JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
WANITA KU YANG PENURUT


__ADS_3

Naufal menatap orang tua itu yang bertanya pada Yasinta penuh hormat dan seolah mempercayai Yasinta ikut menjaga putri nya seperti adiknya Yasinta. Ini benar-benar luar biasa untuk Yasinta. Nilai lebih bagi wanita ini.


Yasinta menatap ke arah Naufal. Yasinta seolah meminta Naufal menyampaikan semua kebenarannya. Yasinta tidak sampai hati jika harus menyampaikan hal itu pada orang tua Mandala. Akhirnya Naufal angkat bicara kepada orang tua Mandala setelah mempersilahkan kedua orang tua itu duduk tenang. Setelah nya Naufal menjelaskan semuanya.


Menangis? Terkejut? Tidak percaya? Tentu saja kedua orang tua itu belum percaya dengan semua yang didengar nya. Namun sampai akhirnya ruangan operasi itu telah terbuka pintunya membawa jenazah Mandala untuk dimandikan di ruang mayat.


Suara jeritan, tangisan teriakan memenuhi ruangan itu. Ini sudah takdir. Ini sudah kehendak Nya.


*******


Naufal menarik tangan Yasinta dari tempat duduk itu. Naufal sungguh tidak perduli beberapa padang mata melihat sikap Naufal terhadap Yasinta terutama mertua Yasinta dan juga Pradana sendiri. Naufal hanya tidak ingin melihat Yasinta di situasi yang sebenarnya tidak harus di tempat itu. Yasinta terlalu baik ada bersama mereka sedang mereka tidak memperdulikan perasaan Yasinta. Saat itu memang lagi berduka karena meninggalnya wanita yang sudah menjadi madu dari Yasinta. Jika Mandala tidak meninggal dan Yasinta benar-benar di tempat itu, apa yang dirasakan oleh Yasinta ketika melihat kebahagiaan terpampang nyata dari suami, mertuanya dan keluarga dari madunya karena kelahiran cucu dari putri dan mantunya. Sedangkan Yasinta ada di sana sebagai apa?


Naufal tidak bisa membayangkan ketika resepsi atau pas acara ijab kabul pernikahan dari suaminya dengan madunya itu. Apakah mereka tidak pernah berpikir akan perasaan Yasinta saat itu. Mereka mungkin menganggap Yasinta tidak memiliki hati dan rasa nya sehingga mereka terlihat tidak mempedulikan Yasinta. Memang benar mertuanya Yasinta sangat menyayangi Yasinta, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak karena Pradana memang sudah menghamili Mandala.


" Naufal! Ini sakit loh kamu mencengkram tanganku dengan kuat." kata Yasinta yang tidak berusaha melepas tarikan tangan Naufal terhadap tangannya.


Naufal sudah membawa Yasinta ke seberang jalan rumah sakit itu. Dan Naufal masih saja berjalan mencari tempat nongkrong yang nyaman. Tangan Yasinta masih tetap ditariknya namun tidak sekuat tadi.


" Kamu kenapa sih?" tanya Yasinta lagi.


" Rasanya aku akan menculik kamu saja, Yasinta! Dan aku akan menikahi kamu dan akan membahagiakan kamu." ucap Naufal serius.


Yasinta diam karena memang Naufal melihat mata suami Yasinta benar-benar tidak menganggap ada Yasinta.


" Kamu benar mau menikahi aku?" kata Yasinta sambil menghentikan langkah nya dan Naufal ikut berhenti dan menatap mata Yasinta.


" Iya, aku serius!" kata Naufal lalu kembali meraih pergelangan tangan Yasinta dan mengajaknya melanjutkan jalan kakinya. Sempai akhirnya Naufal mengajak Yasinta masuk ke warung makan lesehan dipinggir jalan itu.

__ADS_1


Keduanya duduk sambil bersandar di tembok itu karena Naufal memilihkan tempat di pojok itu.


Sebelum pembicaraan serius, Naufal memesan makanan dan minuman di tempat itu. Dan itu tidak lama, pesanan dan minuman itu sudah ada di atas meja mereka. Naufal mulai memakan dan menikmati hidangan yang dipesan nya. Berbeda dengan Yasinta, selera makannya hilang. Yasinta hanya menikmati minumannya.


" Kamu minta ijinlah dengan suami aku kalau kamu ingin menikahi aku." kata Yasinta yang membuat Naufal membulat matanya. Naufal mulai menghentikan makannya.


" Oke! Aku tidak akan takut! Lagi pula kelihatan sekali kalau suami kamu memang tidak menganggap kamu istrinya. Aku akan mendatangi suami kamu." kata Naufal serius.


" Atas dasar apa kamu menikahi aku kalau kamu pun tidak mencintai aku? Sama aja dengan suami aku juga nantinya." sahut Yasinta.


" Kamu tidak bisa menjawabnya bukan? Aku nanti malah cemburu dengan almarhum istri kamu. Saingan aku berat jika berhadapan dengan masa lalu kamu. Kamu nanti akan membandingkan aku dengan istri kamu. Ditambah almarhum istri kamu dimata kamu tidak ada cela." kata Yasinta lagi.


