
Pradana tiba-tiba melihat map di atas meja kamarnya. Pradana mulai Tergelitik untuk bertanya kepada Yasinta.
" Map itu? Apa isinya?" tanya Pradana.
" Itu? Itu berkas- berkas untuk pengajuan gugatan perceraian kita." sahut Yasinta cepat. Pradana seketika lemas mendengarkan nya.
*******
" Apakah sudah lebih baik dan tidak merasakan pusing kepala?" tanya Pradana kepada Yasinta. Yasinta mengangguk cepat.
" Aku sudah tidak pusing lagi kok tetapi aku menjadi mengantuk setelah meminum obat tadi." sahut Yasinta. Pradana tersenyum sambil mengusap lembut puncak kepala Yasinta.
" Sebenarnya aku ingin bertanya dan mendengar penjelasan dari kamu, mas. Di mana Mandala sekarang dan lalu siapa bayi itu? Bayi itu apakah benar-benar anak Mandala dan itu artinya anak kamu kan mas?" tanya Yasinta. Pradana masih ragu untuk bercerita. Pradana takut kalau Yasinta mendengar kebenaran dari cerita nya, syaraf otaknya belum mampu menerima informasi itu.
__ADS_1
Yasinta terlihat menguap karena rasa kantuknya setelah meminum obat yang dibawakan oleh Pradana.
" Lebih baik kamu istirahat dulu dan bobok yah, sayang! Aku akan menemani kamu di sini." ucap Pradana penuh perhatian.
" Aku tidak apa- apa, mas! Kamu kalau mau kembali ke kantor atau ada urusan lainnya bisa pergi kok, mas. Kamu tidak perlu disini menemani aku terus." sahut Yasinta.
" Kamu selalu membuat aku cemas, sayang!" ucap Pradana dengan wajah sedih.
" Kenapa? Aku baik- baik saja kok!" sahut Yasinta. Pradana menghela nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
" Benar! Setidaknya setelah ini tidak ada hati yang tersakiti lagi." sahut Yasinta. Pradana semakin ingin bertanya.
" Apakah kamu orang yang tersakiti itu? Maaf, Yasinta! Maafkan aku! Maafkan segala kesalahan aku jika aku selama membuat kamu sakit hati. Tapi tolong jangan meminta perceraian itu dari aku. Karena aku sudah mencintaimu." ucap Pradana sungguh-sungguh. Yasinta mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
" Bagaimana dengan Mandala? Apakah kamu juga mencintainya?" tanya Yasinta.
" Iya, mungkin aku laki-laki yang sangat egois dan serakah. Namun sungguh-sungguh menyukai kamu, Yasinta. Ya sudahlah! Lebih baik kamu beristirahat dulu." kata Pradana.
" Kamu bisa tinggalkan aku sendiri, mas?" tanya Yasinta.
" Baiklah! Mungkin itu akan membuat kamu lebih nyaman jika tanpa aku. Aku akan keluar dari kamar ini. Setelah bangun dari tidur kamu, aku akan mengajak kamu ke suatu tempat. Aku ingin kamu mengetahui kebenarannya sendiri dan melihat nya dengan mata dan kepala sendiri tidak sekedar mendengar cerita dari mulut aku." kata Pradana.
" Baiklah!" sahut Yasinta sambil memejamkan matanya. Pradana keluar dari kamar itu namun sebelum Pradana benar-benar keluar meninggalkan Yasinta, dirinya menengok ke arah Yasinta kembali.
" Tidur yang nyenyak yah, sayang!" ucap Pradana.
Yasinta benar-benar tidur karena pengaruh obat yang diminum nya. Pradana kembali dalam kegelisahan karena Yasinta masih bersikeras ingin menggugat cerai dengan dirinya.
__ADS_1
" Apakah aku bisa menjalani hidup sendiri tanpa kamu Yasinta jika aku sudah benar-benar mencintaimu dan takut kalau kamu bersama Naufal. Rasanya aku tidak ikhlas jika melihat kamu bersamanya." gumam Pradana. Pradana kini duduk di ruang tengah. Pradana enggan untuk kembali bekerja. Rasanya semangat nya tidak ada untuk bekerja. Pradana hanya ingin dekat dan memastikan kalau Yasinta selalu baik- baik saja.