JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
PINDAH KAMAR


__ADS_3

Masih di rumah Pradana.


Bayi mungil itu sekarang ada di kamar Yasinta. Yasinta lah yang saat ini merawat bayi itu. Pengasuh bayi anak itu masih belum datang ke rumah itu. Mama Pradana sudah mencari pengasuh anak Mandala itu. Pradana sangat keberatan jika bayi Mandala hendak diambil oleh ibu Mandala alias nenek si bayi tersebut. Pradana masih merasa mampu membiayai dan membesarkan bayi atau anaknya.


Pradana terkadang memang sangat aneh. Aneh, terkadang dirinya berpikiran kalau penyebab kematian istri kesayangannya itu akibat bayi mungil itu. Meninggalnya Mandala karena berjuang melahirkan bayi itu. Namun Pradana kenapa ingin merawat dan membesarkan bayi itu jika dalam pikirannya ada kebencian untuk putri nya yang masih bayi itu.


Siang itu, pengasuh bayi mungil itu akhirnya datang juga ke rumah itu. Yasinta menyerahkan semua tugas itu pada pengasuh bayi atau anak dari Mandala dan Pradana. Yasinta bergegas keluar rumah. Dia ingin keluar menghilangkan penat nya karena sudah beberapa hari ini mengurus anak dari Mandala itu.


" Kamu mau kemana?" Tiba-tiba suara laki-laki itu menghentikan langkah Yasinta sebelum keluar pintu utama. Yasinta menengok arah suara laki-laki itu yang tidak lain adalah suaminya yaitu Pradana.


" Mas! Aku mau keluar sebentar!" sahut Yasinta.


" Pergi ke tempat laki-laki itu? Laki-laki yang datang bersama kamu ketika di rumah sakit waktu itu? Aku masih belum bertanya dan mempermasalahkan soal itu. Karena saat itu aku lagi fokus dan memikirkan keselamatan Mandala." jelas Pradana sambil mendekati Yasinta.


" Siapa laki-laki itu?" tanya Pradana sambil berbisik.


Yasinta sangat terkejut, dan bingung untuk menjawab nya.


" Apakah dia kekasihmu?" tuduh Pradana.

__ADS_1


" Apakah dia selingkuhan kamu?" tuduh lagi Pradana kepada Yasinta.


Yasinta diam dan masih mematung. Terkejut, karena baru kali ini Pradana menjadi ingin tahu urusan nya. Biasanya Pradana tidak mau tahu dan tidak peduli akan dirinya.


" Asal kamu tahu yah, Yasinta! Kamu masih istri aku. Status kamu adalah istri aku. Kamu tidak berhak menjalin hubungan dengan pria manapun apalagi mencari kekasih atau pacar baru. Walaupun selama ini aku belum menganggap kamu. Tapi mulai sekarang aku akan mempedulikan kamu." kata Pradana.


" Tapi.. tapi... laki-laki itu bukan pacar atau kekasih aku. Dia adalah sahabat aku. Dia teman aku berbincang-bincang dan berkeluh kesah. Dan sebaliknya dengan dia juga demikian." terang Yasinta.


" Itu bohong! Mana ada persahabatan antara seorang lawan jenis. Itu adalah bohong! Kalau tidak laki-laki itu menyukaimu atau kamu yang mengharapkan dia menyukaimu. Benar kan ucapan aku? Tidak ada bentuk persahabatan yang murni. Pada akhirnya ada rencana dan menuntut lebih dari sekedar sahabat saja." kata Pradana.


" Jadi sekarang kamu ingat posisi itu! Kamu masih istri syah aku. Jadi jangan coba- coba dan berpikir kalau aku akan menceraikan kamu. Sekarang aku akan menegaskan kalau kamu adalah istri aku." kata Pradana lagi


" Aku tidak mengijinkan kamu pergi! Kembalilah ke kamar kamu!" kata Pradana.


" Tapi??" Protes Mandala.


" Apakah kamu hendak menjadi istri yang pembangkang? Apa kamu ingin menjadi istri yang tidak menuruti akan perintah dan larangan dari suami?" tanya Pradana.


" Tidak! Aku ingin menjadi istri yang baik itu. Namun sejak kapan kamu menganggap aku istri kamu? Apakah kamu tadi habis ke bentur tembok? Hingga akhirnya kamu menyadari kalau aku ini istri kamu?" kata Yasinta.

__ADS_1


Pradana membulat matanya! Dia tidak mengira Yasinta bisa berkata seperti itu.


" Mulai sekarang, kamu tidur di kamarku. Mulailah kamu pindahkan barang- barang kamu ke kamar itu." Perintah Pradana sambil menunjukkan letak kamarnya yang sering ia tiduri bersama Mandala selama ini.


" Mulai nanti malam kita akan tidur bersama." tambah Pradana.


" Hah?? Tapi aku akan menemani putri kecil aku." protes Yasinta.


" Tidak perlu! Ada pengasuh bayi untuk anakku. Kamu tidak perlu repot dan capek mengurusnya." sahut Pradana akhirnya.


" Tapi??" sahut Yasinta.


" Tidak ada tapi- tapian! Baiklah! Aku mau pergi sebentar melihat kondisi kantor. Sudah beberapa hari aku menyerahkan semua tugas kepada asisten pribadi aku." kata Pradana.


Yasinta masih mematung akan sikap Pradana terhadap dirinya. Pradana pergi setelah memberikan tangannya kepada Yasinta dan memberikan kecupan di kening Yasinta.


" Apakah ada roh lain yang memasuki tubuh Pradana? Dia begitu aneh. Apakah tidak apa- apa jika aku nekat keluar sebentar saja. Aku ingin menjumpai Naufal dan juga Yuliana, sahabat nya.


" Tapi,... baiklah besok saja. Hari ini aku memindahkan barang- barang milikku ke kamar itu." pikir Yasinta.

__ADS_1


__ADS_2