
Yasinta sudah dipindahkan di kamar inap. Saat ini yang menemani Yasinta adalah mama Pradana, Bu Brata. Pak Brata dan Pradana saat ini telah mendengarkan penjelasan dokter syarat mengenai dampak dan akibat dari kecelakaan yang menimpa Yasinta. Beruntung, secara keseluruhan Yasinta tidak mengalami cidera di dalam tubuhnya. Namun karena benturan dari kecelakaan itu, Yasinta mengalami gegar otak yang menimbulkan beberapa memori di otaknya nya hilang. Yasinta mengalami amnesia yang sifatnya tidak permanen. Sebagian ingatan Yasinta hilang, dan mungkin ingatan yang masih melekat pada Yasinta ketika merasakan tertekan.
" Jadi? Yasinta amnesia?" ucap Pradana.
" Benar, pak! Tapi ini sifatnya sementara saja, pak! Menurut analisa terakhir, ingatan bu Yasinta hilang atau terpotong di saat akhir- akhir kejadian sebelum kecelakaan. Ini bisa dari jangka waktu satu hingga dua bulan terakhir ini." jelas dokter tersebut. Pradana menutup mulutnya.
" Satu hingga dua bulan terakhir ini? Ingatan Yasinta terpotong di awal itu? Bukankah itu awal aku baru saja menerima Yasinta sebagai istri aku? Awal dimana aku mulai merasakan nyaman dan lalu jatuh cinta dengan Yasinta. Satu, dua bulan ini dimana aku dan Yasinta sudah mulai dekat dan mesra sebagai seorang suami istri." batin Pradana. Saat ini Pradana mulai kacau.
" Jadi? Kemungkinan Yasinta akan melihat dan memandang aku sebagai suami yang tidak angkuh, cuek, dingin dan tidak menganggap Yasinta sebagai seorang istri." pikir Pradana lagi.
" Tapi ini tidak permanen, pak! Dengan pengobatan yang rutin, Bu Yasinta akan berangsur-angsur pulih kembali ingatan nya. Pak Pradana harus bersabar dalam hal ini." terang dokter itu. Pak Brata mengusap punggung Pradana supaya bersabar.
__ADS_1
" Pelan- pelan bu Yasinta diberi penjelasan dan penerangan mengenai ingatan nya yang terlupakan itu. Namun itu tidak bisa dipaksakan, pak! Jika terlalu memaksakan supaya mengingat kembali, akan beresiko dari Bu Yasinta dalam Syarat otaknya." jelas dokter itu. Pak Brata memahami sambil mengangguk pelan. Pradana kini malah terlihat kacau.
" Sabar, Pradana! Ini hanya sebentar dan sementara saja!" sahut Pak Brata.
Kini keduanya keluar dari ruangan dokter spesialis syaraf itu. Pradana terlihat ragu- ragu ketika hendak masuk ke kamar dimana Yasinta sedang dirawat. Pak Brata akhirnya masuk ke dalam menjumpai menantu nya serta istrinya yang sejak tadi menjaga Yasinta.
Pradana mengintip dan berdiri di dekat pintu kamar itu.
" Iya, nak! Apakah sudah lebih baik? Masih sakit tidak kepalanya?" tanya Pak Brata. Yasinta menggeleng pelan.
" Kapan pulang dari sini, pi? Mi? Ingin cepat pulang." kata Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata tersenyum.
__ADS_1
" Besok sudah bisa kembali ke rumah kok, nak! Tapi tidak ada keluhan sakit di kepala kamu kan, nak?" ujar Bu Brata. Pak Brata ikut membenarkan.
" Tidak! Aku tidak apa- apa kok pi mi! Aku tidak sakit, aku sehat." ucap Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata tersenyum senang.
" Setelah ini aku ingin pulang ke rumah mami papi dulu yah! Aku tidak mau pulang ke rumah itu, takut mengganggu mas Pradana dan juga Mandala." kata Yasinta. Bu Brata dan Pak Brata saling pandang.
Di dekat pintu kamar itu, Pradana menutup mulutnya.
Pradana sangat kacau.
" Jadi, sampai disitu memori yang tersimpan oleh Yasinta? Masih mengira Mandala masih ada dan belum meninggal. Dan keberadaan Primata, putri dari Mandala juga hilang di ingatan nya." pikir Pradana.
__ADS_1
" Aku harus bersabar kali ini. Benar- benar bersabar mengembalikan ingatan indah yang terakhir itu bersama Yasinta dan aku. Tapi kenapa ini harus terjadi dan aku alami ketika aku sudah jatuh hati dengan istri aku ini. Yasinta! Maafkan aku! Aku sudah menorehkan kenangan pahit dalam ingatanmu." batin Pradana. Hatinya begitu sesak dan sulit bernafas. Menangis pun rasanya sudah sangat sulit.