Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 31 : Mengulik Keberadaannya


__ADS_3

"Apa kau tahu gadis yang tempo hari mengikuti lelang?" Tanya Marvin dingin


Tarisa mengangguk, bagaimana ia tak kenal jika ia lah yang membawa Diana kesini dan merupakan teman baik SMA. Tapi kelakuan Tarisa sekarang sangat mendekati iblis yang menempatkan dirinya di sebuah club terlarang dan menjadikannya seorang pelacur.


"Apa dia tak ada di sini? Aku tak menemukannya sedari tadi." Ucap Marvin


Alis Tarisa saling bertautan karena ia tak paham dengan maksud pria di depannya itu, ada urusan apa ia dengan temannya?


Seolah peka dengan raut wajah Tarisa, Marvin pun menimpali lagi, agar gadis itu tidak salah paham, yah walaupun mungkin asumsi gadis itu memang benar.


"Aku mencarinya karena aku belum bertemu dengannya dua hari ini." Jawab Marvin


Terdengar Tarisa berkata 'ah' dengan suara pelan tapi masih bisa Marvin dengar.


"Ah sayang sekali, dia bukan pekerja di club ini Tuan, dia hanya mengikuti pelelangan tempo hari karena membutuhkan biaya rumah sakit operasi neneknya dan yah... seperti yang anda lihat, dia tidak kembali ke sini lagi. Itu artinya Tuan kehilangan uang Tuan, Seharusnya Tuan tidak mudah melepaskannya, bila perlu jadikan dia tawanan. Bagaimana jika dia kabur?"


'Bukan Pekerja?' Dua kata yang membuat Marvin penasaran, hal apa yang membuat gadis secantik dia, dengan badan seideal dia, dan sebaik dia, nekat ingin melakukan pelelangan hanya untuk uang walaupun wanita itu rela menyerahkan dirinya bukan dalam bentuk fisik, namun kemampuannya untuk bekerja bersama Marvin tanpa bayaran.


"Jika boleh tahu, Di mana tempat tinggal wanita itu?"


Mendengar pertanyaan Marvin yang tiba-tiba membuat Tarisa hanya tersenyum, walaupun pada awalnya ia terlihat sedikit terkejut, lalu ia menuturkan jika ia tidak bisa memberitahukan hal tersebut karena itu adalah hal privasi.


"Bagaimana jika kau aku bayar 200 juta hanya dengan menjawab keberadaan alamat seseorang. Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku tadi. Di Zaman sekarang semua orang sulit untuk mendapatkan uang sebesar itu tapi kau bisa mendapatkannya dengan sangat mudah." Tawaran Marvin sampai mata Tarisa langsung berbinar mendengar nominal yang sangat banyak, seketika ia menarik tubuh Marvin menuju salah satu kursi dan mengajaknya duduk di sana membuat ujung bibir Marvin tertarik, tidak akan pernah ada wanita yang tidak bisa Marvin kalahkan.

__ADS_1


"Ingin minum?" Tanya Tarisa sesaat setelah membawa Marvin duduk di salah satu kursi, yang Marvin jawab dengan gelengan kepala, ia tidak perlu berlama-lama dengan gadis p*lacur ini, yang ia perlukan adalah jawaban tentang gadis itu.


"Tidak perlu saya bisa memesannya sendiri, Jadi?"


"Diana..." Perkataan Tarisa seketika di potong Marvin, karena ia tidak pernah mendengar serta tidak tahu itu nama apa, atau nama siapa?


"Diana?"


"Nama gadis itu Diana, apa Tuan tidak tahu sebelumnya sampai tidak menanyakan namanya?"


Marvin menggelengkan kepalanya dengan wajah polos tak mengindahkan wajah terkejut Tarisa, ia memang tidak pernah menanyakan nama gadis yang ia anggap saja beli meminta untuk menyebutkan nama, dan Marvin tidak pernah mengingat nama siapa pun mereka yang tidak penting baginya, bahkan wajah merekapun Marvin tidak akan ingat lagi sekarang, tapi gadis itu.. Ah Diana, tidak pernah menyebutkan namanya, entah kenapa hanya dengan menyebut nama Diana membuatnya ingin tersenyum, nama yang cantik baginya dan wajah yang selalu membayangi pikirannya.


