
" Mulai sekarang, kamu tidur di kamarku. Mulailah kamu pindahkan barang- barang kamu ke kamar itu." Perintah Pradana sambil menunjukkan letak kamarnya yang sering ia tiduri bersama Mandala selama ini.
" Mulai nanti malam kita akan tidur bersama." tambah Pradana.
" Hah?? Tapi aku akan menemani putri kecil aku." protes Yasinta.
" Tidak perlu! Ada pengasuh bayi untuk anakku. Kamu tidak perlu repot dan capek mengurusnya." sahut Pradana akhirnya.
" Tapi??" sahut Yasinta.
" Tidak ada tapi- tapian! Baiklah! Aku mau pergi sebentar melihat kondisi kantor. Sudah beberapa hari aku menyerahkan semua tugas kepada asisten pribadi aku." kata Pradana.
Yasinta masih mematung akan sikap Pradana terhadap dirinya. Pradana pergi setelah memberikan tangannya kepada Yasinta dan memberikan kecupan di kening Yasinta.
" Apakah ada roh lain yang memasuki tubuh Pradana? Dia begitu aneh. Apakah tidak apa- apa jika aku nekat keluar sebentar saja. Aku ingin menjumpai Naufal dan juga Yuliana, sahabat nya.
" Tapi,... baiklah besok saja. Hari ini aku memindahkan barang- barang milikku ke kamar itu." pikir Yasinta.
*******
Di kamar yang biasa ditempati Yasinta kini dipakai oleh penghuni baru yaitu baby sitter putri kecilnya Pradana bersama Mandala, bernama mbak Nana. Bayi kecil yang masih sangat merah itu dipanggil Yasinta dengan sebutan Nora. Nora kini sudah ada baby sitter nya sehingga Yasinta tidak terlalu sibuk dan repot mengurus Nora. Rupanya Pradana sudah memperhitungkan semuanya untuk putrinya tersebut. Bersama Mbak Atun, asisten rumah tangganya di rumah itu Mbak Nana terkadang gantian menggendong Nora.
Di kamar itu Yasinta ikut menemani Nora. Saat itu Pradana belum kembali dari kantornya.
" Nora sangat cantik seperti mamanya. Semoga mamanya berada di tempat yang indah di alam sana." kata Yasinta sambil mengusap pipi Nora dengan lembut.
" Aamiin!" sahut mbak Nana yang kini sudah mulai akrab dengan Yasinta, istri dari majikannya itu.
" Mbak Nana sudah lama menjadi baby sitter?" tanya Yasinta basa- basi.
" Baru tiga tahun ini, mbak!" sahut Mbak Nana ramah.
__ADS_1
" Sebelum menjaga Nora, mbak Nana sudah merawat bayi juga yah. Cowok apa cewek balita yang dirawat mbak Nana?" tanya Yasinta kepo.
" Cowok mbak!" jawab Mbak Nana singkat. Yasinta tersenyum saja.
" Nora sudah tidur?" tanya Pradana yang tiba-tiba masuk ke kamar itu tanpa mengetuk pintu karena memang posisi pintu dalam keadaan terbuka lebar.
" Nora bisanya masih tidur saja, ayah!" sahut Yasinta dengan suara seperti anak kecil. Pradana malah mengernyitkan dahinya.
" Hem?" gumam Pradana masih dingin seperti es. Yasinta cuek tidak peduli.
" Yasinta, aku ingin makan." kata Pradana akhirnya sambil berlalu dari kamar itu. Yasinta bengong.
" Tumben mas Pradana minta ditemani makan. Apa ada yang salah dari kepalanya?" pikir Yasinta sambil berjalan ke ruang makan. Pradana sudah duduk di kursi makan itu sambil memainkan ponselnya.
" Katanya makan? Tapi kenapa belum juga mengambil makanan nya? Apa dia minta aku yang melayani nya?" pikir Yasinta. Yasinta mengambil piring yang sudah tersedia di meja itu., mengambilkan nasi, sayur dan juga lauk di atas piring itu. Diberikannya kepada Pradana yang masih terlihat cuek sambil bermain dengan ponselnya.
" Ini mas, makan dulu!" ucap Yasinta lalu menarik kursinya lalu duduk di sana tidak jauh dari Pradana setelah memberikan segelas air putih juga untuk Pradana. Pradana mulai memakannya sambil sesekali melirik ke arah Yasinta.
" Enak masakannya!" pikir Pradana.
" Hem, aku yang masak mas. Soalnya aku lagi kepingin makan gulai daging dengan sambelnya yang super pedas. Kalau ayam kecap dan sup sayurnya, mbak Atun yang memasakkan. Apakah mas tidak suka gulai dagingnya? Biar aku ganti dengan ayam kecapnya." kata Yasinta hendak mengangkat piring milik Pradana.
" Tidak perlu!" sahut Pradana. Mulutnya masih enggan untuk memuji masakan Yasinta yang sebenarnya sangat enak dan pas di lidah nya.
Yasinta mengamati Pradana yang sedang makan dengan lahapnya itu.
" Mau tambah lagi mas?" tanya Yasinta. Pradana diam dan masih bersikap cuek. Piringnya sudah bersih tanpa satu biji nasi pun. Yasinta tersenyum melihat itu.
" Kamu suka masakan aku, mas?" batin Yasinta. Bagi Yasinta ini adalah kebahagiaan nya karena dirinya seperti istri yang benar-benar sudah membuat puas suaminya karena hasil masakan nya. Pradana berdiri dari kursi nya dan meninggalkan Yasinta.
