
Lanjutan...
"Aku terharu selama bekerja bertahun-tahun di sini aku akan melayani dua Tuan, Tuan Damian dan Tuan muda kecil." Ucap Bu Isma yang wajahnya sudah memerah ingin menangis.
"Eeh... Bu Isma, kenapa kau malah jadi ingin menangis? Bekerja sudah lama di sini memang terasa sekali peluhnya. Sudah jangan menangis! Kau harus lebih bekerja ekstra mendapatkan tugas baru untuk menjaga nyonya nanti." Ucap Emma yang menenangkan.
"Bukan itu. Yang dikatakannya benar, di rumah ini tersedia cctv di berbagai sudut. Bagaimana jika Tuan Damian mengetahuinya kita diam-diam menguping orang yang sedang menjalani malam pengantin. Sebaiknya kita bubar saja!" Pungkas Bu Isma dengan tangis sesenggukan kecilnya.
"Benar. Ayo, ayoo... Kita pergi dari sini sebelum mendapatkan masalah!" Ajak pelayan mudalain.
"Lagipula Tuan sedang sibuk. Mana ada waktu ketika pertempurannya selesai langsung pergi keluar pasti dia langsung tumbang." Tolak pelayan junior dua.
"Bukan masalah itu bodoh! Tapi cctv terpasang di ruangan ini." Debat Pelayan junior satu menimpali yang membuat semuanya bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
Berbeda dengan Emma yang tidak kapok, ia malah lebih leluasa mendekatkan kupingnya lagi untuk mendengarkan suara di dalam dan Bu Isma masih sedang sibuk menghapus air matanya.
Kala itu, Damian dirundung kekecewaan dan hendak membuka pintu kamarnya untuk pergi.
"Baiklah, aku mengerti kau memang belum siap dan aku perlu banyak meyakinkan mu lagi agar kau bisa mencintai ku. Istirahatlah! Maaf atas perkataan ku tadi." Kata Damian terdengar bergetar dan setelahnya ia pergi begitu saja ke arah pintu yang dikunci dan membukanya meninggalkan Diana sendirian.
Emma yang masih ada di depan pintu dengan menopangkan dirinya mendengar suara di dalam tersungkur hebat begitu pintu itu dibuka, tubuhnya terjatuh ke depan dan membungkuk sujud dahinya menyentuh ke lantai sampai ia masuk ke kamar.
Hal itu disaksikan juga oleh Diana yang terkejut sampai terperanjat melihat Emma masuk ke kamar dalam keadaan terjatuh.
Bukan hanya Emma dan Bu Isma yang terkejut melihat Damian keluar dari kamarnya begitu tiba-tiba, Damian sendiri sama-sama terkejutnya melihat kedua pelayannya itu ada di depan kamarnya. Damian mengerti apa yang dilakukan Emma dan Bu Isma di depan kamarnya. Ia begitu menatap Bu Isma dengan tatapan biasa selalu dingin, masam dan tajam berbeda dengan Damian yang baru ia temui 1 jam yang lalu dan terlihat girang.
Damian tidak mempedulikan segalanya. Ia tetap berjalan keluar menuju ruang kerjanya.
Emma merasa sangat malu dan dirundung kesalahan besar. Setelah kejadian ini ia sendiri tidak tahu lagi akan bagaimana menunjukkan wajahnya di hadapan Damian yang pasti akan menghukumnya.
Berbeda dengan Bu Isma, sedari tadi ia berpikir dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Damian yang terlihat kembali seperti Damian yang ia kenal. Apakah Damian dan Diana sedang bertengkar dan membuatnya marah? Ia terlihat mencuri-curi pandang dengan Diana yang menyimpan kesedihan juga.
"Emma, Kau tidak apa-apa?" Ucap Diana menghampiri dan membantu bangkit.
Diana sendiri melihat Damian semakin jauh dari jangkauannya, setelah membantu Emma berdiri ia langsung berlari mengejar Damian yang dipanggil sama sekali tidak menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Damian, Damian... Tolong berhenti dengarkan aku! Maafkan aku tidak menuruti keinginan mu, jika kau memang menginginkannya maka sekarang aku siap!" Teriak Diana memanggil dan terus saja berlari.
"Damian...!" Panggil Diana terus saja tanpa terhenti ataupun menoleh meskipun istrinya itu berusaha meminta maaf.
Brugghh...
KYAA!
__ADS_1
Aggghh...
Diana terus saja menelusuri selasar itu dengan berlari tanpa melihat benda sekitarnya hingga tak terasa karena larinya terlalu ke samping kakinya tersandung ke tiang balkon tangga hingga membuatnya terjatuh keras ditambah dahinya terbentur hingga sedikit mengeluarkan darah.
"Nyonya Diana!!" Pekik Bu Isma dan Emma berteriak dan refleks berlari menghampiri penuh kekhawatiran.
Diana meringis dan sepertinya kakinya terkilir hingga tidak bisa berdiri.
