JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
SALING MELENGKAPI


__ADS_3

Aku tahu itu kawan kamu. Kawan tapi mesra bukan? Laki-laki yang menemani kamu sewaktu di rumah sakit itu, bukan?" kata Pradana. Yasinta diam, dan memang lebih baik dia diam saja tidak perlu bicara atau membenarkan bahkan membantahnya.


" Jadi mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan laki-laki itu merebut kamu dari aku. Karena kamu adalah istri aku." ucap Pradana lagi.


" Ingat itu, Yasinta!" tambah Pradana sambil mencium leher jenjang Yasinta dan menyesapnya lama.


Yasinta mulai melenguh. Pradana kembali menuntun Yasinta ke pembaringan. Kembali Pradana menuntut yang lebih dari semua itu. Irama itu kembali diputar, diiringi berbagai alat musik yang menghasilkan suara yang mengalun lembut di sana. Suara de sa han, ke lu han, lengu han terdengar pelan dari makhluk Tuhan yang bernyawa itu.


Malam kian bercengkrama dengan gelap. Redupnya bintang mulai tertutup awan hitam yang menggumpal. Semakin lama semakin hitam. Disertai semilir angin yang berhembus pelan ke segala celah-celah.


" Aku menyukai aroma ini, Yasinta! Kenapa aku baru menyadarinya." bisik Pradana seraya tetap memainkan biolanya yang bikin bergetar jiwanya dan meronta has ratnya.


*******


Sang fajar sudah mulai malu- malu mengintip pelan. Cuaca dingin pagi itu membuat pasangan suami istri itupun saling mendekap. Pradana memeluk wanita yang saat ini tidur di atas ranjang yang sama. Di balik selimut putih dan tebal itu keduanya sangat merapat tanpa ada batasnya. Tiba- tiba mata Yasinta membuka matanya ketika suara tangis Primata terdengar sampai di kamarnya.


" Primata sudah bangun. Aku akan ke kamarnya." gumam Yasinta sambil turun dari peraduan nya dan mengenakan bajunya yang sudah berserakan di mana-mana. Sesaat Yasinta melihat Pradana yang masih lelap dari tidurnya. Betapa malam ini laki-laki itu sudah membuat hati Yasinta bahagia. Entah kenapa Yasinta semakin terbiasa dengan bau maskulin dan tubuh yang kokoh laki-laki yang mengaku suaminya itu.


" Dia cukup menawan ketika sedang tidur begitu." batin Yasinta sambil tersenyum. Kini dirinya bergegas keluar kamar Primata.


Di kamar Primata, pengasuh itu rupanya masih tertidur pulas. Yasinta meraih Primata dan menggendongnya.


" Kasihan baby sitter kamu. Dia pasti kecapekan. Mama gendong dulu yah! Mama akan membuatkan susu buat kamu, nak." kata Yasinta pelan lalu membuatkan susu untuk Primata sambil menggendongnya.


Yasinta kembali ke kamarnya dengan membawa Primata. Pradana membuka matanya namun masih enggan bangun di atas kasurnya.

__ADS_1


" Primata bangun yah? Dimana mbak baby sitter nya?" tanya Pradana dengan suara serak, khas bangun tidur.Yasinta mulai meletakkan Primata di atas kasur itu di samping Pradana. Kini Yasinta tiduran di sebelah nya.


" Kasihan baby sitter nya, mungkin kecapekan, mas. Biar Primata lanjut bobok disini dulu, mas." ucap Yasinta sambil memasukkan botol susu kecil ke mulut Primata. Pradana tersenyum menatap wajah Yasinta.


" Kamu terlihat cantik ketika mengurus bayi seperti itu. Aku ingin punya anak dari kamu juga, Yasinta." ucap Pradana sambil tersenyum nakal. Yasinta melongo dengan ucapan Pradana.


" Weekend kita ke luar kota yah! Anggap saja kita akan bulan madu." kata Pradana. Yasinta membulat matanya. Pradana malah terkekeh melihat reaksi dari Yasinta.


" Maaf! Walaupun bulan madu yang tertunda. Tapi aku tidak ingin melewatkan ini dengan kamu." ucap Pradana.


" Weekend?" sahut Yasinta. Pradana mengangguk pelan.


" Tapi?" Bagaimana dengan Primata?" tanya Yasinta.


" Nanti biar Primata tinggal sama nenek dan kakeknya. Tentu saja, baby sitter nya tetap bersama Primata." sahut Pradana.