" Aku tunggu kamu di kamar!" kata Pradana masih dengan nada datar. Yasinta terkejut dan jantung nya seketika berdetak kencang.
__ADS_1
" Ada apa? Kenapa?" gumam Yasinta yang semakin merasakan detak jantung nya begitu hebat.
" Tapi aku istrinya, bukan? Kenapa aku takut?" batin Yasinta. Sesaat Yasinta masih ragu- ragu untuk masuk ke kamar itu. Kamar yang dulunya sering dihuni oleh Pradana dengan Mandala. Kamar yang selalu memperdengarkan suara- suara indah itu nyaris selalu ia dengarkan tatkala belum ada Mbak Atun dan Mbak Nana di rumah itu. Suara- suara yang membuat hatinya teriris sakit karena suara yang dihasilkan dari Pradana maupun Mandala tanpa mengontrol dan menjaga perasaannya di rumah ini. Padahal seharusnya mereka tahu itu.
Hampir satu jam Yasinta masih belum masuk ke kamar itu hingga Pradana kembali keluar mencari keberadaan nya.
" Kamu ngapain?" tanya Pradana yang melihat Yasinta seperti setrikaan mondar-mandir menghitung ubin di depan kamar itu.
" Eh?? Iya, mas!" ucap Yasinta lalu bergegas masuk ke kamar itu. Pradana menutup pintu kamar itu dan menguncinya. Yasinta duduk di sofa panjang kamar itu. pradana sudah melepas kaos oblong nya dan kini terlihat lah perut sixpack nya dengan bahu yang lebar. Sesekali Yasinta meliriknya, pradana masih bersikap cuek akan keadaan nya yang tanpa malu sudah bertelanjang dada.
" Kamu tidak mengantuk? Tidurlah!" ucap Pradana yang hendak naik ke atas peraduan nya. Namun Yasinta masih sangat canggung dan tetap di kursi sofa panjang itu.
" Kamu sini!" suruh Pradana sambil menepuk kasur di samping nya. Yasinta ragu- ragu untuk mendekat dan menuruti perintah Pradana. Pradana akhirnya mendekati Yasinta.
Pradana mendekati Yasinta dekat dan sangat dekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan dan kedua nya seperti beradu nafas. Nafas Pradana mulai menghangat, detak jantung nya mulai ber genderang. Entah siapa yang memulainya kedua bibir itu mulai beradu dan saling meraup. Kedua nya mulai berciuman panjang, saling mengabsen gigi mereka dan bertukar saliva. Kedua nya mulai memanas aliran darahnya. Entah siapa yang memulai membimbingnya satu persatu kain yang masih melekat itu lepas dari tubuh mereka. Hingga kini pemandangan yang sangat erotis itu telah tercipta.
Pradana mulai menuntut lebih dari Yasinta. Saat ini Pradana mulai mendominasi Yasinta. Yasinta mulai menge rang, men de sah. Pradana mulai dibawah sana mengobrak-abrik daerah pribadi milik Yasinta dengan jari lentiknya dan nakal. Sesekali menggunakan lidahnya menyesap di sana. Yasinta semakin mene gang. Yasinta tidak kuasa akan pertahanan nya, hingga ping gulnya sedikit dia naikkan hingga Yasinta mencapai kenikmatan surga dunia itu. Kini giliran Pradana mulai melancarkan aksinya. Milik nya yang sudah mene gang minta segera disegerakan. Dengan pelan kepunyaan nya mulai masuk di goa yang masih sempit itu dan rupanya masih ada yang menghalangi nya untuk lebih dalam menerobos ke dalam nya.
" Maaf, aku akan pelan melakukan nya." bisik Pradana kembali menghujam kan miliknya.
Teriak kan kecil dari mulut Yasinta sedikit ditahannya. Kini dirinya menggigit bibirnya bagian bawah merasakan nyeri di daerah sana.
" Aku masih perawan." ucapnya. Pradana tersenyum. Betapa Pradana sangat jahat selama ini membiarkan istrinya itu menjadi pengangguran.
" Setelah ini apakah aku boleh lebih rajin mengunjungi tempat ini?" bisik Pradana. Yasinta hanya melenguh masih menahan pedih dan sakit. Lama-lama mulai menghangat dan kembali Pradana menyelesaikan tugasnya hingga benih-benih nya mulai tertanam di dalam rahim wanita yang sudah lama menjadi istrinya tersebut namun sudah lama pula dibuat seperti pajangan.
Akhirnya keduanya terkapar lunglai dalam kepuasan kenikmatan bersama. Pradana mengecup lembut dahi Yasinta. Yasinta hanya menatap melongo dengan sikap lembut Pradana. Ini sungguh seperti mimpi, Pradana bersikap lembut kepadanya.
"Apakah dia sudah menyukai aku? Atau hanya menunaikan kewajiban nya sebagai suami? Atau hanya menyalurkan hasrat nya karena Mandala sudah tidak ada? Sudahlah aku tidak peduli, aku pun masih istrinya." pikir Yasinta namun butiran air matanya lolos juga dari ujung matanya. Pradana mengetahuinya dan mengusap nya lembut.
" Apakah sakit? Maaf jika aku menyakiti kamu." kata Pradana. Yasinta masih tidak percaya dengan perlakuan hangat dari Pradana terhadap dirinya.
__ADS_1
" Disaat aku hendak lepas darinya, kenapa dia malah mengikat aku dengan hubungan suami istri yang normal seperti ini?" batin Yasinta.
☺☺😊..