
Yasinta dan Naufal masih duduk di lobby hotel itu. Keduanya ngobrol santai sambil menikmati hidangan yang ada di atas meja itu. Cerita- cerita lucu dan pengalaman mereka berdua mengalir begitu saja. Yasinta sejenak melupakan masalahnya. Yasinta tidak jadi curhat dan mengungkapkan segala masalahnya. Saat ini yang penting bersama Naufal dirinya bisa tertawa, bercanda.
" Sudah siang! Kamu lapar tidak?" tanya Naufal.
" Lapar? Sedari tadi loh aku ngemil aja. Masa, aku bilang lapar sih?" sahut Yasinta sambil terkekeh.
" Yah mana tahu!" ucap Naufal akhirnya.
" Naufal!" panggil Yasinta pelan.
" Aku boleh istirahat ke kamar kamu tidak?" tanya Yasinta tanpa malu.
" Eh? Kamu mau menggoda aku di sana?" goda Naufal dengan candaan nya.
" Kalau tidak boleh ya sudah! Aku pulang saja deh!" ucap Yasinta sedikit merajuk.
" Kamu mau ngapain?" tanya Naufal yang seperti nya keberatan.
" Mau istirahat bentar! Aku mau bobok di sana. Aku sangat lelah sekali." kata Yasinta jujur.
Naufal melihat raut wajah Yasinta yang benar-benar lelah. Lelah karena psikologis nya begitu berat karena masalah yang dia hadapi.
" Baiklah! Aku juga ingin rileks di balkon kamar aku itu. Pemandangan nya indah kalau duduk di sana." kata Naufal akhirnya sambil berjalan dengan tujuan kamar khusus miliknya. Yasinta mengikuti langkah lebar Naufal dengan senyuman nya.
" Terimakasih Naufal!" ucap Yasinta pelan.
" Kamu bisa tidak kalau terimakasih itu pakai cara lain." kata Naufal menggoda. Yasinta mengernyitkan dahinya.
Sesampainya di kamar itu Naufal menuju ke balkon kamar itu dan mulai menyalakan rokoknya. Sedangkan Yasinta menjatuhkan tubuhnya ke kasur empuk di kamar itu. Yasinta begitu menikmati suasana kamar milik Naufal. Yasinta akhirnya tertidur di sana. Iya, Yasinta benar-benar tertidur di ranjang empuk itu.
*******
__ADS_1
" Apa yang kamu lakukan di sini, Yasinta?" tanya Pradana.
" Itu bukan urusan kamu lagi!" sahut Yasinta.
" Ini jelas masih urusan aku. Kamu adalah istri aku. Kamu jalan bersama laki-laki lain sedangkan kamu masih paham status kamu masih istri aku." kata Pradana geram.
" Bukankah aku ini tidak kamu anggap sebagai istri kamu, mas? Kamu hanya menganggap Mandala saja istri kamu. Sedangkan aku tidak! Jadi aku berhak dong mencari kesenangan diri aku sendiri. Kenapa kamu cemburu jika aku jalan dengan laki-laki lain." kata Yasinta tidak mau kalah.
" Tidak bisa! Ini tidak bisa dibiarkan. Jika papi mami dan kolega ku tahu istri aku jalan dengan laki-laki lain, apa kata mereka?" kata Pradana akhirnya.
" Aku tidak perduli. Sungguh aku sudah tidak perduli lagi. Kalau kamu ingin menceraikan ku, aku sudah siap dan Terima dengan senang hati." kata Yasinta menantang.
" Tidak akan! Kamu tidak akan pernah aku ceraikan walaupun kamu tidak pernah aku sentuh dan anggap sebagai istri aku." kata Pradana dengan senyuman sinis.
" Kamu jahat! Kamu jahat mas!" teriak Yasinta sampai keringat nya membasahi kemeja nya.
Teriakkan Yasinta membuat Naufal masuk ke dalam kamarnya setelah sekian lama menikmati pemandangan di balkon kamarnya itu. Yasinta bermimpi di siang hari.
" Kamu ini siang- siang mimpi loh! Pakai acara nangis segala." ucap Naufal sambil mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Yasinta.
" Naufal!" panggil lirih Yasinta sambil memeluk Naufal.
Naufal mengusap pelan pundak Yasinta.
" Sudah- sudah! Kamu jangan menggoda aku dengan seperti ini." kata Naufal menggoda. Hal itu malah mendapatkan pukulan dari Yasinta ke lengan Naufal.
" Sakit tahu!" protes Naufal sambil mengelus lengannya sendiri.
" Ayo kamu bangun dulu! Kita duduk di balkon kamar ini. Kamu pasti akan menyukainya." ajak Naufal sambil menarik tangan Yasinta.
Yasinta menuruti semua yang dibilang Naufal ikut duduk di balkon itu. Mata Yasinta melihat botol dengan gelas kecil di atas meja.
__ADS_1
" Kamu minum lagi?" tanya Yasinta.
" Sedikit saja kok. Ini hanya menghangatkan badan." kata Naufal sambil menuangkan botol wine itu dan memberikannya kepada Yasinta. Yasinta menggeleng pelan. Akhirnya Naufal yang meminumnya.
" Apakah kamu sedang lagi ada masalah?" tanya Yasinta tiba-tiba.
" Tidak! Aku hanya rindu saja." jawab Naufal jujur.
" Siapa?" tanya Yasinta lagi.
" Istri aku." jawab Naufal singkat.
" Oh! Anggap saja aku istri kamu. Bisa tidak?"kata Yasinta.
" Itu tidak akan bisa! Apa kamu bisa melayani aku di atas ranjang? Apa kamu bisa menjadi istri aku sepenuhnya? Tidak bisa bukan?" kata Naufal blak-blakan.
Yasinta mengernyitkan dahinya lalu melotot matanya.
" Hahaha! Kamu tidak bisa melakukan itu! Istri itu adalah tempat bercocok tanam bagi suaminya." kata Naufal sambil tersenyum nakal.
Yasinta malah menjadi takut ketika Naufal sudah tersenyum nakal seperti itu.
" Istri aku tidak bisa digantikan, Yasinta. Aku begitu menyayangi nya. Namun dia sungguh tega sekali meninggalkan aku sendiri di dunia ini. Yasinta." kata Naufal menjadi sedih.
Yasinta mendekati Naufal dan memberikan ketenangan itu kepada nya. Yasinta mulai memeluk Naufal dengan kehangatan yang tulus.
" Yasinta! Kamu apakah tidak takut jika dekat- dekat kepadaku? Aku bisa berbuat nakal kepadamu." ucap Naufal sambil mengusap- usap Kepala nya di dada empuk Yasinta.
" Tubuh kamu wangi. Sangat wang, Yasinta! Seperti istri aku." kata Naufal.
' Kamu mulai mabuk Naufal! Kamu sudah ngoceh tidak jelas." sahut Yasinta.
__ADS_1
" Tidak! Aku masih sangat sadar." kata Naufal sambil melepaskan pelukan Yasinta lalu menghabiskan botol wine miliknya.