
Keesokan harinya...
Di Perusahaan milik Marvin...
Marvin terus menatap kagum wajah Diana yang kini sudah bersemu merah karena sorot mata Marvin yang terus memandanginya sejak Diana datang ke ruang kerja Marvin.
"Tuan, apa anda ingin saya buatkan sesuatu?" Tanya Diana berusaha mengusir rasa canggung yang seketika hinggap dalam pikirannya
Marvin tersadar dalam kekagumannya. la pun tak ragu mengembangkan senyuman di wajahnya untuk Diana.
"Tidak Perlu, Aku tidak lama lagi akan pergi keluar untuk menemui klien."
"Oh begitu, baiklah, Tuan." Diana melemparkan senyum balasan untuk Marvin. Kini keduanya saling menatap dan rasa kagum membuat mereka tak sungkan untuk saling memuji.
"Kau itu cantik seperti mantan kekasih ku di Amerika, Diana." Pujian Marvin membuat pancaran mata wanita itu berbinar-binar. Raut wajah Diana semakin merona, menahan rasa malu akibat pandangan Marvin yang tak teralihkan ke arah wajahnya.
Marvin beringsut maju untuk berpindah ke sofa yang sama dengan tempat Diana duduk, hingga membuat debar jantung Diana semakin tak beraturan. Namun, entah kenapa rasa takut yang awalnya timbul saat melihat Marvin, kini tak ada lagi dalam pikirannya. Semua berubah menjadi kekaguman karena sudah sejak lama, tak ada pria yang melontarkan pujian padanya, selain Marvin yang ia kenal selalu bisa memikat perhatian wanita.
Terakhir Diana memiliki seorang tambatan hati saat SMA. Namun, sayangnya hubungan itu harus berakhir tragis karena lelaki itu ternyata telah dijodohkan oleh keluarganya. Sejak saat itu, hingga sekarang belum ada satu lelaki pun yang mampu bertahta di dalam hatinya yang kosong dan tak berpenghuni itu.
Kedua mata mereka saling bertaut dalam. Marvin entah kenapa semakin berani mendekat ke arahnya. Tubuh keduanya pun menjadi rapat tak berjarak dan membuat aliran darah pria tampan itu kian berdesir hebat, ia pun kini mulai merasakan ada sesuatu yang berontak hebat di dalam celana yang dikenakannya.
"Tuan, apa tidak bisa Anda duduk di sebelah sana?" Protes Diana yang juga mulai sulit untuk bernapas karena tiba-tiba suasana berubah menjadi panas di sekitarnya.
"Maafkan Aku Diana, tapi entah kenapa wajahmu mengingatkan ku pada mantan kekasih ku." Marvin menatap semakin dalam manik mata Diana yang berwarna kecokelatan. Kala itu mereka seolah telah saling mengenal dalam kurun waktu yang sangat lama, walau pada kenyataannya mereka baru saja mengenal dan terikat oleh pekerjaan.
__ADS_1
Diana berusaha memperlebar posisi duduknya. Namun, sandaran sofa membuatnya tak memiliki ruang lagi untuk dapat menjauh dari tubuh Marvin yang benar-benar sudah sangat rapat dengannya, pria yang dalam sekejap berhasil menaklukkan hatinya lewat karisma yang dimilikinya.
"Tuan, Apa yang anda lakukan?" Gertak Diana ketakutan dan mencoba menjauh, namun Marvin meraih tangannya
"Bolehkah aku menyentuhmu, Diana?" Tanya Marvin tak karuan. Namun, entah darimana keberaniannya muncul, hingga ia mampu mengatakan hal yang sekurang ajar itu pada wanita yang sepolos Diana.
Diana pun tercekat kaget dan terlihat menggeleng tanda bahwa sebenarnya dirinya tak mengizinkan apa yang ingin Marvin lakukan kepadanya.
PLAKK...
Ditampar keraslah pipi pemilik pria tampan itu yang sudah menyosor mendekatinya. Diana refleks menampar Marvin yang sudah kurang ajar menurutnya.
Pada akhirnya Marvin pun sadar atas apa yang ia lakukan pada Diana seharusnya tidak boleh terjadi. Ia benar-benar dibutakan oleh pikirannya sendiri sampai menganggap Diana adalah wanita murahan yang selalu ia boyong menghangatkan ranjangnya.
