JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
TERBAWA SUASANA


__ADS_3

" Hahaha. Ya sudahlah! Kita nikmati dulu malam ini bersama." ajak Naufal sambil memberikan gelas kecil yang baru saja ia tuang dengan botol wine yang ia pesan tadi kepada Yasinta.


" Ini minuman apa?" tanya Yasinta.


" Wine! Coba aja!" jawab Naufal sambil tersenyum.


" Apakah suami kamu sudah bertanya kepada kamu, kapan kamu pulang atau menanyakan keberadaan kamu sekarang?" tanya Naufal penuh selidik.


" Tidak ada sama sekali." jawab Yasinta sambil meminum gelas kecil pemberian Naufal.


" Astaga! Ini sungguh keterlaluan!" sahut Naufal akhirnya.


******


Yasinta sesaat menikmati malam di kafe itu. Dirinya sebisa mungkin melupakan rasa sakit ketika harus mengingat bahwa suaminya saat ini benar-benar tidak memperdulikan dirinya. Mungkin bagi suaminya dirinya belumlah berharga dan masih belum dianggap sebagai istrinya. Keberadaan nya di rumah itu hanya sekedar kasihan karena dirinya sudah dinikahi nya. Namun masih saja belum dianggap dirinya adalah istrinya. Ini sungguh menyedihkan.


" Kamu menangis?" tanya Naufal kepada Yasinta sambil berpindah tempat duduknya dekat ke sisi Yasinta.


Yasinta terisak namun sebisa mungkin dia tidak akan cerita permasalahan nya kepada Naufal. Memang Yasinta dari tadi sudah banyak bercerita akan kesedihan nya pada Naufal. Namun itu belum semuanya. Suaminya, Pradana telah membawa wanita lain ke dalam rumah mereka dan wanita itu telah dinikahi oleh suaminya dengan ijinnya. Walaupun sebenarnya hati kecilnya tidak terima, tetapi Yasinta sangat sadar bahwa suaminya itu dengan tenang terangan menyukai wanita itu. Dan kenyataan nya wanita itu pun sudah hamil sebelum mereka melangsungkan pernikahan itu.


Naufal memberanikan dirinya memeluk Yasinta. Yasinta terisak didalam dada bidang milik Naufal. Naufal mengusap dengan lembut pundak Yasinta yang bergetar.


" Sakit hati kah yang kamu rasakan?" kata Naufal pelan. Yasinta makin nangis tersedu-sedu.


" Aduh! Gimana ini? Kita ke mobil aja yah! Sebentar, aku akan membayar tagihan nya dulu ke kasir." kata Naufal sambil menyenderkan Yasinta ke kursinya.


Setelah membayar semua makanan dan minuman yang telah dipesan nya tadi, Naufal menggandeng Yasinta ke luar kafe itu setelah sebelumnya mengusap lembut air mata Yasinta dengan tisu yang sudah tersedia di atas meja.


" Masuklah!" suruh Naufal setelah membukakan mobilnya. Yasinta masih terbawa oleh kesedihan nya. Hatinya sangat rapuh dan rasanya semangat nya untuk berdiri tegar dihadapan suami dan madunya tidak akan mampu lagi. Yasinta tidak ingin kembali pulang malam ini.


" Jadi, ini gimana? Aku harus mengantar kamu pulang ke rumah atau gimana? Apakah kamu bisa pulang sendiri dan nyetir mobil sendiri?" tanya Naufal juga bingung.


"Aku masih belum mau pulang! Antar aku ke tempat parkiran dimana mobil aku diparkir tadi di sana." kata Yasinta.


" Oke! Kita ke hotel aku itu dulu yah. Mobil kamu di sana kok." sahut Naufal sambil menjalankan mobilnya.

__ADS_1


Sesekali Naufal melirik ke arah Yasinta yang bersandar di kursi mobilnya. Matanya terpejam. Tampak sekali Yasinta lelah. Lelahnya tidak hanya raganya namun psikologis nya. Yasinta terlihat sangat rapuh.


Sekitar setengah jam akhirnya Naufal memasuki halaman luas di hotel tersebut. Naufal memarkirkan mobilnya dekat mobil Yasinta.


" Yasinta!" panggil Naufal sambil menepuk-nepuk pundak Yasinta. Namun Yasinta tertidur di sana.


