JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
DI PUNCAK


__ADS_3

Pradana dan Yasinta sedang menikmati liburannya. Mereka kali ini sengaja membawa mobil sendiri untuk melakukan perjalanan. Pradana seperti sedang kasmaran terhadap Yasinta, senyumnya selalu tersungging di bibir nya ketika melihat Yasinta di samping nya. Sesekali tangan Pradana meraih pergelangan tangan milik Yasinta. Punggung tangan itu dikecup mesra oleh Pradana.


" Aduh, kenapa laki-laki ini seperti dimabuk asmara dengan aku. Selama ini ngapain aja? Baru sadar kalau wanita di dekat nya bisa membuatnya gila?" batin Yasinta nakal.


" Kamu lapar tidak?" tanya Pradana. Yasinta menggeleng pelan.


" Belum! Apa boleh aku menggantikan kamu nyetir mobilnya?" tawar Yasinta. Pradana terkekeh.


" Kalau kamu yang nyetir, bisa- bisa dua hari baru nyampe kita di villa. Kita akan melewatkan tempat- tempat wisata di daerah itu." sahut Pradana. Yasinta nyengir saja.


" Mana tahu kamu capek mas, dan butuh tidur walaupun sebentar saja. Jangan meragukan kemampuan aku dalam nyetir mobil mas. Gini- gini juga sempat ikut balapan juga." celotehan Yasinta. Pradana mengerutkan dahinya, tidak percaya kalau wajah se polos dan se kalem Yasinta juga hobi balapan.


" Pernah ikut event balap mobil?" tanya Pradana masih meremehkan dan belum yakin kalau wanita di samping nya itu mahir di medan sirkuit.


" Pernah ikut, namun belum sempat menjadi senior sudah di jodohkan dengan kamu, mas!" sahut Yasinta. Pradana makin tertarik dengan hobi Yasinta. Pradana tidak menyangka saja kalau wanita yang terlihat lembut seperti Yasinta, garang ketika di medan sirkuit balap.


" Benarkah? Aku tidak percaya kalau kamu belum membuktikannya dan aku belum melihat nya sendiri kemampuan nyetir kamu." ucap Pradana. Yasinta merebahkan tubuhnya di sandaran jok mobil milik. Kini Yasinta malah memejamkan matanya, memilih tidur saja dari pada ribut dengan Pradana.


" Pernah ikut kelas apa di balap mobil?" tanya Pradana masih penasaran.


" Masih uji coba aja, mas! Kelas formula 1 dan paling sering ikut balapan mobil sport. Kadang taruhan dengan kawan pakai mobil- mobil mewah." cerita Yasinta. Pradana makin kepo.


" Masih ada mobil sport nya?" tanya Pradana. Yasinta menjawab dengan mata terpejam.


" Tinggal yang di rumah itu saja yang aku miliki! Dua mobil sport ditinggal di rumah tante aku dan mungkin saja dipakai anak- anaknya. Aku sudah tidak perduli dengan harta itu." cerita Yasinta. Pradana semakin tertarik dengan kehidupan Yasinta sesungguhnya.


" Jadi? Kamu ini termasuk anak konglomerat yah, makanya papa mama aku kok sangat memaksakan kehendak dengan perjodohan kita ini." ucap Pradana. Yasinta cepat menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


" Mungkin dulu! Nyatanya aku tidak punya apa-apa sekarang, kecuali aku hanya punya kamu saja." sahut Yasinta. Pradana spontan tertawa lepas.


" Sungguh aku benar-benar tertarik dengan kehidupan kamu. Setelah istirahat nanti, aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu, boleh kan?" ucap Pradana. Yasinta menarik nafas panjangnya.


" Aku malas cerita yang sudah usang dan aku tutup rapat- rapat. Kalau ingin tahu banyak tentang aku, nanti kamu bisa bertanya dengan mama papa saja mas. Oke?" ucap Yasinta. Pradana semakin tertarik dengan Yasinta.


Pradana tiba- tiba menghentikan mobilnya. Yasinta mulai melongo ketika Pradana mulai mendekati dirinya yang begitu dekat.


" Eh kamu mau ngapain?" tanya Yasinta masih gugup. Walaupun sudah begitu intim dengan Pradana, namun Yasinta masih belum terbiasa terlalu banyak bercanda dengan Pradana.


" Kamu yang jalankan mobilnya!" ucap Pradana sambil melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuh Yasinta. Yasinta menghela nafas lega, dia pikir Pradana, akan berbuat mesum di dalam mobil itu.


" Baiklah!" kata Yasinta sambil turun dari mobil itu lalu berpindah tempat duduknya. Mereka bertukar posisi. Pradana mulai bersandar di kursinya dan mulai meluruskan punggung nya.


