Istriku Seutuhnya

Istriku Seutuhnya
Bab 24 : Gadis Milikku


__ADS_3

"10 Milyar!!!"


Di detik-detik terakhir membuat semua harus senam jantung.


Semua pasang mata menatap pada seorang pria yang tiba-tiba mengangkat papannya sembari menyebutkan nominal yang sangat tinggi, membuat seisi club terdiam, seolah mengatakan betapa gilanya pria itu, tak terkecuali Diana yang juga menatap pria itu tak percaya.


Dia adalah Marvin...


"Waw, harga yang fantastis, apakah tidak ada lagi yang ingin menawar? 10 Milyar untuk harga tertinggi..." Marvin menyesap sedikit cocktail yang dia pesan dengan wajah sombongnya seperti biasa, seolah ia yakin tidak akan ada yang bisa menawar setinggi dia. Sedangkan Deon yang duduk di sebelahnya hanya mencibir, ia kira Marvin akan cuek dan tidak berniat untuk mengeluarkan sepeser uang pun untuk pelelangan ini, ternyata malah sebaliknya.


"Kita hitung mundur 1... 2... 3. Pemenang lelang adalah Pillagers 32 dengan harga 10 Milyar, yang menjadikan harga tertinggi pelelangan virgin one night stand tahun ini, untuk Pillagers 32 silakan maju ke depan dan menjemput gadis kecil anda malam ini." Titah Tarisa dipersilakan


Marvin berdiri dari tempatnya, ia berjalan dengan langkah pasti tak mempedulikan pasang mata yang sedang menatap penuh kebencian padanya.


Ia melangkahkan kakinya menuju tempat panggung Diana berada. Diana sedang berdiri di kotak kecil setinggi 30 cm, Marvin mengulurkan tangannya sedangkan Diana segera meraih tangan Marvin walaupun sempat tersirat ungkapan ragu dari wajahnya yang ketakutan.


"Baiklah Tuan, anda bisa membawa gadis kecil ini tapi sebelumnya anda harus mengisi data informasi serta uang muka 30% sedangkan sisanya bisa anda berikan kepada gadis kecil anda." Kata Tarisa


Marvin mengangguk mengerti, ia menuntun Diana menuju temannya berada, sedangkan temannya itu setia menatap dua pasang manusia itu dengan pandangan takjub serta iri, kombinasi yang sangat indah di pandang.


"Aku titip gadisku, jangan biarkan seujung baju ataupun kukunya di sentuh oleh siapapun, termasuk kau." Kecam Marvin dengan tatapan mengancam, ia tidak akan seorangpun membiarkan miliknya di sentuh orang lain sebelum ia sendiri menyentuhnya.


Deon mengangguk patuh walaupun sebelumnya ia mencibir sikap posesif Marvin.


"Tunggu di sini sebentar ya sayang, aku akan segera kembali setelah mengurus beberapa berkas untuk memilikimu. Aku berjanji setelah ini kita akan bermain..."


Diana hanya mengangguk pelan. Seluruh bulu kuduknya berdiri mendengarkan kata-kata Marvin yang terdengar menyeramkan di telinganya, serta ekspresi wajahnya yang seolah tergambar warna merah dan putih. Maksudnya putih dingin tapi penuh gairah seperti merah api menyala.


Setelah selesai mengurus semua berkas yang club berikan, Marvin segera pergi meninggalkan club membawa Diana bersamanya.


Marvin merengkuh pinggang Diana yang sebagian kulit tubuhnya terekspos bebas dari kain merah polos yang ia kenakan. Sebelum pergi, Deon menggodanya untuk tidak bertindak kasar, sedangkan Marvin hanya mencibir seolah mengatakan ia mengerti apa yang harus ia lakukan bersama gadis miliknya.

__ADS_1


Di dalam mobil mereka hanya diam, begitupun dengan Diana yang terus menatap keluar dengan memainkan jari-jarinya tidak nyaman penuh kecemasan.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Marvin tiba-tiba


Diana mengalihkan pandangannya ketika Marvin membuka suaranya. Diana hanya menggeleng, ia tidak bohong karena memang ia belum makan sedari kemarin.


Marvin mengangguk mengerti lalu memutarkan mobilnya.


"Ki-kita ingin kemana, Tuan?" Tanya Diana memberanikan diri membuat Marvin tersenyum. Senyum yang lagi-lagi membuat bulu kuduk Diana berdiri merinding.


Marvin menghentikan mobilnya saat rambu-rambu lalulintas menunjukkan warna merah, ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Diana, sangat dekat membuat Diana refleks memundurkan tubuhnya.


