
Di Hari Lain...
Tok tok tok
"Masuk!"
"Selamat Pagi, Tuan. Ini berkas yang harus anda tanda tangan dan ini agenda hari ini." Kata Diana sudah menjalankan tugasnya sebagai sekertaris dengan baik
"Okee,, Hari ini kau yang temani aku untuk kegiatan hari ini." Marvin memberikan perintah kepada Diana
"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semua berkas yang di butuhkan." Sahut Diana
"Hemm..." Ucap dengan datarnya
Diana begitu lihai dan bertanggung jawab atas pekerjaannya kali ini sebagai seorang sekretaris. Itu terlihat bagaimana ia bisa mengelola agenda kegiatan Marvin setiap harinya. Baginya pekerjaan sekretaris cukup sulit, namun ia harus membiasakan diri agar terbiasa.
...***...
Malam hari dengan sinar bulan yang terlihat terang menyinari semesta. Diana yang sejak pagi tadi bekerja, sore hari ia baru pulang dan kini berisitirahat di dalam kamarnya. Rasa lelah membuatnya hanya menghabiskan waktu dengan menggeliat dan bermanja-manja di atas ranjang yang empuk walaupun cukup sempit dan bukan kamar mewah. Baginya kamar adalah tempat yang nyaman untuk mengadu rasa lelah.
Sesuatu yang wajar, dan itulah kebiasaan Diana jika sedang sendirian di kamar. Menikmati suara jangkrik beradu, suasana angin malam yang menyeruak, dan keheningan malam yang sangat ia sukai, Diana bisa berdamai.
Biasanya sambil berleha-leha dan melamun Diana selalu menatap dan memainkan kalung yang selalu melingkar pemberian ibunya. Namun, kini ia kehilangannya, dan Diana sangat memikirkan di mana keberadaan kalung berharga itu.
Sedang asyik melamun, tiba-tiba pintu kamarnya terdengar seperti ada yang mengetuk. Diana pun beranjak dari posisi tidurnya dan duduk di tepi ranjang.
"Siapa itu, ya? Nenek?" Tanyanya dengan menautkan kedua alisnya sambil berpikir lebih keras
Diana melihat jam yang terpajang pada dinding kamarnya. Kemudian dahinya mulai mengernyit karena tidak biasanya di jam semalam ini ada orang yang mengetuk pintu selain ada Neneknya di rumah.
Kebetulan pintu kamar Diana bukan di dalam rumah, melainkan sebuah kamar yang memiliki portal langsung dengan dunia luar yakni samping depan terasnya. Sehingga jika ada sesuatu yang membuatnya terbangun di malam hari, maka Diana harus pergi keluar, lalu masuk ke dalam rumah Neneknya melalui pintu utama.
__ADS_1
Diibaratkannya sebuah kontrakan yang memiliki tempat-tempat berbeda, namun sama. Wajar saja rumah milik Nek Ira ini tidak seberapa, sudah ada banyak furniture yang rusak seperti pintu kayu yang sedikit koyak, Warna cat yang sudah pudar.
"Ini pukul 8 malam. Siapa yang bertamu semalam ini ya? Memangnya aku memiliki tamu, Atau mungkin itu Nenek, atau bisa jadi itu tamu Nenek yang salah mengetuk pintu." Diana mulai bangkit dan memutuskan untuk melangkah begitu saja menuju depan pintu
Diana kini sudah di depan pintu kamarnya, ia menggenggam handle pintu kemudian langsung membuka dengan perlahan dan tidak terlalu lebar. la pun melongokkan sebagian kepalanya untuk melihat siapa gerangan yang datang mengunjunginya.
Saat manik matanya menatap sosok pria yang kini ada di depan pintu kamar, otaknya semakin berputar dengan keras untuk mengenali sosok pria yang saat ini sedang dilihatnya. Seorang pria berperawakan tampan, tinggi, putih membuatnya terkejut tanpa bisa berkata sepatah kata pun.
Pria itu adalah Marvin yang datang mengejutkan Diana malam-malam.
"Hey, aku pasti mengganggu waktumu, ya. Kau sudah tidur. Pasti tadi kau sangat terkejut saat ada yang mengetuk pintu. Kau berpikir aku hantu, ya." Marvin mencoba menghibur Diana dengan tingkah selalu santai dan petakilannya
Mendengar perkataan Marvin membuat Diana beringsut mundur dan melindungi tubuhnya di balik pintu. Ia baru tersadar akan pria yang mendatanginya malam-malam takut diketahui oleh warga yang melihatnya berduaan dengan Marvin di sana. Apa yang terjadi saat ini, sungguh membuat Diana merasa sangat takut, hingga terlukis jelas rona pucat di wajahnya.
"Tu-tuan sedang apa di sini malam-malam?" Tanya Diana bergetar
"Kau tidak ingin membiarkan aku masuk??"