" Kamu sudah siap, mas?" ucap Yasinta. Pradana tersenyum saja. Yasinta mulai menjalankan mobil milik Pradana itu. Pradana spontan terpana akan kemahiran Yasinta dalam mengatasi jalanan dan membelah jalan raya.


" Kamu sangat seksi kalau sedang fokus mengemudi." goda Pradana. Yasinta tersenyum sambil memainkan bola matanya.


" Tahun ini kalau kamu bisa kasih aku anak. Dan mengandung anak aku, Aku akan membelikan mobil sport keluaran terbaru." ucap Pradana. Yasinta menjulurkan lidahnya.


" Maaf! Maaf aku tidak tertarik!" sahut Yasinta sambil meringis. Pradana malah makin gemas melihat Yasinta. Pradana malah menggoda Yasinta dengan tangannya yang jahil.


" Oh mas! Aku sedang menyetir." teriak Yasinta mulai panik ketika Pradana mulai menggerayangi bagian pangkal paha nya. Pradana tersenyum kemenangan.


" Kasih aku satu anak saja yah dari rahim kamu!" kata Pradana, Yasinta masih tetap sama menjulurkan lidahnya.


" Tidak! Aku tidak mau! Bukankah kamu sudah punya anak dari Mandala?" kata Yasinta.

__ADS_1


" Dari kamu belum, Yasinta!" sahut Pradana. Yasinta hanya tersenyum geli.


" Baiklah! Tapi aku tidak janji yah!" kata Yasinta kini mulai menggoda.


" Papa mama menginginkan cucu dari kamu, Yasinta! Bibitnya pasti lebih unggul, karena kamu sangat cantik." goda Pradana. Yasinta menjulurkan lidahnya kembali.


" Sudah diam! Aku akan menambah kecepatan laju mobil ini. Mobil kamu ini mesinnya sudah sangat payah!" ucap Yasinta. Pradana terkekeh.


Pradana mulai memejamkan matanya ketika Yasinta benar-benar menaikan kecepatan mobil itu. Betapa ini diluar dugaan Pradana. Kalau seperti ini, seolah tidak memperdulikan nyawa lagi. Memang Yasinta sangat pandai membaca situasi dan medan di jalanan dengan cepat dan cerdas. Segala perhitungan nya tepat sasaran.


" Kamu sangat cocok jika menjadi sopir lintas Sumatra saja, Yank! Aku tiba-tiba mual dan pusing! Bisa kita mampir ke rumah makan dulu, gak yank?" kata Pradana. Yasinta kini terkekeh melihat raut wajah Pradana yang mulai memucat.


" Sebentar lagi sampai kok, mas! Nanggung banget kalau hendak mampir- mampir lagi." sahut Yasinta. Pradana memijat pelipis nya sendiri.


" Pusing banget yah?" tanya Yasinta mulai menurunkan laju kecepatan nya dan melirik ke arah Pradana.


"Sepertinya aku perlu amunisi nih." sahut Pradana. Yasinta mengerutkan dahinya.


" Baiklah! Di depan sana ada rumah makan ayam bakar. Kita mampir di sana saja, bagaimana mas?" kata Yasinta. Pradana mengangguk pelan.


Benar saja! Tidak lama akhirnya Yasinta memarkirkan mobil itu masuk ke area parkir di rumah makan yang cukup luas itu. Rumah makan ditempat itu terlihat sangat nyaman dan santai.


" Sudah sampai mas!" ucap Yasinta. Pradana malah memejamkan matanya. Yasinta mendekati wajah laki-laki yang masih bersandar di jok mobilnya dengan mata terpejam. Yasinta menepuk pipi Pradana pelan.


" Bangun mas! Katanya mau mampir dan singgah di rumah makan?" Yasinta mengamati wajah laki-laki itu yang kini sudah menjadi suaminya. Ketika wajah itu begitu dekat. Pradana menahan tengkuk Yasinta dan meraup bibir itu dengan ganas. Yasinta sampai ngos-ngosan, kehabisan nafas. Yasinta dengan pelan mendorong wajah itu.


" Kamu selalu curang, dan mencuri ciuman pertama aku. Aku kan masih perawan, tahu." kata Yasinta sambil menjulurkan lidahnya lagi. Pradana malah terpingkal- pingkal mendengar ucapan Yasinta.

__ADS_1


" Ciuman pertama? Masih perawan? Hahaha. Kamu harus membuktikan semuanya itu nanti di villa yah?" sahut Pradana sambil cekikikan lalu keduanya menuju rumah makan dan memesan makanan dan minuman sesuai selera mereka.


__ADS_2