
Kelopak mata Diana bergerak diikuti oleh kelopaknya yang mulai terbuka perlahan. la memperhatikan sekelilingnya yang dipenuhi oleh warna hitam yang nampak tak asing dimatanya, tapi ini bukanlah kamarnya. Untuk kedua kalinya ia terbangun di sebuah kamar yang sama seperti kejadian lalu yang ia pergi dari rumah ayahnya.
Sekelebatan ingatan tadi sore muncul dalam ingatannya membuatnya meringis merasakan rasa sakit yang tidak tertahankan lagi.
Kreeaatt...
Diana mengalihkan pandangannya menuju pintu putih yang bergeser memperlihatkan seorang lelaki yang muncul dari sana dengan balutan pakaian casual yang pas di tubuhnya.
"Diana?" Mata lelaki itu membulat karena terkejut mendapati Diana yang sudah sadar, ia berjalan cepat menuju gadis itu lalu berdiri di sebelahnya berbaring.
"Kau tidak apa-apa? Ada yang masih sakit?" Imbuh Damian bertanya
Diana menggeleng lemah membuat Damian menghela napas lega.
"Apa ada yang kau inginkan? Akan aku kabulkan." Diana menatap Damian dengan tatapan sayu lalu menggeleng.
"Aku hanya ingin minum." Jawab Diana dengan suara parau, jika diingat lagi ia belum minum sejak kejadian tadi sore, dan rasanya tenggorokannya sudah kering kerontang karena terus berteriak.
Wajah Damian terlihat sedikit gelagapan, lalu dengan segera ia meraih minuman yang ada di meja nakas samping gadis itu dan segera membantu gadis itu untuk minum.
"Terima kasih... Tuan." Damian sempat terkejut, matanya berkedip beberapa kali saat mendengar gadis itu yang tiba-tiba mengucapkan terima kasih padanya dengan suara lirih, Tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum tipis.
Diana tiba-tiba membuat wajah terkejut dan dengan segera ia berusaha untuk bangun tapi Damian tahan karena telapak kakinya yang masih diperban karena terluka.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang kau butuhkan? Biar aku ambilkan."
"Aku harus pulang karena nenek ku sendirian di rumah."
Dengan sabar Damian kembali menidurkan tubuh Diana lagi
"Ini sudah malam. Nanti aku akan meminta Asisten ku untuk menyampaikan pesan ku pada Nenek mu. Kau istirahat di sini saja malam ini dan aku akan mengantarkan mu besok pagi."
Diana menggeleng dengan keras lalu kembali berusaha untuk bangun.
"Tapi Nenek akan curiga padaku. Nenek pasti akan sedih jika mendengar kabar ku seperti ini. Tolong jangan beritahu apapun masalah ku pada Nenek."
Damian tersenyum tipis lalu menahan tangan Diana agar tidak berontak.
"Aku tidak akan mungkin menceritakan masalah ini pada Nenek mu sama seperti mu. Aku tahu Nenek mu pasti tidak akan kuat dan akan mempengaruhi kesehatannya. Nanti biarkan Joo yang mengambil handphone mu dan menelepon Nenek mu."
"Aku akan menerima rasa terima kasih mu jika kau ingin berkontribusi denganku untuk menjaga kesehatan dan kesembuhan mu saat ini." Damian membenarkan letak selimut yang gadis itu kenakan, lalu membenarkan letak rambutnya yang sedikit berantakan.
"Bagaimana dengan lelaki itu?" Tanya Diana dengan suara lirih merasakan rasa mencekik dalam dirinya saat mengingat perbuatan Marvin hari ini, tapi rasa penasarannya terlalu besar, keinginannya agar pelakunya tidak lolos dan bisa dihukum sesuai dengan kelakuannya menguasai dirinya.
"Sekarang dia ada di rumah sakit mendapatkan perawatan setelah mengalami penyerangan dariku, kau jangan pikirkan dia lagi karena aku yang akan memastikan dia dihukum seberat mungkin setelahnya, bahkan sampai dunia tidak ingin menerimanya lagi." Diana mengangguk setuju, entah kali ini ia sangat setuju dengan Damian, ia tidak terima diperlakukan seperti itu, dan ia tidak terima jika lelaki itu bisa hidup normal bahkan saat ia masih merasakan sakit pada mentalnya yang bahkan ia sendiri tidak tahu kapan itu bisa disembuhkan, walaupun ia sangat berharap jika masalah ini tidak akan mengganggu masa depannya.
"Tapi dia adikmu, Tuan. Bagaimana jika terjadi perselisihan antara kau dengan keluarga mu?" Ucap Diana
__ADS_1
"Tak perlu dipikirkan. Aku pasti akan lebih membela mu sebagai wanita yang dihina harga dan jati dirinya." Kata Damian
"Oh iya, Kau masih ingat dari kedua pelayan rumah ku Bu Isma, Emma dan yang lainnya?" Tanya Damian, memutarkan topik mengajak Diana berbincang membahas yang lain
"Iya. Saya masih mengingatnya, Tuan. Ini adalah kedua kalinya saya di bawa ke rumah Tuan yang besar ini. Saat itu mereka yang sudah membantu termasuk anda juga." Balas Diana
"Kau tidak tahu bagaimana tadi ekspresi mereka mengetahui ku membawa mu lagi ke rumah ini. Mereka sangat senang melihatmu dan sangat antusias menyambut mu. Bahkan sampai membantumu mengganti pakaian kedua kalinya."
"Saya sangat malu dengan diriku sendiri. Kalian begitu baik pada saya, sampai tidak tahu cara membalas budi terutama pada anda Tuan yang sudah memiliki segalanya."
"Hanya ada satu yang masih belum ku miliki di dunia ini. Aku belum mendapatkan seorang istri seutuhnya yang benar tulus saling mencintai." Lontar Damian
"Aku doakan semoga anda cepat mendapatkan wanita yang akan menjadi istri seutuhnya seperti yang Tuan maksud. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana wanita yang akan dinikahi Tuan itu sangat beruntung memiliki suami yang sangat baik seperti Tuan. Walaupun terlihat emosional, tapi aku mengerti itu demi kebaikan dan bentuk perhatiannya." Puji Diana, meskipun ia tahu bahwa Damian telah merenggut ciuman pertamanya dan bahkan sempat akan memperkosanya juga.
"Wanita beruntung itu adalah kau, Diana. Wanita itu sudah ada di depan ku saat ini. Tanpa sadar kau membicarakan dirimu sendiri." Gumam Damian mengungkapkan perasaannya, andai saja Diana dapat mendengarkan suara hatinya, mungkin ia tak perlu menunda-nunda untuk mengungkapkan perasaannya melalui suara nyata.
"Lalu, Di mana Bu Isma dan Emma?" Tanya Diana disela lamunan Damian
"Tentu saja mereka sudah tidur karena ini sudah malam. Kau juga harus istirahat seharusnya, tapi kau malah terbangun."
"Sayang sekali padahal aku ingin bertemu juga dengan mereka."
"Mereka pun tidak sabar menunggu waktu menjelang pagi. Aku yakin mereka juga tidak bisa tidur karena menunggu pagi yang sangat lama untuk bertemu dengan mu." Balas Damian
__ADS_1
"Sekarang tidur saja kembali. Dan waktu akan berjalan tidak terasa pagi saja nanti ..." Ucap Damian, menidurkan Diana dan membenarkan selimutnya sepundak.
Bersambung✍️