
Pradana mondar-mandir di ruangan tengah. Sesekali matanya menengok ke luar rumah seperti menunggu kedatangan seseorang. Hari sudah mulai petang namun Yasinta belum juga kembali ke rumah. Padahal waktu minum obat sudah tiba.Pradana harus memastikan kalau Yasinta meminum obat syarafnya.
Pradana duduk dan mulai kembali menyeruput kopinya yang baru dibuatkan oleh asisten rumah tangga nya. Tidak lama bunyi suara klakson berbunyi Pradana bergegas melihat keluar rumah dan di sana Yasinta turun dari mobil mewah itu. Laki-laki di dalam mobil itu tersenyum menyeringai ketika menangkap Pradana sedang berdiri di depan teras menunggu Yasinta. Pradana tersenyum sinis. Kedua laki-laki itu saat ini seperti sedang berperang untuk mendapatkan seorang putri.
" Mas?" ucap Yasinta. Pradana segera menuntun Yasinta masuk ke dalam rumah. Yasinta melongo dan menurut saja.
" Kamu harus segera minum obat!" kata Pradana sambil mendudukkan Yasinta di kursi ruang tengah. Kini Pradana sudah sibuk mengambil obat dan juga air mineral untuk Yasinta. Yasinta menunggu di kursi itu sambil bermain dengan ponselnya.
" Kamu minum dulu obatnya!" ucap Pradana sambil memberikan obat dan air mineral. Yasinta menurut saja.
" Kenapa sampai malam?" tanya Pradana. Yasinta menarik nafasnya lalu membuangnya secara perlahan.
" Naufal mengajak aku ke rumahnya lalu kami makan bersama dulu." sahut Yasinta. Pradana terlihat sangat cemburu.
__ADS_1
" Oh iya mas! Aku sudah memasukkan berkas perceraian kita. Setelah ini kita tunggu proses selanjutnya mas. Aku minta kamu jangan mempersulit urusan semua ini, mas!" ucap Yasinta. Pradana terdiam menahan dada nya yang sesak.
" Yasinta!" panggil Pradana pelan.
" Hem?" sahut Yasinta.
" Apakah boleh aku meminta sekali lagi dari kamu?" tanya Pradana. Yasinta memicingkan matanya.
" Apa itu?" sahut Yasinta.
" Kamu ketika sebelum menikah dengan aku masih suka balapan. Hingga pada akhirnya aku berjanji membelikan kamu mobil sport mewah itu. Setelah kepulangan kita dari puncak itu, mobil yang aku janjikan sudah ada di rumah ini. Karena kamu begitu sangat bahagia sampai tidak merasakan kalau kamu juga butuh istirahat karena perjalanan dari liburan di puncak. Kamu nekat mencoba mobil baru kamu pemberian aku. Hingga pada akhirnya kecelakaan itu terjadi dan membuat kamu melupakan sebagian kecil dari kebersamaan kita yang penuh kebahagiaan." cerita Pradana yang membuat Yasinta semakin mengantuk.
" Kamu mau kan, ke tempat itu lagi bersama aku Yasinta?" tanya Pradana. Yasinta kini malah bersandar di kursi nya. Pradana seketika meraih kepala Yasinta dan meletakkannya di pangkuan nya.
__ADS_1
" Aku sudah ngantuk, mas!" ucap Yasinta dengan lirih.
" Baiklah! Ayo kamu istirahat di dalam kamar. Kamu tidak boleh capek yah, sayang!" kata Pradana pelan. Pradana menuntun Yasinta masuk ke dalam kamar pribadi mereka. Yasinta mulai menjatuhkan tubuhnya di atas peraduan itu dan Pradana mulai menyelimuti nya.
" Aku menyayangimu, sayang!" bisik Pradana. Yasinta hanya menatap bola mata laki-laki itu yang masih penuh harap terhadap dirinya.
" Kamu mau bukan, ke puncak bersamaku besok lusa di weekend nanti?" tanya Pradana kembali untuk menegaskan jawaban dari Yasinta.
" Baiklah!" sahut Yasinta. Pradana tersenyum senang dan penuh semangat.
" Terimakasih banyak!" ucap Pradana sambil mengusap lembut rambut Yasinta.
" Apakah benar semua yang dikatakan oleh Pradana? Apakah keputusan perceraian ini benar adanya? Apakah aku telah menyakiti Pradana jika aku lebih dekat dengan Naufal sekarang ini? Aku bingung. Naufal dan Pradana sama-sama menyayangi dan menjaga aku. Ah aku bingung sekarang." batin Yasinta sambil menatap lekat wajah tampan milik Pradana. Lalu Yasinta memejamkan matanya karena sudah semakin meredup karena rasa kantuknya yang semakin mendera.
__ADS_1
" Aku harus memperjuangkan kamu, Yasinta! Kamu masih istri aku." pikir Pradana.