Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 45 : Meminta Maaf


__ADS_3

Lanjutan...


Damian pun langsung keluar dari ruangan Marvin untuk pergi ke ruangan Diana dengan bodohnya ia tidak mengetahui di mana ruangan tersebut. Dan beruntungnya tak jauh dari ruangan Marvin, terlihat sosok wanita yang tengah ia cari sedang keluar dari ruangannya.


Namun, tiba-tiba Diana tersentak, saat hendak menutup pintu terdapat tangan pria yang memegang handle pintu oleh seseorang, bahkan seseorang itu sama sekali tak mengucapkan salam dan hanya menatapnya.


Diana pun dengan cepat menoleh ke arah pintu dan mendapati sosok pria yang telah bersikap kurang ajar terhadapnya kemarin, kini tengah berada di depan pintu ruangan. Kedua mata Diana membulat sempurna dengan seluruh tubuhnya yang seketika menegang.


Sementara itu Damian hanya menyeringai, masih terdiam mematung dan tak bergeming menatap gadis berparas cantik itu yang memang ingin sekali ia temui.


"Bagaimana mungkin dunia seketika terasa sekecil ini, hingga aku harus bertemu kembali dengan pria sialan ini!" Geram Diana dalam hati


Damian coba memberanikan diri untuk mendekat ke arah Diana. Namun, kedua tangan gadis cantik itu seolah melarang untuk lebih dekat dengannya.


"Jangan mendekat!!" Kecam Diana yang langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangan, karena ia merasa berlebihan dengan suaranya. Diana tak ingin, jika nanti ada seseorang datang karena suaranya.


"Baik Diana, tapi bisakah kita bicara sebentar saja?" Tanya Damian dengan raut wajah penuh permohonan.


Diana mengernyitkan dahi untuk berpikir sejenak, apa ia harus memberikan kesempatan pada Damian atau tidak.


"Memang untuk apa lagi kita bicara? Anggap saja semua kejadian di perusahaan anda itu tidak pernah terjadi. Sekarang ini saya adalah sekretaris Tuan Marvin yang merupakan adik anda."


"Setidaknya berikan saya kesempatan untuk menjelaskan, kenapa saya bisa seperti itu saat kemarin. Tolonglah Diana!"


Saat Damian ingin mengatakan kejadian yang telah dilewatinya sewaktu di perusahaan, gadis itu membulatkan matanya dengan sempurna. Telunjuknya menempel di bibir untuk menghentikan perkataan Damian, yang ingin membahas apa yang telah mereka lakukan kemarin. Diana takut ada orang yang bisa saja menguping pembicaraan mereka, padahal dinding pun memiliki telinga.


"Tuan, Tolong jangan bahas masalah kemarin di sini! Selain saya tidak ingin ada orang lain hang mendengarnya, saya juga tidak ingin bicara berdua dengan Anda di ruangan yang tertutup, apalagi di ruangan ini, yang ada nanti kejadian semalam terulang lagi!" Tolak Diana dengan bantahan yang sangat tegas.


Damian mengesah kasar. la merasa sangat menyesal telah melakukan sesuatu yang membuat Diana jadi salah menilai dirinya.

__ADS_1


"Segitu burukkah diriku di matamu, Diana? Sampai-sampai kau ketakutan saat berada di dekatku," Batin Damian begitu sedih dengan penilaian Diana terhadapnya.


Damian tersenyum tipis, menepikan kekecewaan terhadap dirinya sendiri. la pun menuruti keinginan Diana, yang terpenting baginya saat ini, ia bisa menjelaskan tentang alasannya kemarin, kenapa dirinya bisa melakukan hal yang sekurang ajar itu pada Diana.


"Lalu, kau ingin kita bicara di mana?" Tanya Damian dengan penuh kelembutan.


Diana mengesah kasar dengan paksaan Damian yang terus mendesaknya.


"Baiklah, Jika Tuan masih memaksa, lebih baik kita bicara di ruang tamu saja, tapi ingat! Jika Tuan berani macam-macam, saya akan kabur dan berteriak sekeras-kerasnya untuk minta pertolongan," Tegas Diana dengan gurat amarah pada wajahnya. Gadis cantik itu mengembangkan kedua pipinya dengan bibir yang mengerucut.


