JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
SAYANG


__ADS_3

Sesampainya di rumah kediaman suami istri itu, Yasinta langsung mencari keberadaan Primata. Bayi yang masih mungil, anak dari Mandala. Yasinta ke kamar Primata sedangkan Pradana mengikuti Yasinta.


Di dalam kamar itu Primata terlihat tidur di box bayinya. Mbak Nana yang melihat kedatangan Yasinta dan Pradana masuk ke kamar itu bergegas keluar dari sana. Yasinta mendekati Primata lalu mengusap pipi nya yang masih selembut kapas.


" Dia sangat cantik, mas! Seperti ibunya." ucap Yasinta. Pradana tersenyum bahagia melihat Yasinta pelan- pelan menerima dan percaya akan kebenarannya dari mulut Pradana.


" Ibu Primata sekarang adalah kamu, sayang!" sahut Pradana lalu ikut mendekati box bayi itu. Yasinta menatap lekat wajah laki- laki yang saat ini di dekatnya.


" Aku?" ucap Yasinta.


" Benar! Kamu adalah ibu Primata. Jadi jangan pernah berpikir untuk menjauh dari kami. Apalagi kamu hendak meminta berpisah dari aku." kata Pradana kembali mengulang kata- kata itu. Pradana seperti sedang meminta, memohon, merengek supaya Yasinta jangan pergi dari kehidupan Pradana dan Primata.


" Tapi, tapi aku tidak bisa mas! Aku harus bercerai dengan kamu, mas." sahut Yasinta. Primata kembali muram.


" Kenapa?" tanya Pradana.


" Karena kita menikah bukan atas dasar cinta, mas! Kita menikah lantaran perjodohan antara orang tua kita." sahut Yasinta.


" Tapi aku sudah terlanjur terbiasa dengan kamu, sayang! Aku sudah mencintai kamu setelah malam itu. Malam dimana aku mulai menerima kamu dan satu kamar bersama. Aku dan kamu sudah melakukannya. Saat itulah kita benar-benar sudah seperti suami istri." jelas Pradana. Yasinta memerah wajahnya.


" Maaf, aku tidak bisa mas!" sahut Yasinta.


" Kamu tega meninggalkan kami? Meninggalkan aku ketika aku sedang sayang- sayang nya. Dan apakah kamu juga tega, melihat Primata tumbuh tanpa seorang ibu yang menyayangi nya." kata Pradana berusaha mempengaruhi Yasinta.


" Aku, aku tidak bisa Mas! Kamu jangan mempersulit aku. Impian aku saat ini adalah bisa menikah dengan.... " ucap Yasinta.


" Dengan laki-laki itu? Kamu akan menikah dengan Naufal?" sahut Pradana. Yasinta menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Maaf!" ucap Yasinta lirih.


" Apakah kamu tahu Yasinta! Itu akan membuat sakit hatiku. Jantung ini seperti terluka lalu kau taburi dengan garam. Pedih sekali, Yasinta." kata Pradana.


Pradana nekat meraih tubuh Yasinta dan kini tubuh mungil itu dalam pelukan Pradana. Pradana mulai menjatuhkan air matanya.


" Aku mohon kepadamu! Kamu jangan pergi dari aku, Yasinta." kata Pradana dengan suara gemetar.


" Mas! Aku, aku tidak bisa!" sahut Yasinta. Yasinta mendorong pelan dada Pradana supaya melepaskan pelukan nya.


" Mas, kepala aku mulai berat. Boleh aku beristirahat di kamar?" kata Yasinta.


" Aku akan mengantarkan kamu ke dalam kamar." kata Pradana. Yasinta menurut saja karena kondisinya saat ini kurang fit. Kembali kepala nya di serang rasa sakit yang begitu hebat.


" Kamu istirahat dan bobok yang manis yah, sayang! Besok pagi kita akan melihat mobil sport kamu yang sudah selesai diperbaiki, Oke?" Yasinta mengangguk cepat.


Pagi harinya di bengkel mobil. Yasinta menatap mobil sport yang sudah kembali seperti baru. Yasinta menatap ke arah Pradana.


' Mobilnya keren yah?" tanya Yasinta.


" Selain keren dia tahan benturan, sayang! Karena kamu menjalankan nya begitu cepat dan kurang kewaspadaan, sehingga kecelakaan itu tidak bisa kamu hindari. Untung saat kecelakaan itu kamu mengendarai mobil mewah yang kuat akan bantingan. Kalau tidak? Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika kamu mengendarai mobil murah yang minim perlindungan nya. Aku tidak bisa berpikir lagi jika kamu kenapa- napa, sayang." kata Pradana"


Pradana terlihat mengkhawatirkan Yasinta ketika Yasinta sudah memegangi kepalanya.


" Apa kepala kamu sakit?" tanya Pradana.


" Sedikit goyang, aku perlu duduk mas." sahut Yasinta. Pradana menuntun Yasinta ke tempat duduk dan memberikan air untuk Yasinta.

__ADS_1


" Sudah tidak apa- apa sayang?" tanya Pradana. Yasinta mengangguk pelan.


Yasinta mengambil ponselnya di dalam tasnya. Banyak chat masuk di sana dan juga panggilan tak terjawab. Yasinta mulai membalasnya. Ada senyuman di sudut bibir Yasinta. Pradana yang memperhatikan gerak-gerik Yasinta menjadi penasaran.


" Dari siapa?" tanya Pradana. Yasinta terkejut.


" Apakah dari laki-laki itu?" tuduh Pradana.


" Dari Naufal. Dia sudah di depan bengkel mobil ini dan menunggu aku." kata Yasinta. Pradana menahan amarah.


" Aku harus pergi, mas! Aku segera mengurus dan menyelesaikan perceraian kita." ucap Yasinta sambil berdiri dan mulai melangkah meninggalkan tempat itu. Pradana menatap punggung Yasinta yang pergi menemui laki-laki itu.


" Kenapa dada ku sesakit ini, Yasinta?" batin Pradana.


" Apakah penjelasan aku dan semua yang aku tunjukkan kepadamu masih belum cukup membuat kamu sadar dan ingat, Yasinta?" pikir Pradana.


" Aku akan mengajak Yasinta kembali ke puncak. Mudah-mudahan Yasinta akan mengingat kembali saat- saat terakhir bahwa hubungan diantara aku dan Yasinta baik- baik saja." pikir Pradana.


Pradana terlihat menghubungi seseorang melalui ponselnya. Ketika panggilan keluarnya sudah diangkat seseorang di seberang sana. Pradana mulai menahan amarahnya.


" Dia istri aku! Jangan sekali- kali kamu menyentuh nya!" ancam Pradana. Seseorang yang di seberang sana terdengar tertawa terbahak- bahak.


" Hai Naufal! Breng sek kamu!" ucap Pradana penuh emosi.


" Aku tidak akan membiarkan kamu merebut Yasinta dari aku!" kata Pradana kembali. Di seberang sana kembali Naufal hanya terkekeh mendengar makian, ancaman dari Pradana.


" Laki-laki ba ji ngan!" maki Pradana kembali penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2