
" Bagaimana kabar kamu? Sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Yuliana setelah duduk dengan nyaman bersama Yasinta.
" Kabar aku kurang baik! Nanti aku mau cerita ke kamu deh! Soal dimana aku tinggal, aku tinggal di rumah suami aku." cerita Yasinta.
" Kamu selalu begitu deh! Pasti kamu banyak masalah yang berat dan bertumpuk. Karena kamu sudah tidak kuat, akhirnya mencari aku. Iya kan?" tuduh Yuliana.
" Tapi aku tidak bermaksud memutuskan hubungan ini. Aku hanya malu saja jika kamu mengetahui tragisnya kehidupan aku." kata Yasinta.
" Yasinta! Ya sudahlah, pelan- pelan saja kamu ceritanya. Bagaimana kalau kita masuk ke dalam rumah saja yah. Kita sambil ngemil dan minum kopi. Kamu suka kopi tidak?" kata Yuliana.
" Suka! Baiklah, ayolah!" ucap Yasinta.
*******
" Sekarang ceritakan perjalanan hidupmu setelah kamu menikah!" kata Yuliana dengan bahasa bercanda namun sebenarnya serius.
" Perjalanan hidup? Hahaha!" sahut Yasinta.
__ADS_1
" Kamu kalau seperti ini sangat terlihat sekali kalau sedang kacau psikologis kamu." nilai Yuliana.
Yasinta akhirnya terdiam untuk beberapa saat. Yasinta mulai menyusun kekuatan untuk bercerita semuanya kepada Yuliana. Namun dia harus memulai bercerita dari mana? Yasinta masih bingung. Untuk bercerita dan curhat itu pada akhirnya dirinya akan kembali mengingat akan kesedihan dan kekecewaan nya. Ditambah kesepiannya selama ini, yang menikah namun seperti tidak menikah. Memiliki suami namun berasa tidak mempunyai suami. Ini sungguh sangat tragis bukan?
" Aku dulu menikah karena dijodohkan." kalimat pertama yang keluar dari mulut Yasinta.
Yuliana masih diam dan mendengarkan dengan lebih fokus.
" Tentunya dengan pria mapan, dari keluarga berada dan juga tidak buruk rupa." tambah Yasinta lagi.
" Namun dari malam pertama sampai sekarang dia tidak pernah menyentuh aku. Sekalipun." cerita Yasinta lagi. Hal ini membuat Yuliana membulat matanya.
" Kamu masih perawan?" tanya Yuliana vulgar. Yasinta hanya mengangguk pelan.
" Suami aku itu hanya mencintai kekasih nya. Sebelum pernikahan kami terjadi, suami aku itu bertemu dengan kekasih nya dan mereka bertemu di sebuah penginapan. Mereka melakukan hubungan selayaknya suami istri sebagai perpisahan mereka berdua. Namun kenyataan nya setelah kami menikah dengan suami aku itu, dia tidak mau menyentuh aku sama sekali." cerita Yasinta.
" Sampai beberapa bulan akhirnya suami aku memutuskan mencari kekasihnya itu. Wanita itu ternyata mengandung anak dari suami aku dan diasingkan oleh keluarga nya supaya kehamilan nya tidak diketahui oleh lingkungan keluarga nya. Karena memang wanita itu tidak mengaku siapa yang menghamili nya." cerita Yasinta lagi.
__ADS_1
" Akhirnya suami aku dapat menemukan kekasihnya itu yang tinggal bersama neneknya di desa terpencil jauh dengan keluarga besar nya dan kerabat nya. Lalu akhirnya suami aku mendatangi kedua orang tuanya untuk meminta ijin menikahi wanita itu. Tentu sebelumnya sudah mendapatkan ijin dari aku." cerita Yasinta.
" Kenapa kamu kasih ijin dia menikah lagi?"sahut Yuliana.
" Karena itu sudah seharusnya aku lakukan. Dia yang tidak menyukai aku dan hanya mencintai kekasihnya itu. Lagipula wanita atau kekasihnya itu sudah mengandung anak dari suami aku dan rela tidak menikah dengan laki-laki manapun. Itu yang membuat aku terharu." cerita Yasinta.
" Terus?" sahut Yuliana.
" Sampai saat ini aku baru sadar. Keberadaan aku di rumah itu seperti bukan siapa-siapa. Dibilang istri bukan namun di atas kertas kenyataan nya aku adalah istrinya. Aku tidak punya keberanian untuk berpisah. Karena aku masih berharap suatu hari nanti, suami aku akan menerima aku sebagai istrinya dan menyayangiku." cerita Yasinta.
" Kamu terlalu naif!" sahut Yuliana.
" Aku sangat lelah, Yuliana! Tetapi aku sudah terlanjur berharap dan menyayangi suami aku. Bagi aku, aku harus menikah sekali dalam. hidupku." cerita Yasinta.
" Walaupun kamu tersiksa? Mengharap sesuatu yang belum pasti? Kenapa tidak pisah saja sih?" protes Yuliana.
" Yuliana! Aku sedih!" kata Yasinta sambil memeluk Yuliana.
__ADS_1