
Pradana memeluk Yasinta sangat erat, seolah-olah Pradana tidak ingin melepaskan Yasinta menjauh dan lari dari kehidupan nya. Yasinta sesaat hanya merasakan kehangatan dari dekapan hangat laki-laki yang pernah membuat dirinya sakit hati dan luka. Namun kini sudah jauh berubah dan berbanding terbalik dengan sikapnya yang terdahulu.
" Jangan pergi dari aku, Yasinta! Maafkan aku! Aku janji akan berubah menjadi laki-laki dan suami kamu yang selalu memperhatikan kamu dan menyayangi kamu. Aku janji Yasinta." ucap Pradana. Yasinta tersenyum mendengarkan nya.
" Apakah kamu mencintai aku, mas?" tanya Yasinta seolah memastikan perasaan laki-laki yang selama ini sudah menjadi suaminya dan sekarang memeluk dirinya begitu erat.
" Tentu saja, aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Tolong percaya padaku, dan jangan pergi dari kehidupan aku." sahut Pradana.
" Dan satu lagi, Yasinta! Cabut kembali gugatan cerai itu! Bukankah saat ini kamu telah mengandung anak aku? Apakah kamu akan tega memisahkan anak kita dengan aku?" kata Pradana lagi.
" Apa kontribusi kamu meminta aku mencabut gugatan cerai itu, mas?" tanya Yasinta. Naufal mengerutkan dahinya.
" Kamu minta apa, aku akan menurutinya dan memenuhinya." sahut Pradana. Kini muncullah ide untuk menjahili Pradana. Yasinta tersenyum geli.
" Baiklah! Aku akan mencabutnya, mas! Tapi aku tidak menghendaki kehamilan ini. Jadi aku ingin menggugurkan nya." ucap Yasinta sambil melirik ke arah Pradana. Betapa terkejutnya Pradana mendengar permintaan Yasinta yang ingin menggugurkan kandungan nya itu.
" Maaf, yah adik bayi! Ibu hanya ingin me ngerjai ayah kamu." batin Yasinta sambil mengusap perutnya pelan.
" Jangan lakukan itu, sayang! Kamu boleh meminta sesuatu yang lainnya. Tolong jangan bunuh janin dalam rahim kamu, Yasinta. Aku mohon!" sahut Pradana dengan berkaca.
" Dia anakku, anak kita!" tambah Pradana.
" Ya sudahlah! Kalau kamu tidak menuruti dan mengijinkan aku untuk menggugurkan kandungan ini, berarti gugatan cerai itu akan tetap terjadi." kata Yasinta.
__ADS_1
Pradana terdiam dan menatap tajam ke arah Yasinta.
" Apakah kamu masih benar-benar membenci aku? Sehingga kamu pun ingin membunuh keturunan aku yang masih di dalam perut kamu, Yasinta! Aku tidak menyangka jika kamu wanita polos yang aku cinta, tega melakukan itu. Bahkan itupun adalah anak kamu juga!" kata Pradana dengan menahan amarah nya.
" Aku tidak menyangka, laki-laki ini benar-benar menyayangi aku dan juga anaknya." pikir Yasinta.
" Baiklah, terserah saja kamu ingin bercerai dari aku, Yasinta dan pergi bersama laki-laki itu. Namun satu hal permintaan aku, jangan kamu gugurkan kandungan itu. Aku titip janin itu di rahim kamu dan aku akan membayar semuanya." kata Pradana.
" Apakah kamu juga sakit hati jika aku minta cerai dari kamu, karena aku ingin menikah dengan laki-laki lain, mas?" tanya Yasinta minta penegasan.
" Bahkan rasanya aku sulit bernafas jika aku harus melihat kamu bersama laki-laki lain. Sedangkan kamu itu adalah istri aku." sahut Pradana. Yasinta akhirnya memeluk Pradana. Pradana sangat terkejut dengan Yasinta yang tiba-tiba memeluk dirinya.
" Maafkan aku, mas! Aku mungkin telah membuat kamu sakit hati ketika aku lebih dekat dengan Naufal. Bahkan aku sudah berencana menikah dengan nya dan meminta cerai dengan kamu." kata Yasinta. Pradana membalas pelukan dari istrinya itu.
" Jangan bercanda seperti ini lagi, sayang! Aku sungguh tidak menyukai nya.
" Jadi? Apakah kamu memaafkan aku dan kita kembali menjalankan kehidupan rumah tangga ini bersama-sama dengan aku, Yasinta?" tanya Pradana. Yasinta mengangguk pelan.
" Aku juga minta maaf, mas! Aku sudah membuat kamu sakit hati juga." sahut Yasinta.
" Lupakan lah! Setelah ini kita akan bersama-sama menciptakan kebahagiaan itu. Tentu saja bersama-sama dengan anak-anak kita. Kamu harus hati- hati dengan kandungan kamu. Keselamatan kamu dan anak kita lebih utama. Aku tidak ingin kehilangan kamu seperti...." kata Pradana yang tidak melanjutkan ucapannya.
" Mas, jodoh, rezeki dan maut sudah ditetapkan oleh Nya. Kita tidak bisa menyalahkan siapapun. Semua sudah ketentuannya. Meninggal nya Mandala, itu sudah garis kehidupan nya. Sekarang sudah ada aku yang menjadi satu-satunya istri kamu, bukan? Dan tidak akan terbagi-bagi lagi." ucap Yasinta. Pradana memeluk Yasinta erat.
__ADS_1
" Maafkan aku, dulu aku tidak menganggap kamu sebagai istri aku." kata Pradana.
" Tidak apa mas! Aku tahu, kamu sangat mencintai Mandala. Satu-satunya wanita yang kamu cintai saat itu, bukan?" sahut Yasinta.
" Tapi aku mencintaimu Yasinta! Sungguh! Demi langit dan bumi, aku benar-benar menyayangi kamu." kata Pradana. Yasinta menutup mulut Pradana dengan telunjuknya.
" Jangan bersumpah! Aku sudah merasakan cinta kamu kepadaku. Aku percaya, mas!" sahut Yasinta. Pradana tidak henti- henti nya melepaskan pelukan itu. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah Pradana.
" Mas, aku ingin mengendarai mobil sport aku, boleh?" tanya Yasinta. Pradana mengerutkan dahinya.
" Aduh kenapa selalu ekstrim permintaan Yasinta." batin Pradana.
" Bagaimana kalau aku yang menjalankan mobil sport itu, kamu tidak perlu menyetir nya." tawar Pradana sambil garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Hem, kamu masih trauma dengan kecelakaan itu, mas? Aku yang mengalami nya saja, tetap santai. Bagaimana kalau kita lihat- lihat di showroom mobil sport model terkini, mas." kata Yasinta. Kembali Pradana menepuk jidatnya tidak bisa menolak keinginan Yasinta.
" Apakah kamu mau, jika anak kita jadi ngeces terus menerus karena menginginkan naik mobil sport itu? Dan ini bukan keinginan aku loh, mas! Apalagi aku sudah melihat nya model terkini mobil sport itu sangat keren." ujar Yasinta.
" Oke! Oke, kita akan melihat nya, sayang!" sahut Pradana pasrah.
Kunjungi novel. saya yang lain yah, sayang!
__ADS_1