
Nenek Ami mengerutkan dahinya ketika melihat seorang pemuda gagah dengan penampilan yang cukup mentereng duduk di sebelah cucu wanita nya.Nenek Mia mulai menyapa dan mendekati keduanya.
" Assalamu'alaikum!" sapa nenek Mia setelah dekat di kursi kayu depan rumahnya yang kecil itu.
" Wa' alaikum salam!" sahut Prada seraya meraih tangan keriput milik nenek Mia lalu mencium punggung tangannya.
Nenek Mia menatap Pradana dan Mandala secara bergantian. Pandangan nya mengisyaratkan bahwa ada pertanyaan besar dalam benaknya.
" Oh ya? Bagaimana kalau kita masuk ke dalam. rumah terlebih dahulu. Tidak enak di luar seperti ini. Kamu, Mandala! Kenapa tidak menyuruhnya masuk ke dalam rumah? Jika warga mengetahui ini akan timbul permasalahan baru." kata Nenek Mia sambil melangkah kaki nya masuk ke dalam gubuknya itu, ikuti oleh Pradana dan Mandala.
Mereka duduk setelah masuk ke dalam rumah yang terasa pengap itu. Pradana menatap sekitar ruangan rumah itu yang baginya seperti gudang di rumahnya.
" Mau minum apa, nak? Nenek buatkan minum dahulu." kata Nenek Mia.
__ADS_1
" Tidak perlu repot- repot nek! Saya sudah minum tadi." sahut Pradana.
Nenek Mia akhirnya duduk di depan Pradana dan Mandala. Saat ini, nenek Mia masih belum menyuarakan hal yang masih mengganjal di hatinya. Cukup lama akhirnya Pradana memberanikan diri untuk berbicara.
" Nenek! Saya akan menikahi Mandala!" ucap Pradana yang langsung ke tujuannya.
Tanpa minta maaf. Tanpa memperkenalkan dirinya. Tanpa basa- basi langsung ke niatannya. Itu sangat membuat nenek Mia terkejut bukan main. Nenek Mia langsung menduga, siapa laki-laki muda di hadapan nya ini.
Nenek Mia masih diam. Pandangan nya masih ke arah Pradana dan Mandala secara bergantian. Mandala hanya tertunduk diam. Menunggu Pradana yang menjelaskan semuanya.
" Saya mohon maaf sebesar-besarnya, nek! Kerena perbuatan saya, Mandala jadi menanggung derita selama ini. Saya,. saya akan bertanggung jawab, nek!" ucap Pradana lagi.
Nenek Mia hanya menarik nafasnya dengan kasar. Baginya ini adalah rasa syukur yang tidak terhingga, cucunya yang sedang hamil itu ada seseorang yang mau bertanggung jawab. Setidaknya anak yang dikandung Mandala itu ada pengakuan dari ayahnya.
__ADS_1
" Saya akan secepat nya menikahi Mandala, nek! Ijin dan restu nenek sangat kami butuhkan." kata Pradana.
" Semua sudah terjadi, kalaupun nenek tidak merestui pun tidak bisa bukan? Mandala sudah hamil dan mengandung. Mau tidak mau, nenek tetap harus merestui kalian. Yang terpenting, tidak ada paksaan dari kamu untuk bertanggung jawab atas kehamilan cucuku ini." sahut Nenek Mia akhirnya.
" Tidak nenek! Sebenarnya sudah lama saya mencari keberadaan Mandala, nek. Saya bukan tidak ingin bertanggung jawab atau lari dari permasalahan. Namun Mandala menghilang begitu saja, tanpa kabar. " cerita Pradana.
" Baiklah! Apa rencana yang akan kamu lakukan setelah ini?" tanya Nenek Mia.
" Saya akan kembali ke kota dan akan kembali kemari bersama keluarga saya. Saya akan menikah dengan Mandala di sini, nek."
Nenek Mia hanya terdiam. Dalam pikiran nya masih ada beberapa pertanyaan yang belum mampu dia tanyakan. Mungkin nenek Ami akan mempertanyakan nya pada cucunya sendiri, Mandala. Paling tidak, cucunya ini tidak menjadi hinaan dan cemoohan dari banyak orang yang hamil tanpa laki-laki yang mau bertanggung jawab dengannya.
" Mana baiknya saja, nak! Kalian atur saja. Nenek hanya bisa menghubungi pihak orang tua Mandala jika memang mandala akan menikah.
__ADS_1
" Terimakasih nek!" sahut Mandala dan Pradana bersamaan dan saling pandang.