Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 57 : Semakin Hancur


__ADS_3

"Nenek, Dari kemarin pikiran ku selalu gundah sekarang aku harus bekerja di mana, ya. Apakah masih ada tempat yang ingin menerima ku bekerja? Apa nenek memiliki saran langkah apa yang harus aku ambil saat ini?" Lirih Diana. Saat ini ia kehilangan arah, walau bagaimanapun ia masih harus tetap bekerja agar bisa hidup ke depannya.


"Coba saja melamar di restaurant, di hotel, siapa tahu mereka menerima ijazah SMA. Sekalipun itu sebagai office girl atau waiters tapi kau bisa bekerja, jangan ke perusahaan besar karena pasti mereka sangat selektif dalam memilih karyawan, pendidikan saja pasti mereka selidiki." Ujar Nek Ira


"Tapi Nenek, seperti memulai awal yang baru lebih baik. Aku takut satu hal mengharuskan aku harus dipecat lagi, berkali-kali aku bekerja di tempat orang lain selalu saja seperti itu. Bagaimana jika kita membuka usaha?"


"Usaha apa? Membuka bisnis membutuhkan lahan sewa."


"Aku yang akan berjualan keliling, Nek. Nenek bukankah sempat berjualan kue tradisional, di zaman sekarang jarang sekali orang yang melestarikan budaya. Lagipula kue buatan nenek itu sangat enak, tetangga adalah pelanggan terbanyak, aku pernah mendengar mereka membicarakan kue buatan nenek saat acara kelahiran anak kedua Bu Sinta. Kita jadikan saja ini sebagai peluang... Pasti banyak yang berminat. Jika ada jalan lain yang mengarah padaku nanti, aku akan jadikan ini sebagai sampingan."


"Ide mu itu sangat bagus, kau ingin memulai sesuatu yang baru. Tapi, Nenek tidak memiliki uang untuk modal." Murung Nek Ira jadinya.


"Tenang saja, Nek. Aku masih menyimpan uang yang lumayan sekitar 1 juta. Aku akan menggunakan uang ini untuk modal kita membeli bahan-bahan dan perlengkapan lainnya."


"Nenek hanya bisa mendukung mu. Jika itu memang sudah menjadi keputusan mu, Nenek akan membantu." Jawab Nek Ira


"Aku akan memulainya sekarang dan pergi ke minimarket untuk membeli bahan-bahannya. Nenek tulis saja bahan apa yang harus aku beli. Lebih cepat lebih baik bukan, tidak baik menunda waktu sia-sia."


Nek Ira pun mengambil selembar kertas beserta pulpen dan menuliskan bahan-bahan yang perlu Diana beli untuk membuat makanan tradisional sebagai permulaan untuk membuka usaha berjualan.


Minimarket...


Diana sedang berkeliling mencari bahan yang perlu ia beli sesuai daftar belanjaan di rak. Matanya terus menelisik tak lepas dari troli yang ia dorong sembari mencari setiap bahan lainnya.


15 Menit ia menghabiskan waktu berada di supermarket dan akhirnya bahan itu sudah terkumpul semua. Diana segera membayarnya di kasir dengan jumlah total belanjaan mencapai Rp. 678.000 uang yang dihabiskan. Ini adalah pertama kalinya Diana belanja di minimarket dengan jumlah pembelian sangat fantastis. Uang makannya 1 Minggu saja tidak mencapai sejumlah itu. Tapi, ia tidak bermasalah karena uang itu akan beranak nanti, dan harus menyediakan stok bahan banyak agar bisa berjualan setiap harinya.


Setelah berbelanja, Diana bergegas untuk pulang. Diana berjalan kaki untuk pulang karena jaraknya ke rumah sangat dekat, hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk sampai sembari menenteng beberapa kantung plastik yang lumayan berat ditangan kanan kirinya. Ia tidak menaiki transportasi umum untuk menghemat uangnya saja, Toh berjalan kaki menggerakkan otot kaki bergerak, bermanfaat juga bagi kesehatan membantu mencegah penyakit jantung dengan menurunkan tekanan darah dan kadar kolesterol serta memperlancar sirkulasi darah. Anggap saja berolahraga!


Di perjalanan, Diana tidak sengaja menabrak seseorang yang berjalan berlawanan dengannya. Entah Diana yang menabrak atau lawannya yang menabrak mereka, intinya mereka saling bertabrakan satu sama lain.

__ADS_1


"Agh, maaf, Saya tidak sengaja." Ujar Diana. Padahal ia sendiri yang terkejut karena orang itu yang telah menabraknya.


"Kau ini buta, ya! Jalan itu pakai mata! Hampir saja aku terjatuh yang akan membuat pakaian ku kotor." Cerca orang itu yang malah terbalik marah.


"Saya sudah meminta maaf, dan tidak sengaja atas kejadian ini. Sekali lagi maafkan saya..." Ujar Diana yang masih menunduk meminta permohonan maaf.


Begitu saat Diana mendongakkan kepalanya, Keduanya saling terkejut. Mereka saling tidak menyangka terhadap siapa yang saat ini berada dihadapannya.


"Kau??"


"Alexaa!!"


Lirih mereka berdua saling tertegun.