Naufal masih di dalam mobilnya menanti Yasinta sampai terbangun.


" Yasinta! Apakah sungguh-sungguh berat masalah kamu? Hingga kamu terlihat begitu rapuh sekali." kata Naufal sambil menatap wajah polos Yasinta yang tertidur.


" Hadeuh! Untung saja aku tadi belum minum banyak." ucap Naufal sambil ikut memejamkan matanya.


Cukup lama mereka di dalam mobil itu. Hingga suara azan subuh mulai terdengar nyaring di tempat itu.


" Eh?? Aku tidur di dalam mobil?" gumam Yasinta pelan sambil melihat di sampingnya ada Naufal ikut tidur juga di kursinya.


" Naufal!" panggil Yasinta sambil menepuk lengan milik Naufal.


Naufal membuka matanya dan menatap ke arah Yasinta.


" Tidak apa!" kata Yasinta.


" Maaf, Naufal! Aku merepotkan kamu!" ucap Yasinta lagi.


"Tidak masalah!" sahut Naufal.


" Naufal! Terima kasih sudah menemani aku sepanjang hari ini." kata Yasinta.


" Aku yang harusnya berterimakasih. Kamu mau kemana?" tanya Naufal ketika melihat Yasinta sudah mulai bersiap keluar dari mobilnya.


" Aku mau ke mobilku aja." jawab Yasinta.


" Ngapain?" tanya Naufal.


" Aku mau bobok lagi." jawab Yasinta polos.

__ADS_1


Naufal malah terkekeh dibuatnya.


" Kalau kamu mau. Aku punya kamar khusus di hotel itu. Kita bisa istirahat di sana." kata Naufal menawarkan kepada Yasinta hati- hati. Naufal takut jika Yasinta salah paham akan ajakannya.


Namun di luar dugaan Yasinta menerima tawaran dari Naufal.


"Apakah hotel ini milik kamu sepenuhnya?" tanya Yasinta.


" Sebenarnya ini dulunya milik papa aku. Namun akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada aku. Semua kepemilikan atas nama aku." kata Naufal.


" Oh iya! Kita lewat jalan belakang dan pintu khusus aja. Tidak perlu lewat resepsionis." kata Naufal akhirnya.


Yasinta mengikuti langkah Naufal dengan sedikit oyong. Matanya masih lengket dan mengantuk.


" Satpam disini sudah mengenali kamu semua yah? Mereka hanya tersenyum hormat saja kepadamu." kata Yasinta merasa tidak enak ketika Naufal membawa dirinya sebagai wanita yang belum dikenali oleh mereka. Apa yang dipikirkan satpam itu ketika pimpinannya membawakan seorang wanita ke hotel ini untuk menginap.


" Apakah kamu tidak akan takut? Jika harga diri dan kehormatan kamu jatuh karena membawa seorang wanita ke hotel milik kamu?" tanya Yasinta takut- takut.


" Biarkan saja mereka dengan pikiran nya. Yang terpenting aku dan kamu tidak melakukan apa yang mereka pikirkan bukan?" ucap Naufal akhirnya.


" Naufal!" panggil Yasinta pelan.


" Hem, ada apa?" sahut Naufal.


" Terimakasih yah!" kata Yasinta lagi.


" Kamu ini, sudah berapa kali bilang terimakasih terus." ucap Naufal sambil tersenyum.


Yasinta tersenyum sambil mengikuti langkah Naufal yang mulai berhenti di sebuah kamar dengan tertera angka 777. Naufal membuka pintunya dengan card nya yang diambilnya di dompetnya. Naufal masuk ke kamar itu diikuti Yasinta dibelakangnya.


" Kamu jangan bilang, kalau kamu pun tidak pernah diajak suami kamu menginap dan berada dalam ruangan hotel yang luas dan megah." sindir Naufal. Yasinta yang mendengar nya jadi sedih.


" Memang kenyataan nya aku tidak pernah diajak liburan sekali pun bulan madu indah bersama suami aku di hotel berbintang." sahut Yasinta sambil duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


" Maaf! Aku tadi hanya bercanda loh!" kata Naufal sambil membuka kemejanya hingga mengenakan kaos oblong abu- abu di dalamnya.

__ADS_1


"


__ADS_2