
Pagi Harinya...
Tangan Diana bergerak menutupi wajahnya saat sinar matahari menerobos masuk dari sela-sela jendela kaca yang tertutup gorden putih, kelopak matanya bergerak sebelum akhirnya terbuka sempurna, ia menghembuskan napasnya kasar saat ia sadar di mana ia sedang berada, ia melirik ke segala arah mencari sosok pria yang bersedia menolong biaya operasi Neneknya.
Ternyata lelaki itu sudah pergi, apa yang ia pikirkan? Bagaimana mungkin lelaki itu ingin menghabiskan harinya hanya untuk wanita murahan seperti Diana? Bahkan Diana sendiri ingin mempertahankan keperawanannya.
Diana melirik meja nakas yang berada tak jauh dari ranjangnya, terdapat koper yang terbuka berisi uang seperti yang Diana butuhkan, dalam koper itu terdapat uang sejumlah 8 Milyar.
Marvin sudah menepati janjinya. Giliran sekarang Diana yang menepati janji pada Marvin. Pria dan wanita yang membuat kesepakatan itu, tak saling mengenal nama satu sama lain. Tapi tidak perlu khawatir, Diana tidak akan membawa kabur uang itu, dia akan kembali mencari Marvin untuk bekerja dengannya tanpa bayaran.
Di Rumah Sakit...
Diana sedikit berlari dengan senyum lebar dari bibirnya, ia terus memegang pendorong kopernya dengan sangat erat, senyumnya semakin lebar sampai rentetan giginya terlihat saat kedua bola matanya menangkap bayangan pria yang sudah sangat ia kenal.
"Dokter..." Teriak panggil Diana nyaring, membuat orang yang ia panggil langsung menoleh, bibir pria itu ikut terangkat tapi seketika senyumnya hilang saat matanya melihat wajah pucat Diana yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Ada apa dengan mu? Kenapa wajahmu pucat seperti ini?" Tanya Dokter teman ibunya dahulu sembari tangannya terangkat memegang wajah Diana, memastikan apa yang sedang terjadi dengan gadis itu.
"Tidak terjadi apa-apa denganku Dokter, Aku sudah mendapatkan uangnya." Kata Diana mengalihkan pembicaraan dengan senyum lebar yang sengaja ia buat untuk menenangkan Dokter
Dokter pun ikut tersenyum tapi ia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya akan gadis ini, darimana ia bisa mendapatkan uang itu dengan cepat? Dan lagi... ada apa dengan wajah pucat gadis ini?
"Apakah wajah ku memang terlihat pucat, Ya? Apa karena aku tidak makan? Makan pun hanya satu kali dan itupun sedikit kemarin malam." Ujar Diana bertanya-tanya karena Dokter terus memperhatikannya
"Darimana kau mendapatkan uang itu?" Tanya Dokter penuh penyelidikan, membuat Diana gugup, lelaki itu tidak boleh tahu apa yang telah Diana lakukan demi mendapatkan uang itu, Diana yakin saat Dokter teman ibunya itu tahu dan Dokter itu pasti akan menyalahkan dirinya sendiri.
Dia tidak berdosa. Dia hanya berjasa telah mengorbankan tenaganya untuk mengabdi pada seorang pria untuk batas yang entah sampai kapan selesai.
"Aku mendapatkan pinjaman dari teman lamaku Dokter. Dokter tidak perlu khawatir." Jawab Diana
"Hmm... Baiklah. Nenek mu akan segera dilakukan operasinya... Kau tidak perlu khawatir lagi. Dan masalahnya, bagaimana untuk membayar hutang mu yang besar itu pada teman mu nanti?" Kata Dokter percaya saja, namun masih tampak ragu
Selesai Dokter berbicara, Dokter ingin menjawabnya. Tapi Diana merasa pandangannya mengabur dan kepalanya sangat berat, tubuhnya sedikit terhuyung, hampir saja ia terjatuh jika Dokter tidak menahan lengannya.
Di depan salah satu ruangan di mana ada Diana terbaring di sana, Dokter sedang berbicara dengan salah seorang dokter yang menangani Diana, sebelum akhirnya dokter yang Diana kenal masuk ke ruangannya.
Di dalam ruangan tersebut Dokter menatap tubuh lemah Diana yang sedang tertidur lelap di atas ranjang, ia terus bertanya dengan apa yang telah terjadi pada gadis ini, ia sudah kenal Diana lama dan selama itu pula Diana jarang sekali sakit bahkan saat ia kelelahan karena mencari uang ia tidak pernah sekalipun pingsan.
