
Di ruang kerja Naufal, kini di depannya ada laki-laki yang menunjukkan wajah kurang bersahabat kepada Naufal. Naufal tersenyum menatap laki-laki itu. Namun tatapan nya masih tetap sinis terhadap Naufal.
" Santai dan rileks saja, bro! Silahkan diminum dulu kopinya! Kalau mau merokok juga boleh." ucap Naufal. Naufal kini mulai menyeruput kopi hitamnya yang masih panas dan mulai menarik batang rokoknya. Laki-laki itu ikut menarik batang rokok nya lalu menyalakan nya.
Naufal tersenyum melihat ketegangan wajah dari laki-laki itu.
" Yasinta menghendaki perceraian itu! Apakah anda akan memberikan kemudahan dari niat Yasinta, itu?" tanya Naufal. Laki-laki itu tersenyum sinis.
" Tidak ada perceraian itu! Yasinta masih istri aku. Dan aku peringatkan kepada kamu, jangan dekati Yasinta dan jangan mengganggu nya lagi." ancam laki-laki tidak lain adalah Pradana.
" Kenapa? Bukannya sebelum istri anda yang anda cintai meninggal dunia, anda sama sekali tidak mengangkat Yasinta ada? Kenapa ini jadi berat untuk melepaskan Yasinta? Apakah anda mulai mencintai Yasinta?" ucap Naufal penuh sindiran.
" Ini bukan urusan kamu! Ini urusan rumah tangga kami!" sahut Pradana.
__ADS_1
" Tapi kalau sudah menyangkut Yasinta, menjadi urusan aku juga, bro! Aku juga mencintai Yasinta. Aku menyayangi Yasinta sebelum kamu memiliki rasa itu." kata Naufal. Pradana tertawa lepas.
" Dia wanitaku! Dia itu istri aku! Bahkan dia sudah beberapa kali tidur dengan aku. Dan sebelum kecelakaan itu terjadi, kami sudah saling mencintai dan melakukan hubungan suami istri sampai berkali-kali. Dan kamu tahu? Yasinta sangat menyukai permainan ranjang dengan aku." ucap Pradana berapi api. Naufal terdiam tidak bisa berkata. Hatinya penuh amarah dan cemburu nya mulai membakar kepalanya.
" Kecelakaan itulah yang menyebabkan sebagian ingatan Yasinta hilang. Tapi ini tidak akan lama. Yasinta akan kembali mengingat nya. Mengingat terakhir kali, bahwa akulah yang dicintainya. Bukan kamu. Kamu sudah tersingkir." kata Pradana. Naufal kini tersenyum sinis.
" Saat ini kenyataan nya Yasinta ingin bercerai dengan kamu, loh! Dia masih menganggap kalau kamu tidak mencintai Yasinta dan masih mencintai istri kamu." sahut Naufal. Pradana tiba-tiba menggebrak meja itu.
"Hai tenanglah, bro!" kembali Naufal berucap. Pradana melepaskan cengkraman itu.
" Maaf! Tapi itu sudah berlalu. Sebelum kecelakaan itu terjadi, kami sudah memulai kehidupan rumah tangga yang penuh keintiman. Yasinta menyayangi aku dan demikian juga aku." kembali Pradana menunjukkan kalau Yasinta juga mencintai dirinya.
" Itu dulu kan? Sekarang?" sahut Naufal tidak mau kalah.
__ADS_1
" Yasinta masih sakit! Dia gegar otak dan mengakibatkan amnesia. Namun sifatnya tidak permanen." ujar Pradana.
" Jadi aku mohon! Jauhi Yasinta! Dia adalah istri aku. Aku benar-benar mencintai nya. Aku tidak ingin bercerai dengan Yasinta." kata Naufal lagi.
" Tapi Yasinta bersikeras ingin menggugat cerai dengan kamu, bro! Dan setelah itu Yasinta ingin aku menikah dengan nya." sahut Naufal.
Pradana kini kembali duduk di kursi nya. Belum ada lagi kata- kata untuk membujuk Naufal supaya mau meninggalkan Yasinta. Kedua laki-laki itu sama- sama menyukai Yasinta.
"Maaf, bro! Aku juga ingin membahagiakan wanita yang aku cintai. Apalagi kamu pernah menorehkan luka di hati wanita itu. Walaupun kamu bilang, sebelum kecelakaan itu kalian sudah saling mencintai. Tapi bagaimana dengan diriku? Aku juga mencintai Yasinta. Saat terakhir juga, Yasinta pada akhirnya memilih dirimu daripada aku."kata Naufal.
" Bukankah itu sudah jelas! Jika Yasinta sadar! Dia akan lebih memilih aku daripada kamu!" sahut Pradana lagi- lagi masih ngotot ingin memperjuangkan Yasinta.
" Baiklah! Semua keputusan ada ditangan Yasinta! Kita harus berlapang dada dengan keputusan Yasinta, oke?" ujar Naufal kembali tersenyum. Senyuman nya seperti sudah yakin kalau kali ini dia akan menemukan kebahagiaan nya bersama Yasinta.
__ADS_1