"Tuan Damian, Nyonya!!" Teriak Bu Isma memanggil.
Damian sendiri sudah menoleh dari awal dan melihat bagaimana Diana terjatuh saat mendengar suara teriakan dan benda keras seolah jatuh itu. Tentu saja Damian sangat syok dan khawatir, ia bergegas berlari cepat memutar arah untuk menghampiri istrinya.
Nada suara terdengar khawatir menanyakan keadaan istrinya. Matanya begitu berbinar menatap wajah istrinya mencari kepastian jawaban bahwa Diana baik-baik saja.
"Kau baik-baik saja? Kau bisa berdiri?" Tanya Damian.
Diana hanya menahan rasa sakit. Kaki kanannya tidak bisa ia gerakkan dan sekali mencoba berdiri meskipun dibantu, ia malah meringsut ke bawah lagi.
Belum sepenuhnya berdiri, nyeri di pergelangan kakinya membuatnya hampir terjatuh kembali. Untung dengan sigap Damian menangkap kedua bahu Diana dari belakang.
Bergegas Damian menggendong Diana ala bridal style dan membawanya kembali ke kamar mereka dan mendudukkannya di kasur dibuntuti oleh dua pelayan.
"Emma, ambilkan kotak p3k di lemariku dan obati luka di dahinya!" Titah Damian segera dipatuhi oleh Emma yang bergegas pergi ke ruang ganti Damian untuk mengambil kota p3k.
"Mana lagi yang sakit?" Tanya Damian seperti menginterogasi.
Kala Emma sedang mengobati luka di dahi Diana. Terdengar suara ringisan kesakitan begitu hebat dari Diana melengking di seisi kamar itu yang memantul ke dinding. Bukan karena Emma yang mengobati luka dahinya, melainkan Damian yang tanpa ada pemberitahuan langsung memelintir kaki Diana begitu saja tanpa ada aba-aba di saat Diana sibuk menundukkan wajahnya.
Orang lain dan Diana pikir Damian sengaja menyakiti Diana agar bisa membuat kakinya patah. Dan Diana khawatir jika kemarahan Damian itu sendiri benar-benar ada yang mencari celah untuk mencoba menyakitinya. Bahkan ia sudah menganggap Damian yang tidak-tidak bahwa suaminya itu seorang penipu.
"Tuan, Anda menyakiti Nyonya!?" Tegun Bu Isma pun menganggap Damian melakukan kejahatan yang pastinya ia siap pasang badan untuk membela Diana.
"Sekarang coba gerakkan kaki mu!" Ucap Damian tidak peduli pada ucapan orang lain.
Dengan rasa khawatir akan kakinya, Diana perlahan mengikuti arahan dari Damian dengan menggerakkan sedikit demi sedikit kaki yang sempat terkilirnya itu.
"Keadaannya sudah membaik?" Tanya Damian.
Ya. Tidak terjadi sesuatu apapun pada Diana yang ia pikir kakinya telah patah dan tidak bisa berjalan lagi seumur hidup. Malah ia merasa tidak sakit lagi dan kembali seperti biasa meskipun ada sedikit rasa berdenyut akibat cara mengatasi Damian tadi.
"Kaki ku sudah membaik..." Jawab Diana malu yang sudah menganggap tidak-tidak pada suaminya sendiri.
"Lihat itu! Kalian sudah salah paham kan padaku. Aku bukan menyakitinya, tapi mengatasi kaki kanan istriku yang terkilir. Bu Isma, kau tenang saja karena aku tidak melakukan kejahatan seperti yang kau pikirkan pada nyonya mu ini. Malah seharusnya kau memarahi dia karena telah membohongi suaminya karena nyonya mu ini sebenarnya kakinya terkilir. Nasihati dia bahwa menjadi seorang istri itu tidak perlu berbohong." Kata Damian menjelaskan.
__ADS_1
"Hhe... Iya Tuan. Saya pikir Tuan mematahkan kaki Nyonya. Maaf sudah bersangka buruk..." Jawab Bu Isma malu sendiri.
"Dan Diana, lain kali jika ada sesuatu katakan saja padaku tidak perlu sungkan ataupun kau tidak ingin merepotkan ku. Apapun masalahnya dan kau berbohong padaku aku akan tetap mengetahuinya. Aku tidak bisa dibohongi maka dari itu jangan mencoba-coba berbohong padaku. Itulah mengapa selama aku memimpin perusahaan aku tidak pernah tertipu karena aku memiliki kemampuan pendeteksi kebohongan." Ujar Damian mengajaknya bercanda di kalimat akhir.
"Baik. Aku berjanji tidak akan berbohong lagi. Jadi, kau ingin memaafkan ku dan kau tidak marah lagi?"
"Siapa yang marah? Malah aku yang seharusnya meminta maaf dibalik kejadian malam ini, jika aku mendengarkan mu maka kau tidak akan terkilir seperti tadi." Ucap Damian tersenyum.