"Kita akan pergi makan terlebih dahulu sayang, apa kau tidak sabar ingin segera aku makan?" Tubuh Diana beringsut, ia sangat takut tapi dengan sekuat tenaga ia melawan rasa takutnya sendiri, Marvin tersenyum tipis saat melihat Diana menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu ia meraih surai rambut Diana yang sedikit berantakan, menyelipkannya ke daun telinga gadis itu, sehingga memperlihatkan telinga putih bersihnya.


Diana menelan salivanya kuat-kuat penuh ketakutan.


"Kauu adalah gadisku malam ini, jadi jangan panggil Aku, Tuan." Ucap Marvin pelan, suaranya sangat pelan hampir tidak terdengar oleh Diana jima saja ia tidak berbicara dengan jarak sedekat itu dengannya.


"Sayang... Tapi jika kau lebih nyaman memanggilku Tuan, Aku tidak keberatan." Balas Marvin


Diana menimbang perkataan Marvin sebelum akhirnya ia menjawab.


"Saya akan tetap memanggil anda Tuan." Jawab Diana pada akhirnya, Diana rasa Marvin bukanlah pria sembarangan, mana pantas Diana memanggil Marvin dengan sebutan Sayang.


Marvin mendekatkan mulutnya ke telinga Diana, menjilatinya dengan gerakan pelan membuat Diana tersentak dan refleks meremas lengan Marvin dan memundurkan nya.


"Tuan!!" Diana tak mampu mengatakan apapun kecuali memanggil sebutan Marvin


Marvin tetap menjilati telinga Diana sampai basah, ia menggigitnya pelan membuat gadis itu berteriak kesakitan, sebelum akhirnya ia mengakhiri kegiatannya.


"Baiklah, sesuai permintaanmu aku adalah Tuan mu." Kata Marvin dengan senyum yang Diana tak mengerti maksudnya, sampai akhirnya pria itu kembali berkonsentrasi mengendarai mobilnya menuju restoran.

__ADS_1


Tak berselang lama, Marvin memarkirkan mobilnya, ia berjalan membukakan pintu untuk Diana, padahal gadis itu sudah ingin membukanya sendiri.


Marvin merengkuh pinggang Diana untuk merangkulnya, mereka berjalan bersama dengan posisi seperti itu.


Tak jauh dari tempat mereka terdapat 4 pria dengan pakaian berantakan, sepertinya mereka baru selesai mabuk-mabukan di dalam.


"Kau lihat tubuh gadis itu? Aku sungguh sangat ingin memakannya." Kata salah satu dari mereka, mendengar itu tangan Marvin mengeras, baru saja ia akan mendekati pria itu untuk memukulnya, tapi Diana menahan lengannya membuat langkahnya terhenti.


"Biarkan saja Tuan." Mendengar perkataan Diana membuat Marvin heran


"Apa kau tidak marah mendengar mereka berkata seperti itu?"


"Untuk apa? Tidak ada gunanya lagi sekarang..." Jawab Diana pasrah karena ia terlanjur masuk ke jurang kemaksiatan


Marvin tersenyum tipis, ia hampir lupa jika wanita itu menjual tubuhnya demi uang, ia hampir lupa karena selama perjalanan wanita itu selalu menunjukkan wajahnya yang polos, hampir saja ia tertipu oleh casing Diana.


Sesampainya mereka di restoran, mereka memesan makanan dan memakannya dalam diam tidak ada perbincangan sedikitpun. Diana tidak banyak makan walaupun dia lapar, karena dia merasa tidak sopan jika makan terlalu banyak juga karena ia tidak terbiasa makan di tempat mahal.


"Sudah?" Tanya Marvin yang diangguki Diana sebagai jawaban


"Kau tunggu aku di luar, aku akan membayar billnya."


Diana mengangguk, ia berjalan keluar sedangkan Marvin menuju kasir.


Selama ia menunggu Marvin, ia berkali-kali mengusap tangannya yang polos memakai dress sebahu, hari semakin malam dan udara semakin dingin, itu membuat tulang Diana ngeri saking dinginnya yang menyeruak.


"Sepertinya Tuan itu sangat baik. Beliau tidak akan mungkin berani macam-macam padaku, bukan." Menduga Diana dalam benaknya mengenai Marvin


PLUK...


Diana terhenyak. Tiba-tiba ada sebuah jas yang menyampir di pundaknya, membuat rasa hangat menyalur ke tubuhnya, ternyata Marvin yang menyampirkan jas miliknya untuk Diana. Perasaan Diana menghangat, ia tak tahu jika Marvin lelaki seperti itu.

__ADS_1


"Apa yang kau tunggu, apa kau ingin ku makan di sini?" Tanya Marvin lantang sembari menatap Diana yang masih mematung di tempatnya, membuat gadis itu sedikit berlari menuju Marvin yang sudah membukakan pintu untuknya.


__ADS_2