Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 56 : Saling Berahasia


__ADS_3

Kediaman Keluarga Sander...


Marvin datang dalam keadaan marah. Kaki panjangnya melangkah lebar memasuki Mansion. Hati dan pikirannya masih kacau, dibayang-bayang akan kegundahan selepas mendapat ejekan dari Damian atas kejadian Diana kemarin.


Para pelayan yang berpas-pasan dengan Marvin saling memberikan salam penyambutan sembari menundukkan badan. Mereka sendiri keheranan apa yang terjadi pada Tuan kedua mereka yang datang terlihat marah.


"Selamat datang, Tuan Kedua..." Seru Para pelayan menyambut


Damian tidak peduli akan hal itu. Dia terus berjalan menuju kamarnya.


Nyonya Marie yang sedang duduk di sofa sembari membaca majalah sangat senang begitu melihat Marvin dan mengakhiri aktivitasnya segera menghampiri kedatangan putranya yang jarang pulang ke mansion. Ini adalah pertama kalinya lagi setelah ia dinobatkan sebagai CEO yang sering menjadikan hotel sebagai tempat pulang dikala kelelahan.


"Marvin, Kau pulang? Bagaimana dengan pekerjaan mu, hah? Kau senang, kau pasti banyak dipuji oleh karyawan dan sudah bisa bersaing dengan kakak tirimu, 'kan. Kau pasti banyak mengalahkan dia dalam tender yang diadakan, 'Kan. Sekarang kau sudah menjadi bos besar dan pasti banyak melakukan perkumpulan dengan para petinggi lainnya. Ayo bicara, katakan sesuatu pada ibu! Ibu sudah lama ingin mendengar ceritamu." Banyak bicara nyonya Marie sampai membuat Marvin jengkel pada ibunya sendiri yang lebih mementingkan derajat.


"Aku tidak mengukir prestasi apapun saat ini. Dan cukup, Ibu jangan bertanya apapun lagi padaku mengenai pekerjaan ku. Tak akan ada yang bisa mengalahkan dia dengan kearoganannya itu!" Ketus Marvin memarahi ibunya. Ia bahkan tidak menghentikan langkahnya sampai harus membuat ibunya yang sedang bicara ikut terseret-seret.


"Bagaimana bisa, Ibu bahkan sudah lama menantikan hari ini. Ibu pikir kau akan langsung bisa menyaingi dia." Ucap Nyonya Marie


Tangan ibunya yang sedang memegang bahu Marvin, dihempaskan begitu saja oleh Marvin. Keadaannya sedang marah, ditambah lagi harus menghadapi keegoisan ibunya saat ini semakin membuatnya tambah marah.


"Hey, Kurang ajar sekali kau pada ibu, ya." Marah Nyonya Marie


Marvin menghiraukan. Ia masih berlalu menaiki tangga tidak mendengarkan perkataan ibunya yang terus berbicara di belakang.


"Eh, Ada apa dengan Putraku? Apakah dia marah karena baru saja menghadiri tender dan dia mengalami kekalahan sampai dia kesal saat ini? Memang anak wanita itu kurang ajar, bahkan dia tidak memberi kesempatan pada putraku yang malah merasa tersaingi takut Putraku lebih hebat darinya." Dugaan Nyonya Marie yang salah dan menjelekkan Damian.


"Kau dengan putraku mana mungkin bisa dibandingkan. Jika bisa, perbedaannya sangat jauh." Ejek Nyonya Rosaline yang datang menghampiri.

__ADS_1


Bukan Nyonya Marie namanya jika dia tidak merasa marah dan membalas ejekan orang lain.


"Apa kau berbicara seperti itu??" Gertaknya menjawab


"Putraku sudah berkecimpung di dunia bisnis sudah 8 tahun di saat dia berusia 19 tahun. Semuda itu dia bisa memimpin perusahaannya sendiri bahkan sambil mengenyam pendidikan. Dibandingkan dengan anak mu yang baru seumur jagung, ibaratnya tanaman yang baru tumbuh siung ada orang yang menginjaknya saja dia tidak akan tumbuh lagi. Bahkan kau lupa ya, Damian dihari pertamanya dia bekerja sudah bisa menggeser perusahaan future group yang menjadi nomor satu saat itu. Sedangkan putramu, aku tidak pernah mendengarnya ada di berita." Ucap Nyonya Rosaline yang terus membicarakan keunggulan putranya dan merendahkan anak selirnya.


Nyonya Marie naik pitam. Dia tentu saja tidak terima atas perkataan merendahkan yang menyakitkan.


Tangannya sempat dilayangkan untuk memukul Nyonya Rosaline. Tapi untunglah Nyonya Rosaline lebih cekatan dan menangkis tangan itu.


"Tangan mu terlalu ringan. Sedikit-sedikit kau marah dan melayangkan tamparan padaku. Dari zaman kerajaan sampai sekarang, Selir memang merasa tersaingi oleh ratunya sendiri, mereka tidak melihat posisinya sebagai apa."


"Hidup itu panjang, dan darah lebih kental dari air." Ucap Nyonya Marie. Ia mengingatkan jika Tuan Brata dan Marvin juga memiliki hubungan darah. Dia kalah hari ini, tapi besok bukan berarti tandanya dia tidak akan ada di sana. Ia ingin melihat bagaimana Damian bisa melindungi ibunya dari keserakahan yang terus membanggakan pribadi dan kekuasaan anaknya.