Diana membalas senyum Damian. Mereka saling bertatap terpancar penuh ketulusan di dalamnya.
Emma pun selesai mengobati luka kecil Diana. Sedari tadi ia hanya menjadi telinga keenam mendengar keromantisan mereka yang membuatnya terkagum, namun merasa iri segera ingin memiliki pasangan.
Bu Isma hanya tersenyum melihat tatapan Tuan dan Nyonya-nya itu. Berharap hari ini tidak akan usai dan terus melihat keharmonisan mereka berdua meskipun tadi sempat bertengkar.
"Aku tidak pernah melihat tatapan Tuan setulus ini. Bagaimana perlakuannya tadi pada seorang wanita tidak pernah aku lihat kepeduliannya terhadap sesama sejak pertama masuk ke dalam rumah ini yang selalu saja Tuan hidup sendiri dan ia sangat cuek untuk meladeni wanita jika ada yang menggodanya. Tuan sudah membuatku merasakan seperti memiliki anak dan melihat anaknya sudah menikah. Nyonya besar Rosaline pasti sangat bahagia jika dia yang melihat pemandangan ini. Tuan Damian sekarang sudah menemukan mataharinya yang akan membuat es itu mencair. Meskipun sepertinya tadi mereka sempat bertengkar tapi takdir selalu memiliki cara agar mereka bisa dekat kembali." Gumam Bu Isma sembari tersenyum-senyum menatap kedua pasangan baru itu.
Damian adalah manusia yang peka. Selain itu, orang lain tidak pernah sadar bahwa sebenarnya Damian hanya berpura-pura tidak tahu padahal ia adalah orang yang mengetahui perasaan orang lain layaknya peramal yang bisa menerawang. Itu artinya Damian selalu memanipulasi dirinya sendiri untuk orang lain agar ia terlihat tidak peduli dan semua yang tidak tahu pun menganggap ia cuek, padahal orang cuek adalah orang yang lebih memperhatikan sekitar sangat tinggi dengan cara kepeduliannya berbeda dari yang lain.
Damian tahu dari awal bahwa kaki Diana terkilir. Hanya saja ia selalu mengetes pasangannya apakah ia bisa mengungkapkan perasaan dan membutuhkannya atau tidak. Tapi ternyata Diana selalu memberikan kesempatan Damian untuk memberikan bumbu cinta yang tulus. Perihal musang yang mencuri durian saja ia akan tahu, apalagi memahami keadaan sekitar layaknya seorang psikolog ia sangat lihai.
"Sekarang istirahatlah." Damian pun membaringkan Diana dan menyelimutinya.
"Kalian juga istirahat karena ini sudah malam." Titah Damian pada Bu Isma dan Emma.
Mereka bergegas keluar dari kamar Damian ke kamarnya masing-masing.
Sepanjang berjalan di Selasar, Emma terus saja membahas apa yang masih membingungkan baginya.
"Tadi terjadi sesuatu apa ya pada Tuan Damian dan Nyonya Diana. Jika itu terjadi, kenapa tidak melihat noda di spreinya?" Ujar Emma berharap pada Bu Isma yang memberi jawaban.
Bu Isma cukup kesal dengan pikiran pelayan juniornya yang mesum itu hingga menggetok pelan dahi Emma menggunakan tangan sendiri.
"Kau ini sedang membahas apa? Nyonya sedang sakit tapi kau masih saja mempermasalahkan kegagalan Tuan." Imbuh Bu Isma memarahi.
"Owh, Jadi Tuan gagal, ya. Yah sayang sekali padahal aku tidak sabar menanti Tuan Muda kecil di rumah ini untuk menjadi pengasuhnya, dengan begitu gajiku akan naik, kan. Mungkin aku bisa jadi Mba Lala. Hhaa..." Bercanda Emma, namun membuat Bu Isma geleng-geleng kepala.
"Tapi, tadi suara apa yang aku dengar jika bukan berasal dari mereka." Tanya Emma lagi tidak ada hentinya.
"Kuping mu saja yang mesum. Tidak suara apa-apa tapi setan sendiri yang menghembuskannya ke telingamu. Kau terlalu banyak menonton film biru."
"Tidak pernah, aku tidak pernah menonton film seperti itu. Bu Isma, kau adalah yang tertua dan pelayan senior di sini dan kau sudah aku anggap seperti ibuku sendiri maka berhenti bernegosiasi denganku."
"Siapa? Dari tadi kau saja yang terus mengoceh sampai kepalaku ini pening mendengarnya. Jika ibumu di kampung tahu kau menonton film biru maka kau akan diikat di pohon pisang."
__ADS_1
"Mana ada. Aku tidak pernah menontonnya, ya." Ucap Emma kelewat kesal pada Bu Isma yang tak hentinya menggoda.
Mereka pun saling mengejar berlarian di selasar tak kuasa menerima ejekan dari Bu Isma.