
Setelah ini pradana sudah bertekad. Tidak akan mensia-siakan wanita yang saat ini telah dicumbui nya dengan penuh kelembutan dan sangat hati- hati.
" Mas!" panggil Yasinta pelan. Pradana tersenyum simpul. Sungguh manis sekali.
" Seperti inikah senyum mas Pradana?" pikir Yasinta.
Dirinya kali ini seperti sudah beruntung dengan laki-laki ini yang sudah menjadi suaminya itu. Walaupun terlambat, namun sekarang dirinya sudah merasa sangat bahagia mendapatkannya.
Pradana mulai mencium Yasinta dari ujung kepala sampai bawah sana. Sepertinya Pradana tidak ingin melewatkan tiap- tiap bagian tubuh kepunyaan Yasinta. Setiap jengkal Pradana cium dan menyesapnya bahkan sesekali nya ia gigit karena gemasnya. Tubuh yang putih nan mulus itupun mulai banyak sekali tanda dari hasil karya Pradana. Entah bagaimana awalnya mereka pada akhirnya sama- sama polos tanpa sehelai benang pun yang tersisa dan melekat dalam tubuh mereka. Keduanya bergelut ketika mentari sudah semakin panas menyengat di atas kepala. Mungkin saja mereka berada di kamar yang ber AC sehingga tidak merasakan kepanasan itu. Suhu AC yang sangat dingin menghambat keringat- keringat mereka keluar dari tubuh mereka. Padahal mereka sama- sama bekerjasama dan bekerja keras untuk mencapai pelepasannya.
Melodi yang dihasilkan dalam permainan biola itu sungguh membuat bergetar ketika didengarkan. Gerakan dan gesekan maju mundur dengan harmoni menciptakan de sa han, dan teriakan yang tertahan. Yasinta menggigit bibir bawahnya ketika Pradana mulai menerobos goa miliknya yang ba sah. Tubuhnya semakin bergetar karena Pradana menghujam nya dengan pelan lalu mulai dipercepat gerakan nya.
Sesekali Pradana menyebutkan nama Yasinta. Panggilan itu terdengar merdu dan indah apalagi dengan suara yang serak dan sungguh-sungguh seksi. Tubuh Yasinta semakin tergoncang ketika gerakan itu semakin cepat dan liar sampai akhirnya pekikan yang tertahan dan dengan mata yang terpejam Pradana mulai perlahan menyudahi kegiatan di siang hari itu. Kecupan hangat mendarat ke kening Yasinta. Ucapan terimakasih itupun akhirnya keluar juga dalam mulut Pradana. Senyuman itu kembali terlempar diantara keduanya. Pradana merengkuh tubuh Yasinta hingga terbenam dalam pelukan dada nya yang lebar.
" Bersihkan dirimu, aku akan mengajak kamu ke rumah papi mami." kata Pradana. Yasinta turun dari kasur itu menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan itu. Selang beberapa lama, Pradana pun masuk ke dalamnya ikut membersihkan badannya.
" Mas?" Yasinta terkejut. Pradana hanya melemparkan senyumnya.
" Aku akan membersihkan tubuhmu." ucap Pradana. Yasinta seperti keberatan.
" Tidak akan terjadi sesuatu. Ini benar-benar hanya akan membersihkan diri saja. Karena masih banyak waktu untuk kita melakukan nya bukan? Seperti nanti malam." bisik Pradana sambil mendekati Yasinta.
__ADS_1
Suara percikan air shower terdengar memenuhi kamar mandi itu. Mereka benar-benar membersihkan diri mereka setelah melakukannya. Keduanya semakin tidak ada sungkan lagi setelah beberapa kali melakukan nya selama duan hari ini. Penyatuan itu membuat kedua nya seperti sudah merasa lebih dekat dan merasa saling memiliki.
Keduanya keluar dari kamar mandi itu. Dan dengan lembut nya Pradana ikut membantu mengeringkan rambut milik Yasinta. Ini adalah perlakuan romantis dari Pradana untuk Yasinta.
" Apakah dulu ,ini juga kamu sering melakukannya pada Mandala?" tanya Yasinta. Pradana seketika berhenti sejenak untuk merapikan rambut milik Yasinta.
