
Setelah kepulangan nya dari villa itu, Yasinta benar-benar menghubungi Naufal melalui ponselnya. Sedangkan Pradana langsung ke ruang kerjanya yang letaknya terhubung dengan kamar utama mereka. Pradana sementara ini lagi sibuk berkutat dengan laptopnya.Pradana sesaat melupakan urusan rumah tangga dan perasaan nya yang masih kacau jika mengingat Yasinta sudah merencanakan gugatan cerai itu.
Yasinta saat ini sudah duduk di ruang tengah.. Dirinya sedang menunggu kedatangan Naufal yang akan datang menjemputnya. Benar saja, tidak berapa lama suara klakson mobil itu terdengar di luar sana. Yasinta segera keluar dan menemui Naufal yang sudah menunggu nya di luar setelah menyambar tas selempang nya. Naufal dari dalam mobilnya melemparkan senyumannya. Naufal membukakan pintu mobil samping itu dan Yasinta masuk ke dalam nya.
" Hai!" sapa Yasinta. Naufal tersenyum lebar.
" Hai juga! Cantiknya tuan putri Yasinta." sahut Naufal lalu mulai menjalankan mobilnya kembali.
"Enaknya kita kemana Fal?" tanya Yasinta. Naufal tersenyum lalu menjawabnya.
" Kamu ingin kemana? Aku siap mengantarkan kamu keliling dunia." sahut Naufal mulai merayu. Yasinta nyengir saja.
" Terserah kamu saja, Fal! Yang penting tempatnya nyaman, tenang dan tidak terlalu berisik." ucap Yasinta. Naufal mulai berpikir.
" Kamu ingin tempat seperti itu, Yasinta?" tanya Naufal.
" Huum!" jawab Yasinta mengangguk pelan.
" Di kamar pribadi aku. Di sana tidak berisik dan kamu akan merasa nyaman dan tenang berada di dalam dekapanku." ucap Naufal mulai menggoda. Yasinta seketika memukul lengan Naufal dengan keras. Naufal meringis menahan sakit sambil mengendalikan stir mobilnya.
" Lumayan juga pukulan kamu, Sinta!" kata Naufal.
" Maaf! Apakah sakit? Habisnya kamu selalu berpikir mesum aja." ucap Yasinta dengan mulut cemberut.
" Hai! Hai! Sejak kapan, Yasinta ku jadi mudah tersinggung seperti itu, hem? Kita dari dulu suka ceplas-ceplos bicara kita. Ucapan dan perbuatan aku tidak sama. Aku masih selalu menjaga kamu walaupun kita sering satu kamar dan tidur di ruangan yang sama." kata Naufal.. Yasinta melihat Naufal yang serius berbicara.
__ADS_1
" Terimakasih!" sahut Yasinta. Naufal mengusap puncak rambut Yasinta hingga berantakan. Yasinta kembali manyun bibir nya.
" Rambut aku jadi berantakan, Fal!" protes Yasinta sambil merapikan rambutnya dengan Jari-jari nya. Naufal membuka dasbor di depannya. Ada sisir kecil miliknya yang selalu ditinggal di tempat itu. Naufal mengambilnya dan memberikan nya kepada Yasinta.
" Ini biar kembali rapi rambut, tuan putri." kata Naufal sambil menyerahkan sisir itu ke Yasinta. Yasinta tersenyum lalu menatap Naufal.
" Sisir ini pasti buat senjata kamu untuk lebih berpenampilan rapi, supaya wanita-wanita di hotel dan resort milik kamu akan terpesona dan tergoda." ucap Yasinta sambil menyisir rambutnya. Naufal kembali tertawa.
" Lebih tepatnya aku berusaha menjaga kewibawaan ku sebagai pimpinan di hotel dan resort ku itu. Bayangkan saja, aku sebagai direktur di sana berpenampilan kucel dan tidak rapi. Itu tidak mungkin terjadi bukan?" kata Naufal. Yasinta tersenyum tanda membenarkan ucapan Naufal.
" Tapi aku menjadi penasaran, Fal. Berapa banyak wanita-wanita khusus nya karyawan di hotel kamu itu berusaha menarik perhatian kamu? Atau bahkan terang- terangan menggoda diri kamu?" tanya Yasinta mulai kepo.
