JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
PULANG


__ADS_3

" Papa!" panggil Yasinta. Pak Brata menghampiri Yasinta yang sudah terlihat lebih baik.


" Iya, nak! Apakah sudah lebih baik? Masih sakit tidak kepalanya?" tanya Pak Brata. Yasinta menggeleng pelan.


" Kapan pulang dari sini, pa? Ma? Ingin cepat pulang." kata Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata tersenyum.


" Besok sudah bisa kembali ke rumah kok, nak! Tapi tidak ada keluhan sakit di kepala kamu kan, nak?" ujar Bu Brata. Pak Brata ikut membenarkan.


" Tidak! Aku tidak apa- apa kok pa, ma! Aku tidak sakit, aku sehat." ucap Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata tersenyum senang.


" Setelah ini aku ingin pulang ke rumah mama, papa dulu yah! Aku tidak mau pulang ke rumah itu, takut mengganggu mas Pradana dan juga Mandala." kata Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata saling pandang.


Di dekat pintu kamar itu, Pradana menutup mulutnya.


Pradana sangat kacau.


" Jadi, sampai disitu memori yang tersimpan oleh Yasinta? Masih mengira Mandala masih ada dan belum meninggal. Dan keberadaan Primata, putri dari Mandala juga hilang di ingatan nya." pikir Pradana.

__ADS_1


" Aku harus bersabar kali ini. Benar- benar bersabar mengembalikan ingatan indah yang terakhir itu bersama Yasinta dan aku. Tapi kenapa ini harus terjadi dan aku alami ketika aku sudah jatuh hati dengan istri aku ini. Yasinta! Maafkan aku! Aku sudah menorehkan kenangan pahit dalam ingatanmu." batin Pradana. Hatinya begitu sesak dan sulit bernafas. Menangis pun rasanya sudah sangat sulit.


*******


Masih di kamar inap rumah sakit, dimana Yasinta masih di atas tempat tidur rumah sakit yang sempit itu. Pak Brata dan Bu Brata sudah bersiap- siap untuk pulang bersama Yasinta meninggalkan rumah sakit itu setelah semua administrasi nya sudah di urus oleh Pradana.


Pradana duduk berdekatan dengan Yasinta di kursi rumah sakit itu kamar itu. Pradana masih tidak lepas menatap wajah Yasinta yang bersikap dingin terhadap dirinya. Pradana nekat meraih pergelangan tangan Yasinta dan Pradana mengecup punggung tangan Yasinta. Mata Yasinta membulat dan dengan cepat menarik tangannya itu. Bagi Yasinta sikap Pradana sangat aneh.


" Kamu ingin sesuatu, sayang? Mau makan atau minum?" ucap Pradana penuh perhatian. Yasinta diam dan melengos ke arah mama mertuanya. Bu Brata sedih melihat putra nya, Pradana jadi murung begitu karena Yasinta melupakan masa terakhir cerita indah kebersamaan mereka.


" Apakah aku tidak boleh tinggal di rumah papa, mama kamu? Rumah mama papa mertua aku sendiri? Lagi pula aku sudah sadar diri, di rumah kamu masih ada Mandala istri kesayangan kamu. Aku hanya orang lain di rumah itu bukan?" ucap Yasinta.


" Tentu saja boleh, kamu tinggal di rumah mama papa aku, mertua kamu. Tetapi kalau kamu bersikeras ingin tinggal di sana, aku juga akan tinggal di rumah mama, papa juga. Kamu istri aku, Yasinta! Pulanglah ke rumah kita." kata Pradana pelan. Pak Brata dan Bu Brata menjadi mengkhawatirkan keadaan kepala Yasinta, karena Pradana berusaha mengembalikan ingatan Yasinta.


" Kamu tahu, Yasinta! Mandala sudah meninggal. Dan kamu adalah satu-satunya istri aku sekarang." kata Pradana. Pak Brata dan Bu Brata membulat matanya karena Pradana sudah tidak sabar ingin membuat ingatan Yasinta sepenuhnya pulih.


" Kamu bohong, mas! Kamu hanya ingin membujuk aku kembali ke rumah kamu itu. Apalagi saat ini ada mama, papa, bukan? Kamu takut jika mama tahu kalau sebenarnya kamu selama ini masih belum menganggap aku sebagai istri aku." sahut Yasinta. Pradana menghela nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


" Tidak Yasinta! Aku bisa membuktikan nya." ujar Pradana. Kini Yasinta memegangi kepalanya. Pak Brata dan Bu Brata jadi mengkhawatirkan Yasinta.


" Ada apa, Yasinta? Apakah kamu baik- baik saja?" tanya Bu Brata mulai khawatir.


" Kepalaku sakit sekali, ma!" ucap Yasinta. Pradana kini memegang tangan Yasinta. Yasinta menipis nya.


" Apa sudah lebih baik, nak?" tanya Pak Brata penuh perhatian. Yasinta mengangguk pelan.


" Kalau begitu kita kembali pulang dulu." ajak Bu Brata. Semuanya mulai bersiap meninggalkan kamar itu. Pradana tetap bersikeras mendampingi Yasinta kemanapun dia ingin tinggal. Yasinta sebenarnya sudah malas. Namun pada akhirnya Yasinta membiarkan Pradana tetap mengikuti dirinya untuk pulang ke rumah mertuanya itu.


" Seharusnya kamu pelan- pelan saja memberitahu semua kejadian yang terlupa di ingatan Yasinta, Pradana. Kamu jangan memaksa diri supaya Yasinta mengingat semuanya. Ini semua butuh proses dan waktu. Kamu lihat sendiri kan, jika Yasinta mulai berusaha menginginkan kejadian sebelumnya atau bayangan masa lalu itu berkelebat kepalanya terasa sakit. Apakah kamu ingin menyakiti Yasinta kembali?" kata Pak Brata dengan pelan sambil berjalan menuju tempat parkiran mobil. Pradana diam namun tetap bersikeras akan memulihkan ingatan Yasinta sesuai caranya.


" Papa jangan khawatir! Aku akan pelan- pelan menceritakan kejadian sebenarnya, kepada Yasinta supaya Yasinta bisa menangkap bayangan dari kejadian yang dia alami sesuai cerita aku yang sebenarnya. Ini akan kembali memulihkan ingatan Yasinta lagi." kata Pradana. Pak Brata menepuk punggung anak laki-laki nya itu pelan.


" Baiklah, papa percaya kepada mu. Kamu tidak akan menyakiti Yasinta." sahut Pak Brata.


" Aku ikut pulang ke rumah papa sampai Yasinta mau aku ajak kembali pulang ke rumahku." kata Pradana. Pak Brata tersenyum saja.

__ADS_1


__ADS_2