"Siall... Maaf. Aku benar-benar tidak bisa mengendalikan akal jernih ku tadi. Dalam penglihatan ku kau adalah wanita murahan yang menghampiriku." Sesal Marvin
"Aku tahu dirimu... Maafkan Aku..." Hanya kalimat itu yang mampu Marvin ucapkan setelah penyesalan atas tindakan tanpa sadarnya terjadi
"Untuk kali ini, Saya akan maafkan, Tuan. Tapi jika Tuan berani macam-macam pada Saya lagi selain hari ini, maka akan ada keputusan berat yang harus saya ambil." Ujar Diana. Setelahnya pergi dengan kesal meninggalkan Marvin yang masih berdiam membeku.
...***...
Keesokan paginya, Diana mulai terbangun saat mendengar suara alarm yang berbunyi tidak hanya sekali, tangannya meraih jam beker itu dan menyembunyikannya di bawah bantal agar suaranya tak lagi terdengar.
Saat Diana ingin kembali memejamkan mata, tiba-tiba saja suara Nek Ira mulai terngiang di telinganya. Wanita cantik itu segera bangkit dan melihat jam yang terpampang di dinding.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Hari ini bukankah aku harus pergi ke perusahaan Goc'ta Company sesuai perintah Tuan Marvin untuk investaris. Katanya CEO di sana sangat killer, sedangkan aku sudah membuat janji pertemuan pagi hari di awal. Kenapa aku harus bangun kesiangan sih?" Umpat Diana dengan sangat kesal
Gadis itu berlari menuju kamar mandi, setibanya di dalam, ia melupakan sesuatu hingga membuatnya dengan terburu-buru keluar dari kamar mandi untuk mengambil handuk yang tertinggal di dalam lemari.
"Ada saja yang membuatku semakin telat," Geram Diana terus menggerutu
Setelah menggenggam handuk di tangan kanannya, ia langsung mempercepat langkah kakinya menuju kamar mandi. Namun, nasib sial menimpa Diana lagi, wanita berparas cantik itu terpeleset dan jatuh dengan posisi duduk di dasar lantai kamar mandi.
"Auuuuu," Teriak Diana dengan keras, ketika rasa sakit mulai menjalar di seluruh tubuhnya.
"Sial, sial, sial!" Kedua tangan Diana mengepal dan memukul-mukul lantai kamar mandi berulang kali.
"Diana, Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa kau harus terburu-buru, Nak. Salah mu sendiri Nenek bangunkan pukul 5 tadi, tapi kau tidak bangun-bangun. Nenek lihat kau memasang alarm pun masih saja belum membangunkan mu." Pungkas Nek Ira mendatangi kamar mandi dan sudah melihat Diana terduduk di lantai
"Iya, Nenek. Ini kesalahan ku..." Balas Diana
Diana pun berusaha bangkit dari posisinya sekuat tenaga, walau rasa sakit itu masih terasa dan membuatnya tertatih-tatih.
"Baiklah... Lain kali harap tenang saja. Sekarang cepat kau mandi..." Titah Nek Ira
Diana pun melanjutkan aktivitasnya secepat mungkin, demi bisa mengejar waktu untuk sampai di Perusahaan yang harus ia kunjungi.
Setelah selesai dengan semua aktivitasnya di kamar mandi. Diana mengambil celana dan blouse berwarna putih dari dalam lemari lalu segera memakainya. Diana tak ingin membuang banyak waktu, ia pun dengan cepat memasukkan alat make up sederhananya ke dalam tas, kemudian melangkah keluar dari kamarnya.
"Lebih baik aku make up di perjalanan saja, waktunya sudah sangat mepet. Dasar Diana, entah kenapa hari ini kau melakukan kesalahan yang besar." Gerutu Diana merutuki kebiasaan barunya
__ADS_1
Setelah berpamitan tanpa sarapan, Diana berangkat dengan terburu-buru.
"Aku tidak boleh manja. Diana harus kuat dan tidak boleh mudah menangis. Ingat apa yang dulu Ibu katakan, jika hidup ini tidak akan mudah dilewati, bila kita tidak kerja keras." Diana coba menyemangati dirinya sendiri dengan kedua bola matanya yang sudah berkaca-kaca. Terlebih saat pesan dari ibunya teringang di dalam ingatannya.