Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 53 : Peristiwa Kejadian


__ADS_3

"Terima Kasih, Ya, Sudah mengantarkan aku pulang. Maaf merepotkan mu sekali lagi." Kata Diana selepas sampai di depan rumah neneknya


"Sama-sama. Tidak masalah, aku sama sekali tidak keberatan. Masuklah, Nenekmu pasti sudah menunggu di dalam!" Ujar Damian dengan senyum kakunya


"Hmm... Sekali lagi terima kasih dan untuk makanannya juga. Aku yakin kali ini nenek akan lahap makannya. Kau tidak akan masuk terlebih dahulu?"


"Lain kali saja. Aku harus segera pergi ke perusahaan, Jaga dirimu baik-baik." Ucap Damian, refleks ia mengusap surai Diana sangat lembut.


Diana cukup terhenyak, Tapi ia hanya bisa tersenyum kikuk merasakan kehangatan sentuhan Damian.


Prook... prok... prok...


"Waw, Hebat sekali pria dan gadis ini. Ternyata kejadian kemarin tidak menyurut kemungkinan untuk dia tetap menggoda laki-laki lain kakak ku rupanya." Ucap Marvin mengejek, ia datang secara tiba-tiba di belakang mereka sembari bertepuk tangan dan terlihat sehat bugar padahal dia masuk rumah sakit.


Diana dan Damian pun menoleh ke belakang, di mana terdapat Marvin yang sedang tersenyum smirk ke arah mereka.


Damian pun langsung menunjukkan reaksi tidak suka dan geram atas kedatangan Marvin. Sedangkan Diana, ia bersembunyi dibalik tubuh Damian karena trauma yang dialaminya membuat ia takut pada Marvin.


"Kenapa kau bisa ada di sini, apa yang sedang kau lakukan? Bukankah kau terbaring lemah di ranjang rumah sakit." Ketus Damian menggertak


"Apa itu lemah? Kau pikir aku akan semudah itu mati di atas ranjang rumah sakit dan kau merasa hebat setelah menghajar ku habis-habisan. Tuan Damian, maksudku kakak ku, kau belum mengenal sosok Marvin yang kuat ini walaupun entah berapa kali kau akan mematahkan tulang ku, aku akan kembali tumbuh."


"Haha... Kau pikir kau seekor cicak yang bisa memutuskan ekornya untuk menghindar dari musuh, selepas itu akan tumbuh kembali." Ejek Damian membalas


"Haha... Aku masih memiliki urusan dengan wanita itu. Kemari kau!!" Gertak Marvin maju mendekati Diana dan akan meraihnya, namun tangannya diraih oleh Damian yang menahannya.


"Jangan berani mendekati Diana. Tidak sadarkah kau sudah membuat dia trauma karena ulah mu! Susah payah aku meyakinkannya untuk jangan terpuruk!" Kecam Damian


Mereka saling memandang elang, rasa persaingan yang ketat di sana terjadi membuat udara sejuk pagi hari menjadi gerah.


Blash!

__ADS_1


Marvin menghempaskan tangannya dari genggaman Damian yang menahan lengannya.


"Heh, Wanita murahan! Kau benar-benar memiliki daya tarik tinggi sehingga bisa menggoda kakak ku." Hina Marvin pada Diana dengan menyunggingkan bibirnya


"Siapa yang kau anggap kakak? Aku tidak pernah memiliki adik dalam takdir hidup ku. Mana sudi aku bersaudara dengan mu meskipun itu saudara tiri, lebih baik adik yang dipungut dalam tong sampah dan tumbuh besar menjadi adik yang beretika dibandingkan dirimu." Kejam Damian


"Heh, Aku tidak memiliki urusan denganmu dari awal. Tapi kau memaksaku untuk berurusan dengan mu, maka baiklah aku akan meladeni mu."


"Aku hanya memintamu pergi dan jangan mendekati Diana lagi. Jadi, siapa di sini yang ingin meladeni permainan mu?!" Debat Damian


"Aku hanya ingin mengingatkan dia untuk segera pergi ke perusahaan kembali menjalankan tugasnya sebagai sekertaris."


"Heh, Kau pikir setelah apa yang dialaminya kemarin, dia masih enggan untuk bekerja dengan mu? Dia bahkan lebih baik tidak menerima gaji yang kau berikan!" Balas Damian


"Kau pikir aku menggajinya selama dia bekerja di perusahaan ku? Bahkan, aku memiliki tombak yang bisa membuat dia tetap bekerja hari ini. Aku yakin dia tidak akan bisa menolaknya, karena apa, karena dia sudah menjual dirinya padaku seharga 8 Milyar sesuai jumlah uang yang dia ambil!" Jelas Marvin, membuat Damian sangat syok mendengarnya, tapi ia belum mengerti maksud dari hal itu dan meminta penjelasan lebih.


"Maksudmu??" Lirih Damian sampai mengerutkan dahinya begitu dalam.


"Tanya saja pada wanita ini. Aku yakin dia pasti bisa menceritakannya sangat detail padamu." Ejek Marvin


"Ck, Baiklah, Karena tidak ada yang membuka suara, maka biarkan aku yang menceritakan segalanya padamu." Geram Marvin, melihat sandiwara yang terjadi karena enggan membuka suara.


"Saat bertemu denganku, aku menemukan dia di Pigalle tempat di mana orang melakukan cek in dan kebetulan saat itu acara tahunan pelelangan wanita sedang diadakan. Dan kau tahu siapa wanita pelelangan tahun kemarin, Dia adalah DIANA! Gadis yang saat orang lain bertemu dengannya akan menganggap dia polos, tapi dia bisa saja bertindak menyerah diri pada pria hidung belang." Jelas Marvin menceritakan


Lalu, berkata kembali...