"Haha, Kau mengenalku? Tapi kau siapa, Ya. Aku sepertinya pernah melihat mu tapi di mana? Oh iya, kau adalah gadis malang yang dibuang ayahmu di malam hari itu, ya. Bukan dibuang, tapi kau pergi karena sudah tidak dianggap oleh ayahmu sendiri. Apa kabar mu? Kau semakin terlihat kumuh, ya. Tak ada bedanya seperti terakhir kali aku membuat mu terusir dari rumah ku." Hardik Alexa


Alexa. Adalah nama adik tiri Diana yang merupakan anak sambung dari ayahnya setelah pernikahan ibunya bernama Andriana yang jahat itu. Mereka dipertemukan kembali secara tidak sengaja. Ia berjalan bersama kedua temannya yang terlihat sama sombongnya.


"Dan, apa yang kau bawa ini? Barang belanjaan mu banyak sekali, Uang dari mana? Kau pasti maling ya selama ini. Hahaha..." Alexa mengejek dan tertawa bersama kedua temannya.


"Alexa, Aku senang bisa bertemu denganmu secara tidak sengaja di sini. Takdir memang baik sudah mempertemukan kita. Bagaimana kabar ayah di rumah?" Tanya Diana yang selalu bersikap positif dan ramah pada semua orang.


"Haha, Untuk apa kau menanyakan kabar ayah? Tentu saja dia sangat baik. Apalagi saat kau keluar dari rumah itu, Ayah sama sekali tidak pernah mengingatmu bahkan tidak pernah terlihat mengkhawatirkan mu, dia bahagia saja tinggal bersama kami. Sepertinya dia sudah menghapus ingatannya mengenai dirimu." Jawab Alexa


"Aku sudah tahu mengenai hal itu dan itu sudah pasti. Tapi syukurlah jika ayah baik-baik saja. Aku senang mendengarnya." Jawab Diana selalu tersenyum seberapapun Alexa menghinanya dengan perkataan menyakiti. Meskipun yang ia rasakan sangatlah sakit di dalam sana, tapi ia tidak ingin menunjukkan kesedihan di depan musuh yang akan membuat dicap lemah.


"Coba aku lihat. Banyak sekali barang belanjaan mu, ya. Untuk apa?" Ingin tahu Alexa


"Aku baru saja membeli bahan untuk membuat kue tradisional. Rencananya aku akan berjualan. Dan ini adalah pertama kalinya aku membuka usaha walaupun hasilnya tidak seberapa." Jawab Diana

__ADS_1


"Haha, makanan kampungan! Mana ada orang yang ingin membeli makanan seperti itu. Sekarang ini bukan zamannya orang makan makanan seperti itu. Aku jamin tidak akan ada yang membeli jualan mu itu." Hina Alexa meremehkan


Alexa dan kedua temannya kembali tertawa meremehkan bersama.


Diana merasa sangat sedih, Namun ia tetap berusaha tegar agar tidak sampai menjatuhkan tetesan air matanya dihadapan Alexa.


"Daripada usahanya nanti sia-sia. Lebih baik kita yang membantu lebih awal menghabiskan jualannya." Ucap Alexa


Alexa merebut kedua kantung plastik dari tangan Diana. Suatu hal yang tidak disangka, ia menghancurkan bahan-bahan yang baru Diana beli, telur sebanyak 3 tray ia pecahkan, terigu dan bahan lainnya ia jatuhkan dan diinjak-injak dibantu kedua temannya hingga hancur ke jalan trotoar hingga berhamburan kemana-mana.


Semuanya tidak ada yang tersisa. Kotor dan hancur. Bahan itu terbuang sia-sia bahkan modal yang dikeluarkan belum sempat kembali.


"Alexa! Hentikan! Itu adalah bahan-bahan ku untuk membuat kue dan akan dijual untuk mendapatkan uang. Kenapa aku malah menghancurkannya." Gertak Diana


"Haha, Kau lihat, Uang mu sudah hilang. Seharusnya kau bukan menangis, tapi bahagia karena aku sudah membantumu menjadi pelaris. Benarkan teman-teman?!" Lontar Alexa tidak memiliki hati.


"Tentu saja. Bahkan sebelum kue itu dibuat, kita sudah menghabiskannya dari awal." Jawab salah satu teman Alexa.


Diana sangat syok, ia histeris atas tindakan Alexa. Tetap saja ia yang selalu kalah dan rela begitu saja melihat bahan untuk memulai suatu yang baru hancur di depan matanya langsung tanpa ada sisa sedikitpun meski hanya 1 kg terigu pun tidak ada.


Diana terduduk di jalan trotoar aspal, melihat semuanya yang sudah hancur dengan nanar. Orang yang hadir di sana hanya bisa melihat kemalangan dan mengasihani Diana tanpa ikut campur.


"Tidak perlu ditangisi. Beli saja lagi di minimarket. Apa sulitnya!" Pungkas Alexa dengan mudahnya ia hanya bisa berkata seperti itu padahal ia adalah akar penyebab awal masalah itu terjadi.


Diana hanya menangis tersedu-sedu menangisi kenapa begitu malang nasib dirinya yang selalu sial dan dirundung awan hitam. Masalah, selalu saja datang menghampirinya tiada henti walaupun istirahat sejenak.


"Ayo pergi, biarkan dia menangis di sini. Lain kali kita membawakan bunga tabur untuknya agar dia bisa semakin khusyu menangisi telur itu. Haha..." Jahat Alexa


"Tapi, sepertinya kau lupa, bawakan juga papan nisan dan peti matinya. Haha..." Balas teman Alexa yang ikut menghina.

__ADS_1


Sepergian mereka, Diana tidak hentinya menangis. Malah tangisannya semakin menjadi-jadi begitu berat dan terdengar sakit bagi siapa saja yang mendengar rintihannya.


Bersambung✍️


__ADS_2