Dokter yang bernama Jeremy itu, berusia 49 Tahun.
Seorang Dokter yang pernah memiliki cinta bertepuk sebelah tangan pada ibunya Diana dahulu. Ia menyaksikan bagaimana Ibunya Diana menikah dengan Mahendra, namun ia ikhlas dan masih tetap menjalin hubungan persahabatan yang baik meskipun mereka sudah memiliki keluarga masing-masing sampai takdir memanggil ibu Diana. Dan Dokter Jeremy sangat menyayangkan hal itu.
__ADS_1
la meraih surai gadis itu yang berantakan, sedikit membenarkannya agar terlihat sedikit rapi, memperlakukan layaknya seperti anaknya sendiri.
Dokter Jeremy, ia menggertakkan giginya kesal. Sudah mendengar jika Diana dan Neneknya adalah korban keserakahan Mahendra. Ia tidak habis pikir bisa-bisanya Mahendra menelantarkan anak kandungnya sendiri. Dia sudah tahu bahwa hubungan Diana dengan Ayahnya tidak membaik.
"Kasihan sekali dirimu, Diana. Kau menjadi korban keganasan Ayah mu pada sebuah harta. Ibumu pasti sedang bersedih hati... Dan sekarang masalahnya darimana kau mendapatkan uang sebanyak itu sedangkan Ayah mu yang memberikannya tidaklah mungkin. Maafkan paman yang tidak bisa membantumu..."
"Bagaimana tubuh kecil dan kurus mu ini. Bisa sanggup menanggung bebannya dunia yang diberikan padamu..."
Tubuh Dokter Jeremy menegak saat kelopak mata Diana bergerak dan memperlihatkan kedua bola matanya, Diana sedikit mengerjap menyesuaikan cahaya ruangan tersebut dengan retinanya.
"Kenapa aku ada si sini, Dokter?" Tanya Diana yang merujuk kepada Dokter Jeremy, sedangkan lelaki itu tersenyum lega.
"Kau tadi pingsan, Diana."
"Apa itu buruk?"
"Tenanglah, tidak ada yang perlu di khawatirkan, kau hanya kelelahan, kau hanya perlu menghabiskan infusmu. Sekarang minum dulu vitamin mu..." Dokter Jeremy membantu Diana untuk duduk, lalu ia memberikan beberapa butir vitamin dan juga air putih untuk Diana minum.
"Jangan lupa untuk menghabiskan vitamin mu, Ya. Sekarang beristirahatlah..."
"Dokter, Bagaimana keadaan Nenek?"
"Nenek mu baik-baik saja, Diana."
"Lalu, Kapan Nenek bisa dioperasi?"
"Besok malam hari. Pihak rumah sakit sudah menemukan pendonor yang cocok untuk Nenek mu. Sekarang yang perlu kau pedulikan adalah kondisi tubuhmu sendiri. Sekarang istirahatlah... Tubuh mu sangat kelelahan dan kau terlalu banyak pikiran." Dokter Jeremy membelai rambut Diana pelan sampai gadis itu terlelap pengaruh obat yang diminumnya sebelum akhirnya ia meninggalkan ruangan gadis itu
...***...
Di pagi hari yang akan menuju siang dengan panas matahari yang mulai terik menyinari bumi, mobil sport hitam melaju dengan lancar di jalanan kota Jakarta, di dalamnya Marvin sedang duduk berkonsentrasi mengendarai mobil kesayangannya itu.
25 menit yang lalu, Ibunya menelpon setelah mendapatkan kabar jika Marvin sudah kembali ke indonesia, Nyonya Marie meminta Marvin untuk pulang ke mansion, karena ada yang ingin ayahnya bicarakan padanya.
Gerbang besar dan tinggi berwarna hitam otomatis terbuka. Ah lebih tepatnya dibukakan oleh dua orang penjaga saat mereka melihat mobil Marvin, karena itu adalah mansion Keluarga Sander, Keluarga konglomerat sejagat raya negara Indonesia, maka tidak heran jika keamanan di Mansion Sander sangat ketat.
Mobil Marvin memasuki pekarangan rumahnya yang sangat besar, berputar-putar di sana sampai akhirnya ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu utama.
Sebelum keluar Marvin meraih ponselnya, dari tempat Marvin berdiri sudah terlihat barisan pelayan di depan pintu utama, seolah menyambut Marvin yang datang, sedangkan di ujung jalan ada seorang pria yang sudah sangat ia kenal.
