
Di kediaman Pak Brata, Yasinta saat ini terlihat tertawa lepas sambil menerima panggilan suara dari seberang sana. Tawanya yang lepas, membuat wajah ayu Yasinta terlihat semakin bersinar. Hal itu membuat Pradana mengerutkan dahinya tatkala melihat wanita yang berstatus istrinya itu terlihat penuh ceria dan gembira berbicara dengan seseorang diseberang sana. Entah siapa yang diajaknya mengobrol dan bercanda oleh Yasinta. Namun Yasinta terlihat sangat bahagia. Ini sangat berbeda sekali ketika bersama dengan Pradana setelah kepulangan nya dari rumah sakit itu. Itu sangat membuat sedih Pradana.
Pradana masih berdiri mematung di depan pintu kamar itu. Sedangkan Yasinta duduk di dekat jendela kamar sambil berbicara dengan seseorang melalui ponselnya. Sesekali tawa itu lolos di bibir Yasinta. Sesekali keluar kata- kata manja dari mulut Yasinta. Tidak ada batasan dan seperti nya sangat bebas berbicara dengan seseorang itu. Pradana menjadi terbakar api cemburu.
" Dia masih istri aku. Aku seperti tidak dianggap nya. Dia terlihat bahagia berbicara dan ngobrol dengan orang lain. Sedang dengan aku sekarang? Dia sangat kaku dan seolah ada batasan." batin Pradana sambil mengepalkan tangannya.
Ada kemarahan di sana. Namun Pradana sadar, saat ini Yasinta telah mengalami amnesia. Bagian memori yang terakhirnya hilang. Padahal memori terakhirnya adalah, Yasinta dengan Pradana sudah mulai bertaburan bunga dan mulai menerima satu dengan yang lain. Apalagi Pradana. Dia sudah sadar dan benar-benar merasakan kalau ketika dia bersama Yasinta terasa nyaman, damai dan bahagia. Ada rasa rindu ketika seharian meninggalkan Yasinta kerja ke kantor. Dan ini, harus melihat Yasinta tertawa bahagia namun bukan dengan dirinya, Pradana.
" Sebenarnya dengan siapa dia berbicara?" batin Pradana. Yasinta masih belum menyadari kalau sudah lama dirinya diperhatikan oleh Pradana. Yasinta masih asyik menelepon dengan seseorang di seberang sana.
Yasinta kini mulai meraih tas kecilnya setelah sebelumnya berdiri di depan kaca sambil merias dirinya dengan make-up tipisnya. Pradana mulai mendekat Yasinta karena seperti nya Yasinta hendak pergi.
" Kamu mau kemana, Yasinta?" tanya Pradana selembut mungkin. Pradana tidak ingin Yasinta semakin membencinya. Yasinta menatap Pradana dengan wajah aneh.
" Aku mau pergi, mas!" sahut Yasinta kalem. Pradana memegang pundak Yasinta seolah hendak melarang Yasinta.
" Kemana? Biar aku antar!" ujar Pradana penuh perhatian. Yasinta seolah tidak percaya Pradana mulai perhatian dengan nya.
" Aku ada janji dengan kawanku. Kamu tidak perlu mengantar aku, mas! Aku bisa naik mobil sendiri kok." ucap Yasinta. Pradana tidak mau menyerah.
" Mobil lama kamu masih di rumah. Sedang mobil baru kamu masuk bengkel. Jadi biar aku antar kamu saja, hem?" ucap Pradana menjelaskan. Yasinta menghela nafasnya.
__ADS_1
" Tidak! Tidak! Kalau begitu biar aku naik taksi saja." sahut Yasinta masih bersikeras hendak mau pergi tanpa Pradana.
" Jangan naik taksi! Apalagi kamu hendak pergi sendiri. Nanti kalau ada apa-apa dengan kamu bagaimana?" kata Pradana masih bersikeras hendak mengantar Yasinta. Namun masih bingung apa alasannya untuk melarang Yasinta dengan naik taksi itu.
