
Pukul 19.00 Wib.
Marvin berjalan dengan langkah sombongnya memasuki sebuah hotel yang sudah sangat ia hafal seluk beluknya, walaupun ia belum lama kembali ke Indonesia dari Amerika.
Sepanjang jalannya beberapa pegawai hotel yang sudah mengenalnya menundukkan tubuhnya atau sekedar menyapa Marvin, menanyakan kabar sekedar basa-basi.
Sedangkan beberapa pegawai wanita yang terlihat baru di mata Marvin terus memperhatikan langkah Marvin dengan senyum yang merekah di bibir mereka, tak sedikit yang memukau dan terus berkata 'Waow' setiap kali berpapasan dengan Marvin, sedangkan untuk pegawai lama hanya menatap Marvin berasal dari keluarga sander seperti biasa karena itu bukanlah pemandangan aneh bagi mereka.
Mereka sudah sangat hafal dengan tabiat buruk Marvin yang sering membawa wanita ke hotel ini, bahkan 2 tahun lalu saat Marvin belum dikirim ke Amerika hampir tiap hari ia kesini dan saat itu pula ia akan datang dengan wanita yang lain lagi.
Marvin akhirnya sampai di depan kamarnya, menekan beberapa kata sandi dan segera masuk setelah terdengar bunyi bip.
Kamar dengan nuansa silver, hitam dan putih itu terlihat sangat elegan dan mewah, ini bukanlah sembarang kamar karena ini adalah kamar VIP yang sudah Marvin beli sejak 5 tahun yang lalu, kamar yang selalu menemani malam indahnya bersama wanita murahan yang ia pakai, ah malam indah? Bukan bukan, hanya malam mengasyikkan yang Marvin alami, karena selama ini ia tidak benar-benar menikmati **** yang ia lakukan, ia melakukannya hanya untuk penyalur hasrat birahinya yang sering kali memuncak sekaligus untuk mencari pasangan yang bisa memberikan kepuasan untuknya.
Tapi selama ia memakai wanita manapun, ia tak pernah menemukan wanita yang bisa membuatnya puas, mungkin saja saat ia menemukan wanita yang bisa memuaskannya ia akan berhenti untuk berkelana dan menantang penyakit seksual yang mungkin saja akan di tularkan oleh wanita-wanita yang telah ia pakai, walaupun ia sendiri tidak yakin jika ia bisa berhenti. Apalagi keluarganya belum tahu mengenai tabiat buruk Marvin.
Marvin keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkar di pinggangnya, sedangkan tangan lainnya mengusap kepalanya yang basah dengan handuk.
GREP...
Marvin sedikit terkejut tapi tidak lama ketika tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya, karena ia tahu siapa dia.
"Kau sudah datang sayang." Rayu Marvin kepada wanita yang sedang berada dalam pelukannya. Ia adalah wanita yang Marvin temui sore hari tadi dan berjanjian untuk menemuinya di hotel. Dan benar saja, wanita tidak memiliki harga diri itu datang.
la mendorong handuknya ke belakang sehingga bisa menatap wajah wanita itu, tapi tangannya masih setia mengusap kepalanya dengan handuk.
__ADS_1
Wanita itu menengadah, menatap Marvin dengan senyum merekah. Ia menjinjitkan kakinya lalu mencium bibir Marvin kilat.
"Apa kau baru saja selesai mandi?" Bukannya menjawab pertanyaan wanita itu, Marvin malah melemparkan handuknya jauh entah kemana, ia juga menarik handuk yang melingkar di pinggangnya dengan kasar, lalu melemparkannya. Pikir gadis itu anak keluarga Sander dia terlalu sempurna.
Marvin hanyalah pria biasa yang mempunyai libido se*s tinggi, dengan kondisi tubuhnya yang hanya tertutup oleh sehelai handuk sedangkan di depannya ada wanita seksi yang memakai gaun tipis kekurangan bahan yang bahkan untuk menutupi *********** sendiri yang ukurannya ugal-ugalan tak tahu aturan saja tidak bisa, bagaimana bisa Marvin menahan hasratnya untuk tidak menerkam wanita itu?
Marvin mengangkat wanita itu, wanita itu melingkarkan kakinya pada pinggang pria itu, lalu Marvin mencium wanita itu dengan ganas. Marvin tahu wanita itu memasang filler pada bibirnya tapi bukan itu pointnya, bagi Marvin wanita itu tetaplah wanita yang seksi.
Dengan wajah oriental, kulit putih, dan tubuh yang langsing, walaupun kelewat langsing bagi Marvin tapi karena aset yang ia miliki sangat sensasional itu menutupi kekurangan berat badannya di mata Marvin.
Tring... Tring...
Marvin menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangnya, lalu berdiri mendekati sofa di mana ia membuang ponselnya sembarangan tadi.
la mengetikkan balasan 'Lihat saja nanti' mengirimnya lalu kembali melempar ponselnya di atas sofa, lalu ia beranjak pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan bekas wanita itu, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi ia menoleh menatap wanita yang sedang tertidur lelap di atas ranjang empuknya, sepertinya ia sangat kelelahan setelah 3 jam ia terus berteriak berkali-kali dan puncaknya 5 menit yang lalu, teriakan melengkingnya sangat memekakan telinga memenuhi ruangan kamar hotel kedap suaranya.
"Heh... Wanita murahan." Cerca Marvin
...***...
Marvin mengendarai mobil sportnya dengan santai mengitari jalanan Jakarta yang sudah mulai gelap, ia bersenandung pelan menikmati udara yang sangat bagus malam ini.
Marvin seolah tak peduli pada keluarganya. Bahkan kehadirannya di Jakarta pun belum diketahui ibu atau Ayahnya. Ia malah bersenang-senang menikmati dunia malam di luar.
Marvin meminggirkan mobilnya ke tepian, ia menatap hamparan sungai dari atas jembatan di mana mobilnya berhenti.
__ADS_1
"Sial, aku tak tahu harus menghabiskan malam ini kemana." Kata Marvin kesal sembari memukul setir mobilnya sendiri
"Ku kira wanita tadi oke, ternyata ia lebih murahan dari yang ku kira."
10 menit yang lalu Marvin baru saja keluar dari kamar hotelnya, meninggalkan wanita tadi yang masih tertidur di ranjangnya, ia meninggalkan uang sebesar 50 juta rupiah dengan percuma di sampingnya dengan note yang menuliskan 'Jangan temui aku lagi.'
Tring... Tring...
Marvin membuka ponselnya yang mendapatkan pesan dengan salah satu tangan yang masih memegang rokok.
'Kau ada di mana? Apa urusan dengan wanita tadi belum selesai?'
Tring... Tring...
Satu pesan belum Marvin jawab, tapi sudah ada satu pesan lagi yang masuk dari Deon.
'Apa kau benar tidak ingin datang ke pigalle, katanya gadis pelelangan sangat cantik, apa kau serius tidak penasaran seperti apa gadis itu?'
Marvin tersenyum tipis, ia mematikan rokoknya yang masih tinggal setengah lalu membuangnya.
'OK'
Marvin menekan tombol send, lalu mengendarai mobilnya menuju Apartemen Citrus Pigalle.
"Akhirnya aku memiliki kegiatan. Coba kita lihat bagaimana wanita itu."
__ADS_1