Setibanya di ruang tamu, Diana sudah duduk di sofa panjang sembari memilin jemarinya yang sudah berkeringat, ia gugup karena harus bertemu dengan sosok Damian yang tak lain adalah anggota keluarga sander. Bagaimana jika ada yang melihat mereka berdua dan memberikan penilaian terhadap Diana sangat buruk bisa begitu mengenal Damian. Tapi Diana harap, orang lain hanya menganggap kebutuhan Diana yang sedang bekerja mengurus klien Tuan Marvin.


"Sebenarnya aku tidak ingin bicara lagi dengannya, tapi itu tidak mungkin karena dia terus memaksa ku, dan pasti tidak akan menyerah sampai di sini." Gumam Diana menundukkan kepalanya sambil menahan emosi yang sudah membuncah. Ia masih begitu kesal ketika apa yang dilakukan Damian kemarin, melintas dan terbayang dalam ingatannya.


Damian berdeham keras sebagai isyarat, agar Diana sadar dari terdiamnya. Gadis itu pun terhenyak kaget, ketika pandangannya terangkat, ternyata Damian sudah berada di hadapannya. Diana dengan cepat bangkit dan langsung beringsut beberapa langkah menjauh dari tubuh Damian.


"Tetap saja aku tidak ingin kita dekat. Anda harus menjaga jarak dua meter, jika ingin bicara denganku."


"Tapi apa jika jaraknya sejauh itu, suaraku akan terdengar olehmu?" Tanya Damian heran yang tak memiliki pilihan selain menuruti permintaan Diana.


"Suara anda kan sangat besar, pasti saya mendengarnya!" Titah Diana menuntut.


Damian mengesah napasnya kasar. la pun menuruti semua yang Diana perintahkan.


"Baiklah Diana..."


Mereka pun duduk saling berjauhan.


"Tapi, apakah enak jika kita bicara dengan jarak berjauhan seperti ini?"

__ADS_1


"Dibuat enak saja. Sudahlah, cepat langsung ke inti pembicaraan, apa yang ingin Anda bicarakan lagi?" Tanya Diana yang tidak suka karena Damian terlalu banyak basa-basi.


Damian mengesah pelan. Tatapan matanya menyiratkan sebuah harapan, agar gadis yang kini dilihatnya ingin memaafkannya.


"Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin. Kemarin saya tidak sempat meminta maaf. Maaf sekali lagi, jika pertemuan kita selalu memberi kesan yang buruk dalam ingatanmu. Saya akui kemarin itu, saya hilang kendali saat bertemu denganmu setelah mengetahui kalung yang ku temukan di hotel ku itu milik mu, dan sampai membuatku berpikir yang tidak-tidak mengenai mu. Tapi kau tak perlu khawatir, saya akan bertanggung jawab dan mengganti semua kerugianmu."


Diana dapat melihat penyesalan dari manik mata Damian yang saat ini sudah berkaca-kaca.


"Sebaiknya aku memaafkannya, lagipula dia sudah meminta maaf padaku," Gumam Diana mulai luluh saat melihat penyesalan yang mendalam dari raut wajah Damian.


Diana mulai mengulas senyum di wajah cantiknya, tak ada lagi rasa takut yang hinggap di sana.


"Tuan, saya akan coba melupakan semua kejadian semalam dan tidak ada yang perlu dipertanggungjawabkan. Saat ini lebih baik, kita tidak perlu mengingat-ingat kembali semua yang telah terjadi kemarin."


Damian kini sudah lebih tenang dari sebelumnya. Namun, ia masih merasa sangat bersalah karena ingin bagaimanapun dirinya sudah merenggut ciuman pertama Diana yang tak pantas dilakukannya.


"Izinkan saya bertanggung jawab, Diana. Katakan apa yang kau inginkan, saya pasti akan memberikannya!"


Diana menggelengkan kepala, tanda ia menolak perintah yang Damian katakan padanya. Ya, begitulah Diana, gadis yang tak silau akan harta, karena pada dasarnya sosok Diana adalah gadis periang walaupun dengan segala kesedihan yang dimilikinya.


"Tuan, saya benar-benar tidak ingin meminta apapun," Jawab Diana penuh penekanan.


Perkataan yang membuat Damian semakin kagum akan sosok gadis yang saat ini sudah seperti candu untuknya.


"Tapi saya sudah merenggut ciuman pertama mu, Diana. Jika kau ingin saya bertanggungjawab dengan menikahi mu, maka itu akan saya lakukan. Saya juga bisa pastikan, bahwa pernikahan itu akan berharga."


Diana mengerjapkan kedua matanya berulang kali, karena tak percaya Damian akan mengatakan hal yang demikian.


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2