"Emm... Tuan, Ini adalah kamar Saya. Pintu kamar saya memang berbeda dari yang lainnya."
"Aku mengerti. Aku hanya bercanda, aku juga melihat ini adalah kamar mu. Kau khawatir aku berbuat sesuatu yang tidak-tidak, bukan?" Kata Marvin sambil terkekeh
"Agh,,, Ti-tidak seperti itu..."
"Kita bicara di depan saja." Ajak Marvin
"Kita bicara di ruang tamu saja, Tuan. Sepertinya Nenek juga sudah tertidur dan lagipula udara di luar sangat dingin." Ajak Diana
Kini Marvin dan Diana sudah terlihat duduk berhadapan di sebuah kursi kayu yang sudah sedikit rapuh. Ukuran ruang tamu memang tidak terlalu besar. Namun, karena penataan yang baik, membuat ruangan yang kecil itu menjadi terasa sangat nyaman.
"Kau itu sangat pintar menata ruangan ini. Walau minimalis, tapi jadi terlihat enak untuk dipandang," Puji Marvin sambil menatap sekeliling
__ADS_1
Diana hanya menanggapinya dengan wajahnya yang datar, karena baginya pujian itu tidaklah terlalu penting dibanding dengan rasa penasaran yang sudah sejak tadi bertahta di dalam pikirannya.
"Terima kasih, Tuan. Tapi maaf sebelumnya ada perlu apa Tuan dengan saya malam-malam begini?" Tanya Diana dengan suara yang terdengar dingin sambil menautkan kedua alisnya setelah ia mengambilkan dua minuman hangat
Pertanyaan dingin yang terlontar dari mulut Diana, membuat Marvin mulai mengembangkan senyuman dari kedua sudut bibirnya. Sebelum menjawabnya, pria itu sedikit merubah posisi duduknya agar lebih nyaman sambil merapikan jas yang ia kenakan.
"Tidak ada yang serius, Aku hanya ingin bermain saja ke rumah mu. Awalnya aku ingin bertemu dengan nenekmu, tapi rupanya dia sudah tertidur, ya." Jawab Marvin
"Bermain di malam hari begini? Apa itu hanya terdengar alasan?" Curiga Diana merasa tidak percaya dengan maksud Marvin datang malam-malam begini
"Agh... Iya. Di jam begini, Nenek memang sudah tidur." Imbuh Diana berusaha biasa saja
"Sayang sekali, padahal aku ingin menjenguk Nenek mu yang baru saja keluar dari rumah sakit sekaligus mengenalnya. Tapi tidak masalah, aku akan datang lagi kemari di pagi hari saja agar bisa bertemu dengan Nenek mu."
"I-iya, Tuan..." Jawab Diana beku
"Kenapa iya? Itu artinya aku membiarkan Tuan Marvin datang kapanpun untuk menemui Nenek. Kenapa jawaban ku selalu beku dihadapan atasanku sendiri. Diana, tolong kendalikan dirimu sendiri jangan sampai menjawab asal-asalan." Gumam Diana mendumal dalam hatinya
"Baiklah, tidak terasa waktunya sudah berjalan cepat saja. Padahal tadi aku merasa baru saja datang. Berdua denganmu rasanya waktu berjalan begitu cepat, Diana, sampai aku melupakan dunia dan seisinya dan fokus padamu." Ucap Marvin selanjutnya diucapkan dalam hati
"Aku akan pulang saja. Karena kau juga harus istirahat juga yang sempat diganggu oleh kedatangan ku. Sampai jumpa di perusahaan besok... Semoga mimpi indah..." Ucap Marvin bangkit setelah menyeruput minuman hangat yang Diana buatkan hingga habis
Diana Kebingungan dengan ucapan Marvin padanya sampai menautkan kedua alisnya. Baginya Marvin sudah membuatnya kebingungan, baru saja datang dan sudah akan pergi lagi tanpa membicarakan hal yang ia pikir sangat penting.
"Maaf Tuan, hanya itu saja keperluan Tuan datang malam-malam begini. Apakah benar-benar tidak ada pekerjaan mendadak lain?" Tanya Diana memberanikan diri
"Tidak hanya itu, kedatangan ku sebenarnya hanya ingin melihat wajah mu yang baru ditinggal pulang sudah membuat ku tak tenang memikirkan mu, Diana." Jawab Marvin dalam hatinya
"Tidak ada. Memang itu keperluan ku untuk menjenguk Nenek mu..." Lontar Marvin yang keluar dari mulutnya
Setelahnya, Marvin kembali melanjutkan langkahnya pergi.
__ADS_1
"Namun, sepertinya ada hal yang disembunyikan pria ini kepadaku. Tapi apa, ya?" Gumam Diana penuh tanda tanya sembari menatap kepergian punggung Marvin yang semakin menjauh