
Hari Pertama menjalani sebagai sepasang Suami Istri...
Berbeda dengan pengantin baru lain yang biasanya menempuh lembaran baru lebih memilih untuk menghabiskan waktu istirahat sejenak lepas dari pekerjaan yang menyibukkan bersama dengan menikmati masa honeymoon, Di hari keesokan pagi harinya Damian tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa dengan pergi ke perusahaan. Tak ada waktu honeymoon baginya karena ia percaya bahwa setiap hari bersama Diana akan berjalan indah dan lebih memilih kapan pun bisa bersikap romantis tidak terpaku pada masa-masa tertentu.
Kedatangan Diana sebagai Nyonya di rumah Damian sekaligus merupakan istrinya disambut bahagia oleh penghuni rumah. Sebagai pelayan yang sudah lebih lama mengharapkan Diana menikah dengan Tuannya tentu saja bagaikan mimpi yang sempurna bisa terwujud. Mereka begitu menyenangi Diana, hari-hari selalu membayangkan bagaimana Diana dapat tinggal di rumah itu tanpa keluar masuk bagai tamu atau orang lain, kedatangannya disambut bahagia sebagai nyonya di rumah Damian yang perlu mereka hormati sebagai majikan.
Sore Hari...
"Nyonya Diana, Ini barang pemberian dari Tuan untuk anda yang dititipkan pada saya. Tadi Tuan sudah pulang, tapi ia segera bergegas kembali ke perusahaan dan pulang hanya untuk mengantarkan ini." Ujar Bu Isma menenteng sebuah paper bag datang ke kamar majikannya dan diulurkan pada Diana.
"Dia pulang hanya untuk mengantarkan sesuatu untuk ku!? Memangnya apa isinya?" Pungkas Diana bertanya menatap paper bag itu penuh keheranan.
"Saya juga tidak tahu. Alangkah lebih baiknya nyonya sendiri yang membukanya karena saya tidak pantas sembarangan membuka hadiah yang diberikan Tuan pada nyonya." Ucap Bu Isma dengan tersenyum.
Diana sedikit mengerutkan dahinya.
"Baiklah. Nanti aku akan membukanya. Terima kasih sudah mengantarkannya padaku Bu Isma." Ujar Diana mengambil paper bag itu.
"Sama-sama, Nyonya. Oh dan ya, Tuan juga berpesan bahwa diharapkan anda bisa memakai barang pemberiannya itu malam hari ini."
Diana hanya mengangguk-angguk karena ia saja belum tahu apa isi dari paper bag itu.
"Kapan Tuan akan pulang?" Tanya Diana demikian.
"Malam ini dan lebih awal!! Jadi, saat Tuan pulang nanti dan masuk kamar, beliau sudah ingin melihat nyonya mengenakannya." Ucap Bu Isma tersenyum.
"Aku belum tahu apa yang dia berikan padaku. Tapi setelah tahu nanti apa isinya, aku pasti akan mengikuti sesuai pesannya." Jawab Diana.
Bu Isma hanya tersenyum-senyum dengan memperlihatkan gigi putihnya. Sesuatu yang mencurigakan...
__ADS_1
"Jangan lupa untuk mempersiapkannya dari sekarang, Nyonya. Dandan yang cantik dan juga wangi. Itu saja Nyonya, Saya akan kembali ke dapur." Ucap Bu Isma diakhir dan pergi begitu saja dengan terlihat dari belakang bahwa ia sedang menyembunyikan tawanya yang tertahan.
Sekilas Diana menyadari hal itu tapi tidak terlalu memikirkannya panjang.
"Apa yang Damian berikan, ya? Apa mungkin ini gaun malam untuk mengajak ku menghadiri acara makan malam bersama klien sehingga Bu Isma memintaku untuk berdandan dan wangi agar tampilan ku tidak mempermalukan Damian?!" Duga Diana kembali menutup pintu kamarnya dan menelisik paper bag itu yang enggan di buka.
Diana pun membuka paper bag yang ia duga adalah Gaun. Namun, dugaannya memang benar barang itu merupakan kain tapi bukan Gaun malam melainkan kain tipis yang menerawang dan seksi, apalagi jika bukan Lingerie untuk dinas malam!
Tapi sayangnya Diana wanita yang selalu memakai pakaian tertutup dan tidak banyak ia ketahui macam-macam pakaian aneh atau unik yang ada di dunia ini. Maklum saja, orang lain selalu mempermasalahkan dia bukan wanita berpendidikan tinggi yang membuatnya tidak teredukasi!