" Bahkan hal sekecil ini belum aku lakukan pada Mandala." sahut Pradana. Yasinta seperti tidak mempercayai jawaban yang keluar dari mulut Pradana
" Maaf, aku dulu dengan terang- terangan dan sengaja selalu membuat kamu cemburu dan mungkin sakit hati." kata Pradana akhirnya.
" Siapa yang cemburu? Aku tidak..." sahut Yasinta cepat. Pradana hanya tersenyum melihat Yasinta yang cemberut itu.
" Bahkan kalian melakukannya di dalam kamar kalian hingga suara merdu kalian berdua sangat terdengar jelas di telinga aku. Aku tidak cemburu." ucap Yasinta. Pradana sangat terkejut. Kini Pradana membalikkan tubuh Yasinta hingga menghadap kepadanya.
" Tapi kenapa kamu bertahan dalam posisi itu? Ketika hati kamu selalu tersakiti." ucap Pradana sambil memegang kedua pipi Yasinta.
" Karena kamu laki-laki yang dijodohkan untuk aku. Walaupun kita sama- sama tidak saling mencintai." kata Yasinta.
" Dan ketika aku hendak menyerah dan ingin pisah dengan kamu, kamu malah mengikat aku dengan semua ini." tambah Yasinta. Pradana mengernyitkan dahinya.
" Tapi sekarang aku tidak ingin kamu membahas yang lalu lagi. Aku tidak ingin kamu minta berpisah dengan aku. Karena aku sudah membutuhkan kamu." ucap Pradana.
__ADS_1
"Hah, membutuhkan? Aku menjadi wanita pengganti setelah Mandala meninggal dunia?" sahut Yasinta. Pradana jadi merasa bersalah dengan ucapannya sendiri. Seharusnya kata-kata itu tidak keluar dari bibir nya.
" Tapi aku sudah mulai terbiasa dengan kamu, sungguh!" tambah Pradana lagi, takut jika Yasinta salah paham. Yasinta diam dan berusaha memahami apa yang dirasakan Pradana. Mungkin saja apa yang dirasakan Pradana sama dengan dirinya.
Kedua nya sama- sama butuh dan memenuhi tugas hak dan kewajiban sebagai suami dan istri. Soal perasaan cinta keduanya belum bisa memahami satu dengan yang lain. Saat ini mereka hanya berusaha saling memahami dan mengerti.
" Sudah selesai! Ayo kita ke rumah papi mami." ajak Yasinta.
" Tapi Pradana! Bolehkah aku ijin untuk pergi sebentar saja.Lain kali saja kita ke rumah mama papa nya." kata Yasinta.
" Kamu ingin kemana? Biar aku yang mengantar kamu." kata Yasinta.
" Aku... aku ada sedikit urusan. Aku bisa naik taksi." sahut Yasinta.
" Kalau begitu, bawa saja mobilku." suruh Pradana.
" Tidak perlu, mas Pradana!" sahut Yasinta.
" Baiklah! Aku tidak akan memaksamu. Yang penting kamu baik- baik saja dan jangan lupa kembali pulang ke rumah." kata Pradana.
" Dan Nanti malam aku menunggu kamu menyerang aku. Oke?" bisik Pradana. Yasinta seketika merinding jika mengingat pergumulan dengan Pradana yang seolah tidak mengenal kata lelah. Laki-laki ini benar-benar membuat Yasinta kewalahan.
__ADS_1
" Aku pergi yah,mas!" pamit Yasinta. Pradana mengecup dahi dan bibir Yasinta dengan lembut.
" Setelah aku bertemu dengan Naufal, apakah aku akan terpengaruh dan berubah pendirian kembali. Merencanakan perpisahan dengan Pradana dan menikah dengan Naufal. Apakah ini solusinya? Tapi aku pun belum bisa memahami perasaan ku sendiri. Sebenarnya aku lebih nyaman dengan siapa? Sebenarnya aku menyukai siapa? Sebenarnya cinta ini untuk siapa? Apakah aku hanya mengutamakan di cintai dibandingkan mencintai? Apakah tidak ada kata saling mencintai itu? Yang ada masih saling membutuhkan. Apakah melakukannya hanya atas dasar saling membutuhkan saja dan memenuhi tugas dan kewajiban saja? Mungkin rasa cinta itu akan semakin tumbuh dengan sendirinya ketika sama- sama sudah saling terbiasa karena hati kita sudah Sama-sama terbuka." gumam Yasinta.