
Primata Putri Mandala, itulah nama anak Pradana dari rahim almarhum istrinya, Mandala. Tangisan nya begitu memilukan terdengar ditelinga. Primata yang sedari dalam gendongan pengasuhnya, akhirnya diambil alih oleh Pradana. Sesaat tangisannya mereda. Bayi itu seolah menginginkan dekapan dan kehangatan dari papa nya. Yasinta melihat Pradana yang penuh kelembutan dan hati- hati menggendong Primata, menjadi terkesima. Seorang pria yang terlihat dingin, kaku, dan jarang tersenyum itu terlihat seksi sekali ketika menimang putri nya. laki-laki itu begitu menyayangi putri nya. Yasinta tanpa berkedip menatap laki-laki itu yang dengan kasih sayangnya memperlakukan putri nya seolah-olah berlian.
Senyumannya terlempar dari sudut bibir laki-laki itu ketika Yasinta ketahuan memperhatikan dirinya. Yasinta secepatnya memalingkan wajahnya, tidak ingin kepergok menatap laki-laki itu.
" Aku buatkan susu lagi buat Primata, ya mas!" kata Yasinta hendak melarikan diri dan keluar dari kamar itu. Namun tangan kanannya Pradana secepatnya menahan nya.
" Tidak perlu! Dia sudah tidur. Nanti biar mbak pengasuh saja yang buatkan susunya kalau Primata terbangun lagi." kata Pradana.
" Aku akan menidurkan Primata ke kamarnya dan biarkan pengasuh nya yang berjaga. Kamu tunggu lah di sini. Urusan aku dengan kamu belum kelar. Aku belum puas akan cerita kamu tadi. Aku tahu kamu masih belum cerita semuanya bukan?" ucap Pradana. Yasinta mulai kelimpungan.
__ADS_1
" Huh.. bilang saja kamu mau minta jatah dengan kau kan? Jangan itu yang menjadi alasan." pikir Yasinta. Pradana bergegas keluar dari kamar itu dan mencari pengasuh Primata yang masih menunggu di luar kamar, tepatnya di ruangan tengah.
" Mbak!" panggil Pradana. Pengasuh Primata bergegas mengambil Primata dari gendongan Pradana.
" Terimakasih pak! Primata sudah tidur dengan nyenyak." ucap mbak pengasuh itu. Lalu bergegas meninggalkan Pradana dan masuk ke kamar beserta Primata.
Pradana kembali masuk ke kamar nya dan sesaat menatap Yasinta yang masih berdiri dan termenung di dekat jendela. Matanya jauh menatap gemerlapnya bintang yang jauh di atas sana. Malam semakin larut. Pradana kembali memeluk Yasinta dari belakang.
" Aku sudah cerita kok, mas! Kalau tadi siang aku menjumpai kawanku." kata Yasinta lagi.
__ADS_1
" Aku tahu itu kawan kamu. Kawan tapi mesra bukan? Laki-laki yang menemani kamu sewaktu di rumah sakit itu, bukan?" kata Pradana. Yasinta diam, dan memang lebih baik dia diam saja tidak perlu bicara atau membenarkan bahkan membantahnya.
" Jadi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan laki-laki itu merebut kamu dari aku. Karena kamu adalah istri aku." ucap Pradana lagi.
" Ingat itu, Yasinta!" tambah Pradana sambil mencium leher jenjang Yasinta dan menyesapnya lama.
Yasinta mulai melenguh. Pradana kembali menuntun Yasinta ke pembaringan. Kembali Pradana menuntut yang lebih dari semua itu. Irama itu kembali diputar, diiringi berbagai alat musik yang menghasilkan suara yang mengalun lembut di sana. Suara de sa han, ke lu han, lengu han terdengar pelan dari makhluk Tuhan yang bernyawa itu.
Malam kian bercengkrama dengan gelap. Redupnya bintang mulai tertutup awan hitam yang menggumpal. Semakin lama semakin hitam. Disertai semilir angin yang berhembus pelan ke segala celah-celah.
__ADS_1
" Aku menyukai aroma ini, Yasinta! Kenapa aku baru menyadarinya." bisik Pradana seraya tetap memainkan biolanya yang bikin bergetar jiwanya dan meronta has ratnya.