" Tetapi aku sudah menemukan dia di dalam diri kamu, Yasinta! Dan aku mulai menyukai kamu dan nyaman jika bersama kamu. Hati aku rasanya sakit ketika kamu merasa sedih, disakiti, dan menangis seperti tadi. Aku tidak bisa membayangkan jika masih bertahan dengan suami kamu itu, nanti kamu merawat bayi dari madu kamu. Lalu suami kamu masih terbayang-bayang dengan almarhum istrinya dan kamu dianggap apa olehnya?" kata Naufal.


" Apa bedanya dengan kamu, Naufal? Kamu juga masih dibayangi masa lalu bersama almarhum istri kamu." sahut Yasinta.


" Tetapi percayalah dengan aku! Aku akan memperlakukan kamu lebih baik dari suami kamu itu. Aku akan menyayangi kamu dengan tulus dan aku yakin aku bisa membuat kamu jatuh cinta dengan aku. Demikian juga dengan aku." kata Naufal serius.


" Jadi? Kamu mau kan jika menikah dengan aku dan kamu bercerai dengan suami kamu itu?" desak Naufal.


" Aku belum tahu, Naufal! Aku belum tahu perasaan aku sebenarnya terhadap kamu. Aku hanya merasa nyaman, tenang dan tidak berpikir aneh- aneh jika bersama dengan kamu. Walaupun aku tahu kamu termasuk laki-laki yang...."


" Yang normal?" sahut Naufal.


"Itu kamu sudah tahu! Kamu pikir ketika kita di dalam kamar yang sama aku tidak menahan gejolak laki-laki itu? Jiwaku memberontak, Yasinta! Aku kaki normal! Aku ingin menyentuhmu, tapi aku ingat kamu adalah istri orang dan bukanlah kekasih aku atau wanitaku." ucap Naufal sambil tersenyum malu.


" Terimakasih Naufal!" kata Yasinta.

__ADS_1


" Terimakasih untuk apa? Tanya Naufal.


" Terimakasih karena kamu menjaga aku?" jawab Yasinta.


" Padahal aku tersiksa loh, Yasinta! Ditambah sudah sekian lama aku tidak melakukan itu!" kata Naufal sambil tersenyum malu.


Yasinta mulai terkekeh-kekeh dan sejenak lupa akan kesedihan nya karena Mandala yang meninggal.


" Sebelum suami kamu merasa kesepian karena kehilangan istri yang dicintainya itu, aku harus meminta dia menceraikan kamu. Sebelum suami kamu mulai menyadari kamu wanita cantik, baik dan penurut. Aku akan melangkah lebih cepat untuk itu." kata Naufal serius.


" Kalau Mas Pradana tidak ingin menceraikan aku, bagaimana?" tanya Yasinta.


" Sekarang tinggal kamu saja! Kamu mau berpisah dengan Pradana atau tidak? Dan mau menikah dengan aku?" desak Naufal dengan mata serius.


" Kamu serius menyukai aku? Paling tidak sedikit saja!" sahut Yasinta.


" Iya Yasinta! Aku menyukai kamu! Aku memang bukan tipe laki-laki yang pandai merayu dan pandai mengungkapkan perasaan. Aku tipe laki-laki yang langsung aja kalau aku sudah merasakan cocok dan ada perasaan aneh ketika jauh dengan wanita. Aku sudah merasakan itu, dan wanita itu adalah kamu." cerita Naufal serius.


" Aku perlu pembuktian dari ucapan kamu itu, Naufal!" sahut Yasinta.


" Kamu ingin aku menyatakan cinta di tengah-tengah kerumunan orang itu. Lalu aku membawa beribu- ribu bunga? Serta membawakan cincin berlian dan mengucapkan ' Yasinta, sayang aku mencintai kamu. Menikahlah dengan aku'. Iya??" ucap Naufal sambil terkekeh. Yasinta yang mendengarnya menjadi tertawa terbahak- bahak.


" Kok aku menjadi geli yah, hanya membayangkan kamu melakukan itu saja, aku tidak akan terharu. Mungkin aku akan tertawa keras. Kamu akan terlihat lucu dan sangat bodoh sekali jika melakukan itu, Naufal." kata Yasinta sambil tertawa keras.


" Tapi cinta memang konyol, Yasinta! Mungkin suatu hari aku bisa nekat melakukan itu untuk kamu, Yasinta!" sahut Naufal dengan mata yang tajam menatap Yasinta.


" Jangan melakukan hal konyol seperti itu, Naufal!" ucap Yasinta sambil melihat manik mata Naufal.

__ADS_1


" Hahaha. Sudahlah kamu harus makan, Yasinta! Lihat makanan kamu sudah dingin!" kata Naufal sambil menyuapi makanan ke mulut Yasinta. Yasinta membuka mulutnya menurut perintah Naufal.


" Jadi wanita ku yang penurut, yah sayang!" kata Naufal sambil tersenyum.


__ADS_2