
" Bagaimana dengan kamu? Rumah tangga kamu dengan istri kamu?" tanya Yasinta akhirnya.
" Aku? Aku sih kebetulan sudah berstatus duda." jawab Naufal jujur.
" Oh maaf!" sahut Yasinta.
" Tidak apa- apa. Aku duda karena memang istri aku meninggal dunia ketika melahirkan anak kami yang pertama." cerita sedih Naufal.
" Innalillahi! Aku ikut berduka cita yah." kata Yasinta.
" Mungkin ini sudah takdir istri aku. Dan akhirnya aku pun ditakdirkan menjadi duda karena ditinggal meninggal oleh istrinya." kata Naufal dengan sedih.
" Aku lebih menyukai cerita seorang laki-laki yang berstatus duda karena istrinya meninggal dibanding status duda karena perceraian." ucap Yasinta.
" Hahaha." Naufal tertawa.
" Kamu tertawa padahal hati kamu menangis, Naufal." sahut Yasinta.
" Begitu yah! Tapi aku bahagia bisa bertemu dengan kamu dan bisa ngobrol banyak dengan kamu." kata Naufal jujur.
" Syukurlah kalau begitu!" sahut Yasinta.
" Nah itu kafe nya!" kata Naufal lalu masuk ke parkiran dimana kafe itu berada.
__ADS_1
*******
" Aku tidak pernah sekalipun datang ke kafe macam ini." kata Yasinta jujur setelah mereka berdua duduk di sudut ruangan kafe itu. Naufal sudah memesan beberapa minuman dan dessert di kafe itu.
Naufal mulai mengamati penampilan Yasinta yang terbilang sangat sederhana. Mungkin saja Yasinta lahir di lingkungan yang sederhana tidak ada gaya glamor. Mungkin juga Yasinta berteman dengan wanita- wanita yang lurus- lurus saja tidak mengikuti gaya kebebasan modernisasi.
" Apakah suami kamu tidak pernah seromantis ini? Misalnya ngajak makan bersama kamu ditempat yang indah dan mewah? Dengan posisi suami kamu yang memiliki perusahaan di keluarganya dan kehidupan nya pasti di atas kata mewah." nilai Naufal.
" Memang kenyataan nya aku tidak pernah makan bersama suami aku ditempat romantis. Lagi pula aku sebenarnya tidak menuntut semua itu. Aku hanya perlu perhatian dan menganggap aku istri yang harus disayang dan diperhatikan. Tidak dianggap sebagai simbol saja." kata Yasinta penuh kepedihan.
Naufal menarik nafasnya dalam- dalam. Apakah serumit itulah perjalanan rumah tangga Yasinta? Bahkan tersirat kesepian yang begitu hebat dalam diri Yasinta. Apakah suaminya tidak pernah sekali pun memperhatikan nya. Dengan kesibukannya, sampai lupa akan istrinya? Inilah yang menjadi pikiran dan dugaan dari Naufal ketika melihat mata sendu dari Yasinta.
" Maaf! Apakah suami kamu begitu sibuk sehingga lupa akan pulang ke rumah?" tanya Naufal akhirnya.
" Tidak juga! Suami aku termasuk tipe suami yang setia dan tidak aneh- aneh. Namun mungkin saja aku bukanlah wanita yang dia cintai. Jadi dia seolah tidak menganggap aku itu ada." cerita Yasinta.
" Iya! Aku dan suami aku menikah karena paksakan orang tuanya menjodohkan aku dengan suami aku. Lalu karena suami aku takut tidak mendapatkan jatah dari saham perusahaan dan posisi teratas di perusahaan keluarga nya makanya dia menikahi aku. Namun aku seolah tidak dianggap sebagai istrinya." cerita Yasinta.
" Hah?" sahut Naufal sangat terkejut.
" Aku berharap dia memiliki cinta terhadap aku suatu hari nanti. Namun sampai saat ini nyatanya tidak." cerita Yasinta mengalir begitu saja.
Suasana menjadikan mereka sama- sama curhat kehidupan pribadinya masing-masing. Dan Yasinta akhirnya mengeluarkan semua yang dirasakan nya. Kesedihannya semua ia tumpahkan pada Naufal.
__ADS_1
" Jika kamu sedih dan menderita, kenapa tidak bercerai saja! Eh, maaf!" kata Naufal yang membuat Yasinta membulat matanya.
" Aku tidak cukup berani dengan keputusan itu. Aku masih berprinsip menikah sekali dalam hidup aku. Aku hanya berdoa suatu hari nanti rumah tangga aku akan lebih baik. Dan suami aku akan mencintai aku dengan tulus ikhlas tanpa keterpaksaan lagi." kata Yasinta.
" Iya! Kamu wanita baik! Pasti kelak kamu akan memiliki keluarga yang penuh kebahagiaan itu. Namun aku kok tidak yakin jika kamu masih bersama dengan suami kamu itu." kata Naufal.
" Maksudnya?" tanya Yasinta.
" Kamu bisa bahagia dan menentukan kebahagiaan kamu, mungkin dengan laki-laki lain. Laki-laki yang benar-benar menyukai dan menerima kamu dengan tulus ikhlas. Menghargai kamu sebagai wanita dan istrinya. Kelak akan menjadi ibu dari anak-anak nya." kata Naufal menilai.
" Begitu yah! Apakah suami aku tidak akan pernah menyukai aku?" tanya Yasinta.
" Mungkin saja cinta itu akan hadir ketika dia sudah mulai kehilangan sosok kamu darinya. Kamu tidak ada lagi di dekatnya." jawab Naufal akhirnya.
" Ah rumit sekali bahasa kamu." sahut Yasinta.
" Hahaha. Ya sudahlah! Kita nikmati dulu malam ini bersama." ajak Naufal sambil memberikan gelas kecil yang baru saja ia tuang dengan botol wine yang ia pesan tadi kepada Yasinta.
" Ini minuman apa?" tanya Yasinta.
" Wine! Coba aja!" jawab Naufal sambil tersenyum.
" Apakah suami kamu sudah bertanya kepada kamu, kapan kamu pulang atau menanyakan keberadaan kamu sekarang?" tanya Naufal penuh selidik.
__ADS_1
" Tidak ada sama sekali." jawab Yasinta sambil meminum gelas kecil pemberian Naufal.
" Astaga! Ini sungguh keterlaluan!" sahut Naufal akhirnya.