
Pagi itu Pradana dan Yasinta sudah menikmati sarapan pagi nya di balkon kamar villa. Pradana terlihat berwajah sangat cerah. Kebahagiaan terpancar dalam diri Pradana. Sungguh Pradana sangat gembira ketika mengetahui kalau Yasinta saat ini telah berbadan dua dan mengandung anaknya. Pradana semakin yakin kalau dengan situasi itu Yasinta akan kembali mempertimbangkan gugatan perceraian terhadap dirinya. Pradana menatap wajah Yasinta seperti sedang mengagumi kecantikan wanita yang masih menjadi istrinya itu. Yasinta yang merasa ditatap laki-laki yang berada di dekatnya itu seketika menjadi salah tingkah. Wajah yang awalnya putih bersih kini ada rona memerah di sana.
" Kamu kenapa menatap aku seperti itu, mas? Apa ada yang salah dari make-up aku, mas?" tanya Yasinta sambil membenahi rambutnya dan mengambil ponsel barunya untuk berkaca. Pradana tertawa lebar melihat tingkah Yasinta yang menggemaskan.
" Sudah rapi kok, make-up aku. Ada apa sih, mas? Kamu melihat aku tidak berkedip loh!" ucap Yasinta kembali.
" Tidak apa- apa sayang! Kehamilan kamu ini, wajah kamu semakin cantik dan aura kamu bersinar terang." kata Pradana penuh rayuan. Yasinta tersipu malu dengan rayuan Pradana ditambah Pradana menatap Yasinta seperti sedang menelanjangi nya.
" Aku hamil. Dan ini adalah anak kamu, mas. Sedangkan aku sudah terlanjur memasukkan berkas perceraian kita itu. Aku benar-benar dalam dilema. Setelah dari tempat ini, aku harus menghubungi Naufal. Dia harus tahu keadaan aku sesungguhnya." batin Yasinta sambil fokus dengan makanan nya. Namun pikiran nya saat ini sudah kemana-mana.
" Aku bahagia, dengan kehamilan kamu, sayang! Aku semakin sayang dengan kamu, Yasinta." kata Pradana sambil meraih telapak tangan milik Yasinta. Pradana menciumnya dengan lembut punggung tangan Yasinta.
__ADS_1
" Yakinkan kepadaku, jika kamu sungguh-sungguh mencintai aku, mas!" ucap Yasinta seolah kembali menantang Pradana untuk membuktikan nya.
" Tentu! Tanpa kamu memintanya, aku akan selalu melakukan sesuatu yang membuat kamu senang dan bahagia, Yasinta sayang." sahut Pradana. Yasinta kembali seperti melayang ke negeri dongeng ketika mendengar rayuan dan kata- kata manis dari Pradana.
" Apakah mobil baru aku sudah selesai diperbaiki di bengkel, mas?" tanya Yasinta. Pradana mengerutkan dahinya.
" Sudah! Tapi aku masih belum kasih kamu naik mobil sport itu! Aku sangat paham, jika kamu mengendarai mobil itu, kamu akan menjalankan mobil itu dengan kecepatan yang di atas rata- rata. Aku takut, sayang! Apalagi saat ini kamu sedang mengandung anak aku." kata Pradana. Yasinta tersenyum saja.
" Tidak! Aku tidak akan memberikan kamu kesempatan mengendarai mobil sendiri. Kamu harus bersama dengan sopir atau dengan aku ketika pergi." kata Pradana. Yasinta seperti anak remaja yang dilarang orang tuanya.
" Baiklah! Untuk saat ini aku mengikuti aturan dan kata- kata kamu, mas! Namun nanti setelah kita benar-benar bercerai, kamu sudah tidak ada hak untuk mengatur aku, mas." ucap Yasinta. Seketika Pradana menjadi sesak dadanya.
__ADS_1
" Tolong jangan kata kan lagi soal perceraian itu, Yasinta! Aku mohon kepadamu jangan lagi menggugat perceraian dengan aku. Jangan lagi menjauhi aku. Aku tidak sanggup, Yasinta sayang." kata Pradana seperti sedang memohon. Yasinta seperti luluh akan sikap Pradana yang memohon itu.
" Aku.. aku... aku..masih belum percaya kalau kamu benar-benar sudah mencintai aku, mas! Bukannya dahulu kamu sangat tidak peduli dengan aku, mas? Kamu hanya mencintai Mandala, dan bukan aku." sahut Yasinta. Pradana mengusap dadanya yang sesak dan rasanya sangat nyeri.
" Aku mencintai kamu, Yasinta sayang! Walaupun ini sudah terlambat. Tapi percayalah, aku laki-laki yang bisa dipercaya." kata Pradana kini duduk berjongkok di depan Yasinta. Pradana hendak memohon kepada wanita di depannya itu supaya menarik berkas gugatan perceraian Yasinta. Pradana kini mengusap perut Yasinta.
" Apakah kamu tega kepada anak kita, jika kita benar-benar berpisah? Apakah kamu tidak akan kasihan kepada anak kita ini, memisahkannya dengan papa kandungnya. Dan papa kandungnya adalah aku?" kata Pradana. Yasinta menatap lekat wajah Pradana yang berada dekat di depannya.
" Entahlah! Aku saat ini benar-benar sudah bimbang." sahut Yasinta.
"Makanya, yakinkan kepadaku kalau semua cerita dan ucapan kamu adalah kebenarannya." tambah Yasinta lagi. Pradana semakin bersemangat untuk membuat Yasinta mempercayai nya.
__ADS_1