"Andai saja bukan aku yang memenangkan pelelangan kemarin, maka tidak akan mungkin ada seorang pria baik yang ingin mendengar permintaannya. Mungkin sekarang dia sedang menangis dipojokan karena kesuciannya sudah hilang. Dia memohon padaku untuk dilepaskan karena tidak ingin aku perkosa, tetapi ia bisa membawa uang itu untuk biaya rumah sakit Neneknya. Awalnya aku menolak, tapi dia membuat perjanjian bahwa akan mengabulkan apapun yang diminta oleh ku, itu sama saja dia menjual dirinya padaku, bukan. Aku setuju, memberikan dia uang itu, dan membuat dia bekerja seumur hidupnya bersama ku tanpa gaji. Jika dia berhasil mengkhianati ku, maka aku tidak akan segan membocorkan rahasia ini pada neneknya bahkan Dunia. Anggap saja itu sebagai balas budi tanpa pamrih, bukan?!" Sambung Marvin lagi


Deg!


Sepanjang jalan cerita, Damian sangat menjadi pendengar yang baik, ia sangat terkejut, syok, terhenyak, terjungkal, dan dia tidak habis pikir Diana melakukan tindakan seperti ini tanpa berpikir panjang. Apa karena dia merasa Diana wanita murahan?!

__ADS_1


Sorot mata Damian melihat Diana sangat tajam. Seperti elang yang akan memangsa musuhnya. Diana hanya menunduk dan menangis tanpa suara, ia aku bahwa dirinya memang salah.


Damian perlahan menghampiri Diana dengan langkah yang gusar.


"Drama baru, sebentar lagi akan dimulai!" Smirk Marvin yang tak sabar melihat amukan, amarah, yang akan dilayangkan pada Diana.


"Kau membutuhkan uang? Kenapa tidak datang menemui ku jika kau membutuhkan bantuan?" Ucap Damian bertanya penuh penekanan


"Bukan aku yang datang, Tuan. Tapi Tuan Marvin sendiri yang datang membantu ku." Balas Diana sambil menunduk sedih


"Hey, kenapa kau malah menyalahkan ku. Tahu sendiri yang salah, masih berani menyalahkan orang lain?!" Ketus Marvin


"Dia yang datang dan menolong mu. Kau langsung cap dia sebagai pahlawan. Sebegitu polosnya kah dirimu sampai tidak bisa membedakan pria yang hanya ada inginnya saja?" Kata Damian yang sudah mulai marah


Lalu, berkata kembali...


"Kau memutuskan tanpa berpikir panjang apa saja akibat kedepannya. kau bekerja di tempat yang tidak pantas itu dengan iming-iming balas budi dan kau sendiri didesak sangat membutuhkan untuk membayar operasi nenek mu."


"Semuanya tidak terjadi karena Tuan Marvin sudah menolong ku. Ingin bagaimana lagi, aku akui awalnya sempat mengatakan bahwa dia pria yang baik. Jika aku tidak melakukan hal itu, mungkin saja nenek ku tidak akan selamat. Apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan uang sebesar itu, tidak ada cara lain selain aku mendatangi tawaran pekerjaan teman ku. Aku pikir, aku bisa menggantinya dengan hal yang lain pada Tuan yang berhasil mendapatkan ku." Ujar Diana sambil terisak


"Lalu, apa itu artinya kau seorang penipu? Kau berhasil menarik seseorang, lalu menipunya. Bagaimana jika dia tidak mendengarkan permintaan mu, apa kau rela kepera*wanan mu diserahkan? Aku sudah mengatakannya dari awal bahwa kau beruntung bertemu dengan ku." Pungkas Marvin ikut menjawab


Mendengarkan hal itu, Damian hanya memejamkan mata.


"Padahal kau sudah mengenal ku lebih awal. Membayar biaya rumah sakit nenekmu saja aku sangat mampu, bahkan jika perlu aku membeli rumah sakit itu hanya khusus untuk merawat nenek mu. Kenapa kau tidak datang menemui ku? Jika ternyata kau semurahan ini, kenapa tidak dari dulu aku melakukan apa yang pria ini lakukan padamu. Kau ingin uang, akan ku berikan. Kau ingin menjadi sekretaris, akan ku angkat kau menjadi sekretaris di perusahaan ku." Imbuh Damian menyuarakannya


"Aku tahu aku salah. Aku memang bodoh dan sudah menyesalinya. Tapi bagaimana lagi, aku sudah terjun dan harus tetap menyelam. Itu artinya aku memang tidak bisa hidup bebas dan terus berada dibawah tekanan Tuan Marvin." Ujar Diana tak henti menangis


Damian mengelak, dia tidak ingin mendengarkan Diana berbicara seperti itu.


Damian begitu saja berlalu pergi dari sana meninggalkan Diana bersama Marvin dengan sangat kecewa seolah marah dan tidak mempedulikannya lagi. Diana sendiri berpikir bahwa hubungan pertemanannya dengan Damian akan putus karena Damian tak akan peduli lagi padanya.

__ADS_1


Marvin hanya tersenyum smirk. Ia merasa sangat senang karena akhirnya kini giliran Damian yang marah pada Diana. Ia berpikir bahwa dirinya sudah berhasil memisahkan mereka dan membuat Damian membenci pada Diana.


Bersambung✍️


__ADS_2