"Apa ini??" Pekik Diana. Ia memampangkan pakaian tipis itu ke atas yang terdiri dari bra, ****** *****, dan kain tipis yang cukup menutupi bagian dalam tapi tetap saja bisa menerawang.
"Apa dia benar-benar membelikan pakaian dalam ini untukku? Aku tidak habis pikir dia begitu berani datang ke mall membawa pakaian ini ke kasir untuk membayarnya." Cerca Diana.
"Tapi untuk apa? Aku sudah memiliki begitu banyak pakaian yang sudah dipersiapkan Damian sendiri penuh di lemari ruang gantinya. Tapi sekarang dia malah membelikan pakaian dalam ini lagi. Mungkinkah Damian malam ini ingin aku mengenakannya dan bisa jadi ini pakaian yang sering digunakan wanita kaya." Imbuh Damian terus bicara pada dirinya sendiri di kamarnya.
Pikirannya pun teringat pada saat pertama kali ia datang ke rumah Damian masih menjadi orang lain. Diana ingat baju yang ia kenakan pakaiannya digantikan karena basah mirip sekali dengan yang ia pegang saat ini.
Diana pun bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dengan Mandi karena badannya terasa lengket meskipun seharian hanya ada di rumah membantu pekerjaan dan berbincang bersama pelayan.
Malam Hari...
Pukul 18.00 Wib...
Sayup-sayup penghuni rumah mendengar suara mobil mewah terparkir. Para pelayan mengenali suara mobil yang telah sampai dan terparkir di depan rumah itu, salah satu pelayan di rumah Damian bergerak cepat dalam mengemban tugasnya dengan segera membukakan pintu untuk Damian yang sudah pulang dari bekerjanya seharian begitu mendengar mobilnya.
"Tuan sudah pulang, hhe..." Ujar pelayan muda itu yang membukakan pintu karena Diana telah ditahan di kamar oleh Bu Isma bahkan Diana yang berada di dalam tidak menyadari jika pintu kamarnya itu telah dikunci dari luar.
"Di mana Bu Isma??" Tanya Damian demikian, bukannya menanyakan istrinya, malah menanyakan pelayan setia sudah bertahun-tahun bekerja dengannya. Apakah Damian lupa jika ia sudah menikah dan masih teringat akan kebiasaannya?
__ADS_1
"Beliau ada di dapur, Tuan..." Jawab pelayan muda.
"Saya ada di sini, Tuan..." Teriak Bu Isma terlihat berlari kecil menghampiri Damian dari arah dapur.
"Kau bisa kembali saja mengurus yang lain. Terima kasih sudah membuka pintunya." Titah Damian pada pelayan muda itu begitu tahu Bu Isma datang dan selalu memberi apresiasi ada pelayannya.
"Baik Tuan..." Jawabnya setelah itu pergi meninggalkan tempat itu.
Damian dan Bu Isma saling tersenyum penuh tanda tanya.
"Bagaimana, apakah semuanya sudah selesai?" Tanya Damian demikian.
"Semua berjalan sempurna! Ini kuncinya." Balas Bu Isma dengan simbol jari tangan oke👌 dan kedipan mata kirinya.
"Baiklah, terima kasih atas kerja samanya, Bu Isma. Aku akan pergi ke kamar sekarang." Ujar Damian mengambil duplikat kunci kamarnya dan berjalan menuju arah tangga.
Namun, saat baru saja ingin menginjakkan kaki di tangga pertama, Bu Isma menghentikan langkahnya dan terpaksa untuk berbalik.
"Maaf Tuan, Saran saya apakah sebaiknya anda membersihkan diri terlebih dahulu di kamar mandi bawah sebelum masuk kamar. Mungkin nyonya Diana juga sedang bersiap-siap dan jika Tuan masuk tiba-tiba..." Bicaranya terpotong.
"Ya, ya, Aku mengerti. Baiklah, aku akan mandi terlebih dahulu. Tolong siapkan pakaian ku, kau menyimpan beberapa pakaian di ruang lain, kan?" Titah Damian dan tanyanya.
"Iya, kebetulan ada di ruang kerja anda, Tuan. Saya akan ambilkan." Ucap Bu Isma.
"Baiklah, persiapkan segalanya mana menurutmu yang terbaik." Kata Damian dan kembali berputar arah untuk pergi ke kamar mandi yang tersedia di lantai satu.
Sedangkan Bu Isma bergegas pergi ke ruang kerja Damian untuk mengambil pakaian Damian yang sebagian tersimpan di ruang ganti kerjanya.
Entah apa persekongkolan Damian dan Bu Isma dibalik rahasia mereka yang direncanakan diam-diam dan hanya diketahui dua orang itu.
__ADS_1
Bersambung✍️...