" Hem? Aku tidak tahu! Mungkin saja karena aku tidak perduli dan cuek. Jadi aku kurang memperhatikan nya. Aku kalau sudah di dalam ruangan kerjaku hanya fokus dengan kerjaan aku." ucap Naufal.
" Kita ke hotel dan resort milik kamu saja deh." sahut Yasinta. Naufal tersenyum dan menurut apa yang diinginkan Yasinta.
" Bukannya tadi aku sudah katakan kepada kamu, Fal? Aku ingin tempat yang tidak berisik, nyaman dan tenang. Oke? Aku ingin berbicara serius. Dan kamu harus segera mengetahuinya. Aku tidak ingin membohongi kamu, Fal." kata Yasinta. Naufal mulai menerka-nerka apa yang hendak disampaikan Yasinta terhadap nya.
" Ya sudah, kita ke ruangan pribadi aku saja, Sinta. Tempat biasanya kamu beristirahat karena banyak permasalahan pada diri kamu saat itu." kata Naufal. Yasinta mulai teringat kenangan yang menguras emosi nya ketika satu rumah dengan madunya dan bahkan Pradana tidak menganggap nya sebagai seorang istri.
" Apakah dulu aku begitu kacau? Sehingga aku sering ketempat kamu dan mengeluh akan kehidupan ku, Fal?" tanya Yasinta. Naufal mengangguk saja.
" Aku masih ingat itu dengan jelas. Tapi anehnya aku masih kuat dan sanggup melalui perjalanan itu. Mungkin saja lantaran aku hanya menerima perjodohan itu dan belum mencintai Pradana di awal pernikahan itu. Tapi sekarang, aku merasakan hal lain ketika dekat bersama Naufal. Detak jantungku juga mulai tidak beraturan dan terkadang aku merasakan kedamaian ketika Pradana memperhatikan aku dengan tulus." pikir Yasinta.
*******
__ADS_1
Di resort milik Naufal. Yasinta masih duduk dan menikmati menu makanan yang sudah disajikan di atas meja. Naufal masih berada di ruangan nya. Yasinta sementara ditinggal sendiri di sana. Naufal tiba- tiba harus menemui klien nya yang tiba-tiba datang mencarinya. Inilah resikonya jika berkencan di tempat nya sendiri. Dimana hotel dan resort itu usaha milik Naufal sehingga Naufal masih turun dan mengelola usahanya itu.
Setelah selesai dengan segala urusannya, Naufal kembali duduk bersama dengan Yasinta. Yasinta sengaja memilih duduk di sudut ruangan resort itu.
" Maaf, apakah kamu bosan menunggu aku sendiri disini?" tanya Naufal. Yasinta tersenyum sinis.
" Hai! Maaf! Jangan marah gitu dong, Sinta! Sekarang bicaralah! Apa ada hal serius sekali yang hendak kamu sampaikan kepada ku? Atau hal serius itu karena kamu kangen aku saja?" tanya Naufal.
" Naufal! Aku serius!" sahut Yasinta.
" Ya sudah, bicaralah! Aku akan mendengarkannya." ucap Naufal.
" Aku hamil, Fal!" kata Yasinta singkat. Naufal tertawa keras. Yasinta menatap ke arah Naufal yang tertawa.
"Maaf! Lanjutkan cerita kamu!" ucap Naufal.
" Aku serius Fal! Aku benar-benar hamil. Aku bingung, Fal! Apakah aku harus benar-benar menggugat perceraian itu dengan Pradana? Sedangkan saat ini aku mengandung anaknya." kata Yasinta.
" Tapi bukankah kamu ingin kita segera menikah setelah perceraian antara kamu dengan Pradana selesai? Aku tidak mempermasalahkan jika anak yang kamu kandung itu bukan anak aku. Tetapi anak kamu akan menjadi anak aku juga, Sinta. Setelah kita menikah nanti, aku tidak akan membedakan soal ini jika kamu kelak akan hamil anak aku juga. Anak dari darah daging aku." kata Naufal.
" Aku menjadi bingung, Fal! Sepertinya aku akan menangguhkan perceraian aku dengan Pradana." kata Yasinta.
" Sampai kapan?" sahut Naufal.
" Sampai aku melahirkan anak ini." ucap Yasinta. Naufal tiba- tiba menjadi murung dan sedih.
__ADS_1
" Aku ingin menikah dengan kamu secepatnya, Sinta! Aku ingin membahagiakan kamu." kata Pradana.