
"Maaf, bro! Aku juga ingin membahagiakan wanita yang aku cintai. Apalagi kamu pernah menorehkan luka di hati wanita itu. Walaupun kamu bilang, sebelum kecelakaan itu kalian sudah saling mencintai. Tapi bagaimana dengan diriku? Aku juga mencintai Yasinta. Saat terakhir juga, Yasinta pada akhirnya memilih dirimu daripada aku."kata Naufal.
" Bukankah itu sudah jelas! Jika Yasinta sadar! Dia akan lebih memilih aku daripada kamu!" sahut Pradana lagi- lagi masih ngotot ingin memperjuangkan Yasinta.
" Baiklah! Semua keputusan ada ditangan Yasinta! Kita harus berlapang dada dengan keputusan Yasinta, oke?" ujar Naufal kembali tersenyum. Senyuman nya seperti sudah yakin kalau kali ini dia akan menemukan kebahagiaan nya bersama Yasinta.
*******
Yasinta pulang ke rumahnya. Yasinta mulai mencari berkas- berkas dan juga buku nikahnya yang di simpan di rumah itu. Yasinta kali ini benar-benar bertekad untuk menggugat perceraian dengan suaminya, Pradana.
Namun di rumah itu, Yasinta mencari- cari keberadaan Mandala di sana. Namun belum juga Yasinta bertemu dengan orang yang dia carinya. Sampai akhirnya muncullah mbak Nana sebagai baby sitter nya Primata sedang menggendong anak bayi yang belum ada satu tahun itu, bahkan mungkin saja sekitar tiga bulanan tepat meninggal nya Mandala. Yasinta melongo dan mengusap kepala anak bayi itu yang saat ini sedang tertidur pulas. Mbak Nana menatap Yasinta penuh kekhawatiran.
" Ini anak siapa sih, mbak? Dan sejak kapan kamu tinggal di sini, mbak?" tanya Yasinta yang benar-benar tidak tahu. Mbak Nana melongo.
" Ini anaknya mbak Mandala, mbak!" sahut mbak Nana. Yasinta mengerutkan dahinya.
__ADS_1
" Mandala sudah melahirkan? Sekarang Mandala dimana?" Yasinta mulai bertanya.
" Eh?? Bukannya Mbak Mandala sudah meninggal setelah operasi kelahiran anaknya ini, mbak." sahut mbak Nana. Yasinta seketika memegangi kepalanya. Yasinta merasakan pusing tiba-tiba di kepalanya. Karena rasa sakit yang hebat itu, Yasinta akhirnya tidak sadarkan dirinya. Mbak Nana menjadi panik dan kebingungan.
" Ya Tuhan! Kenapa Mbak Yasinta malah pingsan?. Aduh! Bagaimana ini? Aku lupa kalau mbak Yasinta setelah kecelakaan itu, mengalami gegar otak dan ada ingatan nya yang hilang. Bagaimana ini? Pak Pradana pasti akan marah dengan aku." gumam mbak Nana panik.
Mbak Nana memanggil penjaga rumah itu untuk membantu dirinya mengangkat tubuh Yasinta ke dalam kamar. Setelah itu, mbak Nana mencoba menghubungi Pradana dan memberitahu kejadian sebenarnya.
Pradana yang mendapatkan kabar dari pengasuh anaknya itu bergegas untuk kembali ke rumahnya. Dalam keadaan panik, Pradana melajukan mobilnya ke rumah kediaman nya sendiri.
" Apa yang kamu rasakan, sayang? Apakah kepala kamu sakit?" ucap Pradana sambil mengusap lembut kepala Yasinta. Yasinta meringis menahan sakit ketika kepalanya terasa berdenyut menyerangnya secara tiba-tiba.
Mbak Nana yang masih di kamar itu, akhirnya mulai melipir meninggalkan mereka berdua. Namun sebelum mbak Nana melangkah keluar dari pintu kamar itu, Pradana memanggilnya.
" Mbak, tolong buatkan teh hangat yah!" suruh Pradana. Mbak Nana mengangguk pelan lalu pergi meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Yasinta menatap Pradana penuh tanda tanya. Bila mata mereka saling bertemu.
" Mandala di mana? Bayi itu anak siapa, mas?" tanya Yasinta. Pradana kembali terdiam dan mulai bingung apakah dirinya harus menjelaskan semua kebenarannya.
" Lebih baik kamu minum obat dulu yah, sayang! Aku sudah membawakan obat untuk kamu, supaya kamu tidak merasakan sakit kepala lagi. Oke?" kata Pradana lalu mendudukkan Yasinta dan memberikan obat itu setelah Mbak Nana datang kembali membawa teh hangat nya.
" Setelah ini, kamu bisa menjelaskan semuanya kan, mas?" ucap Yasinta.
" Tapi kamu janji, tidak akan sakit kepala lagi?" sahut Pradana. Yasinta menganggukkan kepalanya. Pradana tersenyum senang.
" Aku pasti tidak akan sakit kepala lagi." ujar Yasinta.
Pradana tiba-tiba melihat map di atas meja kamarnya. Pradana mulai Tergelitik untuk bertanya kepada Yasinta.
" Map itu? Apa isinya?" tanya Pradana.
__ADS_1
" Itu? Itu berkas- berkas untuk pengajuan gugatan perceraian kita." sahut Yasinta cepat. Pradana seketika lemas mendengarkan nya.