" Tidak! Jangan khawatir mas! Aku akan baik- baik saja. Nanti pulangnya biar teman aku yang mengantarkan aku kembali ke rumah ini. Kamu lebih baik kembali saja ke rumah mas. Kasihan Mandala menunggu kedatangan kamu. Aku sudah tidak apa-apa kok." kata Yasinta. Pradana mengusap dahinya sendiri. Kembali Yasinta mengingatkan akan kejadian waktu masih bersama Mandala. Sedang Yasinta selalu tersingkir dan tidak dianggap di dalam rumah nya itu.
Yasinta seperti memohon kepada Pradana. Pradana seperti kebingungan dan sedih. Dia ingin mengajak Yasinta ke makam Mandala supaya, Yasinta kembali ingat kalau Mandala sudah tiada.
" Sebenarnya kamu mau kemana, Yasinta?" tanya Pradana lagi.
" Ke teman aku?" jawab Yasinta.
" Laki-laki!" jawab Yasinta polos tanpa memperdulikan perasaan Pradana. Karena memang pikir nya Yasinta memang belum diakui sebagai istri Pradana.
" Apakah laki-laki itu sangat spesial? Apakah laki-laki itu yang baru saja menelepon kamu?" tanya Pradana penuh kecemburuan. Yasinta mengerutkan dahinya.
" Hem, mungkin saja! Aku juga belum tahu perasaan aku sendiri mas!" jawab Yasinta asal.
" Tapi dia akan senang hati menikah dengan aku dan menerima aku jika aku bercerai dengan kamu, mas. Lagi pula, aku pikir ini lebih baik bukan? Kamu sudah dengan Mandala. Lalu aku akan pergi di kehidupan kalian dan meminta cerai dengan kamu. Walaupun aku sendiri masih belum yakin, dengan perasaan aku sendiri kepada nya. Tapi ketika aku bersama dengannya, aku merasakan nyaman, damai dan juga merasa dilindungi. Aku seperti tuan putri yang selalu diperhatikan oleh nya." kata Yasinta. Pradana merah padam menahan amarahnya dan cemburu yang luar biasa.
" Setelah ini aku ingin menggugat cerai dengan kamu, mas!" jelas Yasinta.
__ADS_1
" Cukup, Yasinta! Aku tidak akan menceraikan kamu!" sahut Pradana. Yasinta membulat matanya.
" Kenapa? Bukannya kamu tidak menganggap aku ini istri kamu, dan kamu hanya mencintai Mandala saja." kata Yasinta. Pradana merasakan sesak dadanya. Air matanya dia tahan jangan sampai lolos jatuh dari sudut matanya itu.
" Kalau kamu tidak kasih aku naik taksi, aku pinjam mobil kamu saja, mas!" kata Yasinta. Pradana hanya diam.
" Aku antar kamu yah!" kembali Pradana seperti memohon.
" Tidak, mas!" sahut Yasinta.
" Kunci mobil kamu mana mas?" tanya Yasinta lagi.
" Biar sopir aku yang mengantar kamu, Yasinta. Jika kamu tidak menginginkan aku yang mengantar kamu." akhirnya Pradana mengalah.
" Itu lebih baik! Nanti pulangnya biar teman aku yang antar yah, mas!" ucap Yasinta. Pradana kembali mengepalkan tangan nya.
" Kamu jangan lupa pulang mas! Kasihan Mandala di rumah menunggu kamu." kata Yasinta lagi.
" Kamu tahu Yasinta! Saat ini hanya kamu yang mengganggu pikiran aku. Ketika aku sudah terbiasa dengan kamu dan mulai menyayangi kamu, kamu tidak menghiraukan aku. Apakah ini yang kamu rasakan ketika dulu, saat aku bersama dengan Mandala?" gumam Pradana.
" Cerai? Kamu menginginkan cerai itu Yasinta? Tidak akan aku kabulkan keinginan itu!" kata Pradana sambil menggenggam tangannya penuh kemarahan.
__ADS_1