu sungguh-sungguh." Marvin bangkit dari duduknya. Ia mengucapkan rasa terima kasih dengan memberikan penghormatan membungkuk pada Ayahnya.
"Hmm..." Jawab Tuan Brata begitu saja
Marvin pun pamit mengundurkan diri.
Di luar, ia sudah bertemu dengan ibunya. Rupanya Nyonya Marie menguping pembicaraan Marvin dengan Ayahnya.
"Bagaimana??" Tanya Nyonya Marie matanya berbinar-binar
Nyonya Marie kegirangan. Mulutnya membuka lebar dan memeluk Marvin bangga.
"Sudah ibu katakan. Wanita tua itu tidak bisa membuat putranya memiliki seluruh aset milik Ayahnya. Selanjutnya kau yang akan memiliki perusahaan besar di Amerika itu." Ambisi Nyonya Marie
Nyonya Marie pun membawa putranya turun.
Di sana sejumlah makanan sudah tersaji di atas meja makan, tidak lupa gimbap kesukaan Marvin juga sudah tersaji di atas meja tepat di depan kursi Marvin.
"Ibu sudah selesai memasak? Ayo cepat sini keburu makanannya dingin. Kau harus makan banyak karena kau akan menjadi direktur besar nanti." Kata Ibu Marvin sambil begitu banyak menyajikan makanan di piring Marvin
Lalu bertanya,
__ADS_1
"Bagaimana dengan seorang wanita? Apakah kau sudah berkencan? Bagaimana mungkin kan seorang direktur besar belum memiliki istri cantik." Ujar Ibunya bertanya
Marvin tersedak makanannya sendiri untung Ibunya dengan sigap memberikan segelas air yang langsung diterima Marvin.
"Kau ini kenapa makan seperti anak kecil sih? Makan begini saja masih tersedak." Mengomel Nyonya Marie sembari mengusap pelan punggung anaknya
"Ibu.. berhentilah menanyakan pertanyaan konyol seperti itu." Geram Marvin
"Pertanyaan konyol apa maksudmu? Jangan katakan kau masih bermain-main dengan wanita sembarangan ya, Marvin."
Bukannya menjawab, Marvin hanya mengedikkan bahunya sembari kembali memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.
Nyonya Marie, Ibunya sudah tahu jika Marvin sering bermain-main dengan banyak wanita, walaupun semua wanita itu tidak pernah ia bawa pulang, tapi Ibunya tahu semuanya karena temannya Deon dulu pernah menceritakan kenakalan Marvin padanya.
"Kau ini Marvin, sudah berapa kali ibu katakan berhenti bermain dengan wanita yang seperti itu, ingin sampai kapan kau seperti ini? Kau sudah berumur 26 tahun. Ingin sampai kapan kau bermain-main terus? Bisa-bisa jika kelakukan mu santer terdengar ke telinga ayahmu, kariermu pasti akan hancur." Mewanti-wanti Nyonya Marie
"Ibu tidak ingin jika sampai kau memiliki skandal yang bisa menghancurkan masa depan mu." Khawatirnya lagi
"Ibu tenanglah. Sudah sepuluh tahun aku melakoni perbuatan ini. Toh sampai sekarang ibu lihat sendiri tidak akan yang bisa membongkarnya, bukan." Jawab Marvin demikian santai
"Tapi tetap saja kau harus berhati-hati."
"Sudahlah Ibu, aku pulang bukan ingin mendengar nasihat mu. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun sampai aku bisa mendapatkan wanita yang ingin benar-benar membuat ku jatuh cinta padanya."
Nyonya Marie membuang napasnya kasar, anaknya masih tetap saja keras kepala.
"Terserah kau saja lah, tapi jangan lama-lama. Ibu sudah ingin menimang cucu darimu." Nyonya Marie mendesis sebal, jangankan memiliki anak, menikah saja tak pernah terpikirkan oleh Marvin.
Di sisi lain, Nyonya Rosaline mengintip kebersamaan mereka. Mereka terlihat sangat senang melampiaskan kerinduan mereka bersama. Walaupun mereka sedang membicarakan sebuah rahasia besar, hal itu tidak bisa di dengar oleh Nyonya Rosaline.
__ADS_1
Nyonya Rosaline hanya terlihat sedih. Merindukan Damian putranya yang walaupun berada di negara yang sama, ia tidak pernah menginjakkan kaki di tempat tinggal orang tuanya!