"Jadi, Nyonya besar, jaga kekuatanmu. Jangan sampai kau diseret keluar saat namamu dihapus dari daftar keluarga. Bahkan berjalan sendiri…" Cerca Nyonya Rosaline


Nyonya Rosaline lah yang berhasil menampar Nyonya Marie dengan keras. Pelayan yang tidak sengaja lewat pun terkesiap kaget.


Nyonya Rosaline menantang Nyonya Marie untuk terus berbicara. Sementara Nyonya Marie masih tak percaya Nyonya Rosaline baru saja menamparnya. Nyonya Rosaline bertanya apakah harus sekali lagi memukulnya.


"Apakah aku harus menampar mu sekali lagi?" Ia mengayunkan tangannya.


Untunglah seorang pelayan menderai pertengkaran mereka dengan memberitahu kedatangan Tuan Brata. Dengan segera kedua Nyonya membereskan rambut mereka dan bersikap biasa saja. Hingga ketika Tuan Brata masuk, ia sama sekali tidak menghirup aroma pertengkaran di antara keduanya.


Nyonya Marie tak bisa membalas kali ini. Nyonya Rosaline berjalan keluar sambil sengaja mendepak Nyonya Marie hingga terjatuh ke sofa. Nyonya Marie buru-buru bangkit berdiri lagi, menolak untuk dijatuhkan. Ia bergumam apa ia bisa ditakut-takuti seperti itu. Ia memegangi pipinya yang sudah ditampar keras dan meminta es pada pelayan yang masih berdiri di sana dan pergi ke kamarnya.


Nyonya Marie menempelkan kantung es di pipinya. Ia mengomel baik ia maupun Nyonya Rosaline sama-sama istri Tuan Brata.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kenapa dia bisa begitu membanggakan posisinya dan anaknya di sini. Padahal aku juga istrinya tapi terus saja dia mendepak ku." Ucap Nyonya Marie


"Benar. Ada buku berjudul: Rasanya Sakit, karena itu Aku Wanita Simpanan." Balas Pelayan yang cukup sudah senior.


Nyonya Marie menghela napas panjang. Saat ini di mata ketua pelayan, apa yang terjadi di rumah ini pastilah menggelikan dan Nyonya Marie mengangguk.


"Kau beruntung karena miskin. Kau tidak perlu melalui semua ini. Aku juga miskin, tapi menjadi wanita kedua adalah jalan pintas ku agar lebih cepat kaya." Kata Nyonya Marie bersedih hati. Tiba-tiba ia ingat bahwa masih ada satu yang masih harus dilalui yakni mengantarkan anaknya agar bisa mendapatkan perusahaan di Amerika itu.


Kini giliran Nyonya Rosaline menemui Marvin di kamarnya. Ia ingin menanyakan perihal keadaan Damian karena pastinya mereka sudah bertemu sebagai pesaing bisnis. Ia tahu karena Tuan Brata meminta Damian untuk menjadi investor di perusahaan Marvin. Jadi, bukan tidak ada kemungkinan mereka bertemu meskipun dalam keadaan otak panas yang senangnya berdebat sekalipun.


Buru-buru ia pergi ke kamar Marvin untuk menanyakannya. Tapi Marvin dengan dingin menyuruh Nyonya Rosaline menanyakan perihal Damian pada orang lain.


"Apa kau bertemu Damian? Apa yang ia katakan? Apa ia baik-baik saja? Ia tidak sakit, bukan? Ia tidak menanyakan tentang aku?"


Marvin kesal, bukankah Nyonya Rosaline tahu nomor telepon Damian?


"Bukankah kau tahu nomor teleponnya. Kenapa tidak bertanya langsung saja pada dia." Ketus Marvin


"Damian tidak pernah menjawab panggilan ku." Nyonya Rosaline berkata Damian tidak pernah mengangkat telepon darinya. Ia lalu bertanya apa yang Marvin ketahui tentang Damian sekarang.


"Dia bahkan terlihat senang dan sering menghabiskan waktu dengan orang terdekatnya, bahkan sepertinya kau sebagai ibunya harus bersaing dengan orang itu." Maksud Marvin adalah Damian dengan Diana tapi dia tidak ingin terus terang mengatakan bahwa Damian sedang dekat dengan wanita lain.


"Maksud mu Asisten Joo?? Siapa lagi jika bukan dia yang selalu pergi kemana-mana tanpanya."


"Huh, Jika aku cerita, semua orang pasti akan terkena serangan jantung mendadak. Akan banyak korban jiwa yang bertaburan. Aku adalah pria yang baik tidak menceritakan rahasianya, karena dia sendiri menyimpan rahasiaku yang bisa saja dia gunakan senjata gencatan untuk menghancurkan karir ku." Lontar Marvin yang penuh tanda tanya dipikiran Nyonya Rosaline. Ia tidak mengerti pada ucapan Marvin yang penuh kalimat teka-teki itu. Apakah ini semacam clue sebuah rahasia?


Bersambung✍️

__ADS_1


__ADS_2