
Pradana datang menghampiri papa nya yang sedang duduk di ruang makan. Langkahnya tergesa-gesa mendatangi papa nya yang duduk berdampingan dengan mama nya itu, menikmati camilan dan kopinya. Pak Brata dan Bu Brata melihat wajah gelisah, muram, sedih, panik dan juga ada kemarahan.
" Papa, pinjam mobil papa sebentar!" ucap Pradana lalu menyalami kedua orang tuanya itu lalu kembali melangkah ke luar hendak ke garasi mobil rumah besar itu.
" Kamu mau kemana, Pradana" tanya Pak Brata sedikit berteriak namun akhirnya menyusul langkah Pradana yang mengambil kunci mobil yang digantung berderet dengan kunci- kunci mobil yang lainnya.
" Mau menyusul Yasinta!" jawab Pradana. Pak Brata terdiam dan sedikit menyunggingkan senyuman nya.
" Akhirnya kamu yang mengejarnya bukan? Setelah dulu kamu menyakitinya." sindir Pak Brata. Pradana menarik nafasnya dengan kasar.
" Mungkin ini yang harus aku alami dahulu, sebelum mendapatkan berlian itu." kata Pradana sambil masuk ke dalam mobil yang hendak dipakai nya. Mobil yang sering dibawa keluar kemana-mana oleh papa, mama nya walaupun sekedar keliling kota maupun berbelanja kebutuhan rumah.
" Tentu saja! Berlian itu mahal harganya. Untuk mendapatkan nya tidak semudah kamu membeli kacang." sahut Pak Brata. Pradana melemparkan senyuman nya kepada laki-laki yang sudah berumur berkepala lima itu.
" Aku pergi, pa!" kata Pradana. Pak Brata kembali mengukir senyuman di atas kegelisahan putranya itu.
" Hai, apakah kamu tahu kemana Yasinta pergi?" tanya Pak Brata. Pradana tersenyum.
" Pak Maman mengabari kalau Yasinta berada di restoran X." jawab Pradana kini terkekeh sendiri.
" Gerak cepat rupanya kamu!" sahut Pak Brata sambil menghela nafasnya lega.
*******
Setelah mengantar Yasinta ke tempat restoran ternama di pusat kota itu, Pak Maman, sopir keluarga Pak Brata itu kembali pulang ke kediaman Pak Brata. Yasinta tidak ingin kalau ditunggu oleh sopir keluarga nya itu. Di restoran itu, Yasinta sudah memesan minuman buah yang segar sendiri sambil menunggu seseorang. Namun karena dirasa sudah terlalu lama akhirnya Yasinta memesankan makanan dan minuman lebih dulu. Yasinta pikir jika nanti seseorang yang ditunggu nya datang, bisa langsung makan dan tidak lagi menunggu pesanan datang.
Yasinta memainkan ponselnya supaya tidak merasa jenuh dan bosan untuk menunggu. Namun tiba-tiba saja kedua matanya ditutup dengan kedua telapak tangan yang lebar dan kokoh. Bau badan dan parfum nya sudah Yasinta hafal sebelumnya. Seseorang itu menahan suara dan tawanya dengan menutup mata Yasinta dengan telapak tangannya itu.
" Naufal! Lepaskan, jangan bercanda dong!" ucap Yasinta sambil meraih kedua telapak tangan yang menutupi kedua matanya. Naufal akhirnya terkekeh.
" Sudah lama yah?" tanya Naufal merasa bersalah.
__ADS_1
" Sudah! Hampir satu jam loh aku duduk disini. Kamu kemana dulu sih?" tanya Yasinta kini mulutnya mengerucut.
" Maaf! Tadi aku mampir dulu membelikan sesuatu buat kamu." sahut Naufal kini duduk di dekat Yasinta lebih dekat dan dekat. Sudah sangat lama Naufal tidak berjumpa dengan Yasinta setelah Yasinta dan mereka akhirnya memutuskan menyudahi hubungan yang manis itu.
" Kangen banget aku sama kamu." ucap Naufal mengatakan nya di dekat wajah Yasinta.
" Heleh! Baru juga beberapa hari kan?" sahut Yasinta. Naufal mengerutkan dahinya. Naufal bingung, namun hanya senyuman saja yang terukir di sudut bibirnya. Naufal belum tahu yang sebenarnya kalau ada sedikit ingatan Yasinta yang hilang.
" Kamu membelikan sesuatu untuk aku? Apa itu?" tanya Yasinta mulai kepo. Naufal terkekeh saja.
" Tidak sabaran sekali loh! Baru juga aku datang." kata Naufal.
" Oh, ya sudah kalau begitu kamu minum ini dulu. Atau kita langsung makan saja yuk!" ucap Yasinta sambil menyodorkan juz stroberi untuk Naufal. Naufal mulai menyeruput nya. Naufal mulai mengeluarkan kotak kecil berwarna merah dan mengeluarkan benda kecil itu lalu memasangnya ke jari tangan milik Yasinta. Yasinta diam menurut saja.
" Bagus gak? Ini tanda kalau aku tidak bisa melupakan kamu. Aku masih ngarep kamu datang kembali kepada ku." kata Naufal kini menatap bola mata Yasinta. Yasinta malah mengamati cincin yang diberikan dan dipasang kan oleh Naufal.
" Ini bagus sekali! Pasti mahal yah, Naufal? Yang kemarin aja hanya aku simpan saja. Ini dikasih lagi yang baru." ucap Yasinta polos.