*******


Weekend tiba.


Pradana dan Yasinta menuju ke rumah Papi, mami Pradana. Di rumah kediaman Pak Brata mertuanya Yasinta. Primata dalam gendongan baby sitter nya pun sudah ada dan satu mobil dengan Yasinta dan juga Pradana.


Setibanya di rumah kediaman Pak Brata, Pradana dan juga Yasinta turun dari mobilnya. Baby sitter yang membawa Primata pun ikut turun dan mengikuti majikannya masuk ke dalam rumah itu.


" Oh iya mas! Tas berisi perlengkapan Prima ada di bagasi, mas!" kata Yasinta yang saat ini belum menurunkan tas milik Primata yang berisikan baju, popok, susu dan alat mandi dan semua perlengkapan untuk bayi yang cantik itu.

__ADS_1


" Nanti biar diturunkan oleh bibi." sahut Pradana kini sudah tidak sungkan memeluk pinggang Yasinta.


Keduanya masuk ke dalam rumah besar dan megah itu. Mata papi,mami Pradana sampai melongo dengan sikap Pradana yang mulai dekat dengan menantu atau wanita yang dijodohkan untuk Pradana itu. Dalam hati papa mama Pradana begitu bahagia ketika melihat sikap Pradana yang berubah terhadap Yasinta.


" Terimakasih Tuhan, Engkau sudah membuka mata dan hati anakku, Pradana untuk menerima Yasinta dengan tulus kasih dan cinta." batin pak Brata. Bu Brata pun melempar senyuman nya kepada Pak Brata itu.


Pak Brata sampai ikut memeluk Bu Brata karena sangat senang nya.


" Kalian sudah makan belum, sayang?" tanya Bu Brata kepada kedua nya. Kini Bu Brata malah menarik tangan menantu nya itu menuju ke ruang makan. Diikuti oleh Pradana dan juga Pak Brata. Pak Brata merangkul pundak milik Pradana dan membisikkan sesuatu.


" Bahagia Yasinta, putri dari almarhum sahabat terbaik papa, yah nak!" bisik Pak Brata. Pradana tersenyum saja.


Semuanya kini sudah duduk di ruang makan. Tampak Bu Brata sangat sibuk menyiapkan makanan untuk anak dan menantu nya itu. Dibantu dengan asisten rumah tangga di rumah itu, berbagai jenis hidangan sudah tersaji di atas meja.


" Ayo kalian makan!" suruh Bu Brata. Yasinta dan Pradana tidak ingin mengecewakan papi mami nya.


" Papi mami! Aku titip Primata yah! Setelah ini, kami akan weekend ke luar kota." kata Pradana. Pak Brata dan Bu Brata saling pandang dan akhirnya tersenyum lega.


" Mama dengan senang hati menjaga Primata, cucu kita yah pa! Kalian jangan khawatir, Primata banyak yang jagain kalau di rumah mama papa ini. Benar kan pi?" ucap Bu Brata dengan berbinar.


" Betul-betul! Kalian fokus saja membuat adiknya Primata." ceplos Pak Brata. Yasinta seketika tersedak. Pradana mengambil kan minuman untuk Yasinta.


" Yasinta! Papi juga ingin cucu dari kamu." goda Pak Brata, Pradana terkekeh.


" Benar, Yasinta! Mama dan papa ingin memiliki cucu yang banyak." sahut Bu Brata tidak mau kalah. Yasinta memerah wajahnya sambil menatap Pradana yang menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


" Tentu kami akan bekerja keras untuk itu, pi mi!" sahut Pradana. Yasinta membulat matanya. Papi mami malah terkekeh. Betapa bahagianya Pak Brata beserta istri nya melihat perubahan dari sikap Pradana terhadap Yasinta. Mereka bukan tidak tahu sikap Pradana selama ini. Doa dan harapan mereka, supaya Pradana bisa memiliki rasa cinta itu dengan sendirinya terhadap Yasinta. Demikian juga dengan Yasinta.


Itulah resikonya jika mereka memaksakan dirinya untuk menyatukan dua insan yang sama-sama belum memiliki rasa cinta dan sayang. Harapan Pak Brata dan Bu Brata antara Pradana dan Yasinta seperti saat ini. Mereka akhirnya saling menerima, membuka hati dan belajar mencintai. Lalu berakhir saling terbiasa dan ingin saling melengkapi.


__ADS_2