Marvin melewati barisan wanita tadi dengan santai dan otomatis setiap Marvin melewati mereka menunduk memberikan hormat serta dengan serentak mengatakan 'Selamat Datang Tuan Muda' walaupun Marvin hanya anak tiri dari istri kedua, tapi dia memiliki hak yang sama seperti Damian.
__ADS_1
Di ujung sana pria tua yang bertugas sebagai kepala pengurus mansion yang menjadi tangan kanan Pak Brata menyapa Marvin, ia memberi tahukan jika Tuan Besar atau lebih tepatnya Ayah Marvin sudah menunggu mereka di ruang baca, Marvin mengangguk mengerti.
"Ibuku di mana?" Tanya Marvin pada Kepala pengurus Mansion yang tidak lain adalah Hartanto, ia adalah sepupu sekaligus kepala pengawal kepercayaan Ayah Damian dan Marvin, ia juga turut membantu menghandle masalah perusahaan Keluarga Sander.
"Nyonya berada di dapur katanya ia ingin menyiapkan makanan kesukaan Tuan Muda."
Marvin berdecak kesal.
Dia berjalan gagah dan mantap dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celananya.
"Siapa yang sudah menyuruhnya untuk bekerja di dapur. Ini pasti karena ulah wanita yang berkuasa seperti Ratu itu." Kesal Marvin. Maksudnya adalah Nyonya Rosaline.
Bergegas Marvin pergi ke dapur tanpa merasa kesulitan letaknya Di mana. Walaupun ia sudah lama tidak menginjakkan kaki di Mansion itu.
Di sana ia melihat ibunya yang sedang memasak sendirian di dapur. Tak ada satupun pelayan yang membantunya.
Prang...
Suara pecahan piring yang sengaja Marvin jatuhkan.
Dia menarik ibunya yang sedang memasak dari dapur membawa keluar dari sana.
"Siapa yang sudah memperlakukan ibu di seperti ini? Apakah tidak ada satupun pelayan di rumah ini yang membantu ibu? Ibu adalah nyonya di rumah ini dan seharusnya mereka patuh pada nyonya lainnya juga." Geram Marvin
Mendengar keributan, Nyonya Rosaline sebagai istri pertama dan nyonya utama di Mansion itu keluar.
"Oww,,, Rupanya putra dari selir ku sudah pulang, Ya. Selamat datang Tuan Muda kedua. Kenapa kau marah melihat ibumu diperlakukan seperti itu? Bukankah dia seorang selir yang tidak bisa disamakan seperti Ratu." Ketus Nyonya Rosaline
"Kau pikir ini kerajaan, Ya. Dan kau tinggal di istana sebagai Ratu dari Raja sampai masih menganut kepercayaan seperti itu di dunia modern." Sarkas Marvin membela ibu kandungnya
Nyonya Marie menarik Marvin untuk menenangkannya. Dia pintar bersandiwara dihadapan semua orang sampai Marvin sendiri berhasil dikelabuinya. Seolah Nyonya Marie memang orang yang tersakiti selama ini.
"Marvin, sudahlah biarkan. Ibu sudah biasa diperlakukan seperti ini." Hentikan Nyonya Marie dengan wajah yang di lesu-lesukan
Nyonya Rosaline sendiri sampai jijik melihat sandiwara madunya.
"Ibu sudah sering mengatakan pada mu jangan pernah memanggil dengan Nyonya Rosaline lagi, Dia adalah sama ibumu juga. Bukankah ibu sudah sering memintamu untuk memanggilnya Ibu? Dan lagi berhenti memanggil ibu dengan sebutan Nyonya, jangan paksa mereka untuk memanggil ibu dengan Nyonya, karena ibu bukanlah Nyonya di Mansion ini. Ibu akan marah jika tahu kau memaksa orang memanggil ibu dengan sebutan nyonya lagi." Ujar Nyonya Marie mengeluarkan air mata buaya
"Tidak perlu merendah, Bu. Mereka saja yang terlalu membanggakan posisinya." Ketus Marvin menatap Nyonya Rosaline seolah menyindirnya
"Heh... Memiliki anak dari hasil pernikahan kedua saja bangga!! Dia hanya menumpang hidup dari harta Kakak tirinya." Serang Nyonya Rosaline tidak ingin kalah dan setelahnya dia pergi
__ADS_1