Akhirnya Diana menceritakan semuanya kepada Marvin, mulai dari siapa Diana dan untuk apa uang tersebut walaupun sudah diketahui Marvin, dan hal itu tidak terlalu mengejutkan Marvin tapi dia sedikit terkejut mendengar penjelasan yang lain, terasa sedikit penyesalan dalam dirinya telah memperlakukan Diana dengan sangat buruk, tapi bukan salahnya kan menjadikan dia sekretaris pribadi tanpa gaji? Karena Diana tidak menceritakan masalahnya secara detail sehingga wajar saja Marvin bersikap seperti itu dan Diana sendiri yang menyarankannya. Siapapun pasti juga akan memutuskan dengan cara yang sama, bukan?


"Sekarang beritahu aku di mana tempat tinggalnya?" Titah Marvin tak sabar


"Maaf Tuan, untuk hal itu saya benar-benar tidak bisa memberitahukannya pada Tuan, karena itu sudah masuk urusan pribadi, bukankah kemarin di perjanjiannya anda dilarang menanyakan hal pribadi tanpa persetujuan dari orangnya? Jika anda penasaran sekali dengan Diana kenapa anda tidak bertanya saja kepada Diana langsung kemarin?"


Marvin hanya mendesis pelan, ia mana peduli dengan urusan orang lain apalagi seorang wanita, untuk apa ia menanyakan hal setidak penting itu? Padahal ia sendiri akan terikat dengan perjanjiannya bersama wanita itu. Tapi ia lupa karena kebiasaannya yang memperlakukan wanita seenaknya.


"Tck,,, Dari tadi aku memintamu untuk memberitahu ku di mana tempat tinggalnya, bukan. Aku pikir kau menyetujuinya, tapi ternyata malah menceritakan masalahnya, padahal aku sudah tahu." Hardik Marvin


Tarisa akhirnya menyerah, dipikir-pikir lagi untuk apa ia sampai menanyakan alamat seorang gadis yang telah menjadi bekasnya? Karena Tarisa pikir Diana sudah terpakai oleh Marvin. Mengingatnya membuat Tarisa ingin menenggelamkan dirinya sendiri saking malunya.

__ADS_1


"Baiklah, Saya akan memberikan alamat Diana." Kata Tarisa


Keberadaan tempat tinggal Diana sudah Tarisa beritahu pada Marvin dan ia senang akan hal itu.


Marvin merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan cek dan menulis jumlah yang diberikan sebesar 200 juta dari dalam sana.


"Bayaran untuk informasi mu." Kata Marvin mengulurkan cek itu pada Tarisa


Tarisa tersenyum lalu segera mengambilnya dan mengantonginya, ia meneriakkan kata terima kasih sepeninggal Marvin.


...***...


Setelah Diana Izin berpamitan untuk pergi ke rumah mengambil beberapa barang pada Neneknya yang akhirnya telah siuman setelah sekarang dinyatakan operasinya berjalan sangat lancar dan berhasil. Saat ini mereka tengah menunggu Nek Ira dalam masa pemulihan, dan diharapkan sehat selalu setelah penyakitnya diangkat.


Diana akhirnya sudah di perbolehkan untuk pulang. Saat sampai di rumah neneknya, Diana segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke rumah sakit kembali. Sesaat setelah kejadian dua malam itu Diana langsung membawa uang dari Marvin sebanyak 8 Milyar di mana sudah ia bayarkan ke rumah sakit untuk biaya operasi serta biaya rumah sakit Neneknya yang mahal.


Saat Diana mandi ia baru menyadari jika kalungnya hilang, ia keluar menggunakan bathrobe mengobrak-abrik seisi rumah sempitnya berharap kalungnya terjatuh dan dapat ditemukan di sana, karena itu adalah kalung pemberian ibunya yang sudah ia pakai sejak ia masih kecil.


Wajah Diana terlihat sangat frustasi, karena itu adalah kalung kesayangan Diana yang sudah menjadi peninggalan ibunya.


"Kemana kalung itu?" Diana kembali mengacak ranjang kecilnya tapi hasilnya nihil ia tak menemukan apapun di sana, ia duduk termenung di atas ranjang, mencoba mengingat lagi di mana kira-kira kalungnya terjatuh.


"Kenapa aku tidak menyadari jika kalung ku hilang? Sejak kapan kalungnya tidak ada? Kenapa aku tak menyadarinya." Diana terkejut saat matanya tanpa sengaja melihat jarum jam dari jam dindingnya sudah menunjukkan pukul 7, ia tergesa-gesa memakai pakaiannya, berjalan serampangan meraih tas serta memasukkan beberapa isi ke dalamnya, ia berlarian kecil dengan sedikit tersandung-sandung beberapa barang yang baru saja ia berantakan membuatnya berdecak kesal, ia berlarian meninggalkan rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2