" Kamu selalu begitu! Kenapa tidak kamu pakai barang pemberian aku? Kamu takut jika suami kamu marah?" ucap Naufal sambil cemberut. Yasinta tersenyum melihat reaksi Naufal.
" Kamu masih menunggu aku bukan? Kamu masih ingin menikahi aku kan, Naufal? Jika aku sudah lepas dari Pradana?" kata Yasinta. Naufal melongo namun terukir kebahagiaan di sana.
" Tentu! Tentu saja, Yasinta! Sayang! Apakah kamu serius? Kamu tidak sedang bercanda kan? Kamu mau menggugat cerai dengan Pradana lalu menikah dengan aku?" tanya Naufal lagi. Yasinta mengangguk pelan. Naufal kini meraih pergelangan tangan Yasinta.
" Aku akan membantu mengurus perceraian kamu dengan Pradana. Aku nanti yang mencarikan pengacaranya. Oke." kata Naufal penuh semangat.
" Baiklah! Kita lebih baik makan dulu. Oke! Jangan serius begini dong! Kamu gak lapar?" ucap Yasinta. Naufal terkekeh. Betapa Naufal merasakan kehilangan yang tiba-tiba itu.
Naufal mengambilkan makanan untuk Yasinta. Disini Yasinta seperti tuan putri yang selalu dilayani oleh Pangeran nya. Sesekali mereka saling suap menyuapi. Keduanya terlihat sangat romantis dan begitu dekat serta akrab. Mereka tidak menyadari kalau ada sepasang mata yang selalu memperhatikan gerak- gerik mereka. Yah, siapa lagi kalau bukan Pradana. Pradana kembali mengepalkan tangan nya. Kini dadanya begitu sesak. Api kecemburuan menguasai dirinya. Dirinya ingin marah dan membawa wanita nya menjauh dari laki-laki itu. Namun, kembali Pradana mengurungkan niatnya karena takut jika Yasinta semakin membenci dirinya.
" Kamu terlihat bahagia sekali dengan pria itu! Sangat jelas sekali kalian saling peduli. Tapi sungguh aku tidak bisa ikhlas melihat semua ini, Yasinta! Aku akan memperjuangkan kamu! Aku akan kembali merebut hati kamu. Bukankah, kamu sudah menyukai aku sebelum kecelakaan itu?" kata Pradana lirih. Hatinya pedih, dia terluka namun tidak terlihat dan berdarah.
__ADS_1
Yasinta dan Naufal menikmati makan dan minuman di restoran itu. Menikmati kebersamaan itu. Apalagi Naufal, dia sangat merindukan pertemuan itu setelah terakhir kalinya bertemu dengan Yasinta dengan keputusan itu. Keputusan untuk saling menjauh dan membantu melupakan. Tapi ketika Yasinta menghubungi dirinya melalui chat dan akhirnya Naufal menelpon nya, kencan ini terjadi. Naufal merasakan kebahagiaan itu. Apalagi Yasinta berniat hendak lepas dari Pradana dan akan menikah dengan nya.
" Ayo aku antar kamu pulang!" kata Naufal. Yasinta malah cemberut.
" Kenapa?" tanya Naufal yang melihat wajah Yasinta seolah enggan untuk kembali ke rumah.
" Aku harus antar kamu pulang dulu. Oke? Setelah ini, besok akan kita urus perceraian kalian. Nanti kalau kamu sudah benar-benar lepas dari suami kamu, kita akan lebih enak dan bebas merencanakan hubungan kita selanjutnya." ucap Naufal.
" Kamu yakin, kalau mas Pradana tidak akan mempersulit urusan perceraian ini?" tanya Yasinta.
" Jangan khawatir! Aku akan membantu kamu. Aku akan mencarikan pengacara yang handal untuk kamu. Oke?" ucap Naufal. Yasinta tersenyum lega.
" Baiklah! Aku saat ini tinggal di rumah mertua aku." kata Yasinta. Naufal mengerutkan dahinya lalu ada senyuman disudut bibirnya.
" Bagus itu! Itu artinya kamu selangkah untuk menjauh dari suami kamu itu." sahut Naufal.
" Tidak juga! Mas Pradana masih membuntuti aku di rumah mama papa." ucap Yasinta sambil manyun bibirnya.
" Tadi sudah aku suruh kembali pulang, menjumpai istrinya, Mandala. Tetapi tidak bergeming juga dan diam membisu." kata Yasinta. Naufal kali ini benar-benar terkejut dan kembali mengerutkan dahinya. Naufal bingung.
" Bukannya istrinya Pradana, Mandala sudah meninggal setelah proses melahirkan anaknya itu? Kenapa Yasinta masih berfikir kalau Mandala masih hidup? Ah ada apa dengan Yasinta?" pikir Naufal.
" Naufal!" panggil Yasinta.
" Eh? Iya?" sahut Naufal.
" Kamu melamun?" tanya Yasinta.
" Tidak!" sahut Naufal. Kini Naufal merengkuh tubuh Yasinta dan memeluknya.
" Ada apa dengan kamu, Yasinta? Aku menjadi mengkhawatirkan kamu." pikir Naufal lagi.
__ADS_1
Di tempat yang tidak jauh itu, ada sepasang mata yang benar-benar terlihat api kecemburuan di sana. Ketika Naufal memeluk Yasinta.
" Dada ini sesak dan sakit." batin Pradana.