JADIKAN AKU YANG KEDUA

JADIKAN AKU YANG KEDUA
PELAN- PELAN JELAS


__ADS_3

Apakah aku bisa menjalani hidup sendiri tanpa kamu Yasinta jika aku sudah benar-benar mencintaimu dan takut kalau kamu bersama Naufal. Rasanya aku tidak ikhlas jika melihat kamu bersamanya." gumam Pradana. Pradana kini duduk di ruang tengah. Pradana enggan untuk kembali bekerja. Rasanya semangat nya tidak ada untuk bekerja. Pradana hanya ingin dekat dan memastikan kalau Yasinta selalu baik- baik saja.


*******


" Kita mau kemana?" tanya Yasinta. Pradana masih cuek menjalankan mobilnya.


Setelah bangun dari tidurnya tadi siang dan hari masih cerah, Pradana mengajak Yasinta keluar dari rumahnya. Pradana ingin menunjukkan kepada Yasinta kebenarannya. Yasinta setelah bangun tidur siangnya, hanya membasuh wajahnya dan mengganti pakaian nya. Lalu Yasinta menurut saja ajakan dari Pradana untuk diajaknya pergi ke suatu tempat.


Hampir setengah jam mereka menempuh perjalanan itu dan Yasinta kini hanya diam dan tidak banyak bertanya. Yasinta hanya menunggu hendak dibawa kemana oleh Pradana. Hingga Pradana pun melainkan memelankan laju mobilnya dan mulai menepikan mobil itu. Di depan gerbang yang bertuliskan Tempat Pemakaman Umum, akhirnya Pradana menghentikan mobilnya. Sesaat Yasinta menatap wajah muram Pradana.


Pradana turun dari mobilnya lalu memutar dan dengan cepat membukakan pintu samping mobilnya. Yasinta turun dari sana dan mengikuti uluran tangan Pradana yang mengajaknya masuk ke gerbang Tempat Pemakamannya Umum itu. Yasinta diam dan tidak banyak bertanya berjalan dengan pelan. Yasinta yang mengenakan sepatu wanita santai kini mulai dilepas nya dan masuk ke pemakaian itu tanpa alas kaki. Pradana memperhitungkan gerak- gerik Yasinta. Pradana hanya melihat tindakan Yasinta melepas alas kakinya itu menjadi merasa aneh. Namun Pradana masih berusaha mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Yasinta, apa maksudnya Yasinta harus melepas alas kakinya. Pradana mendekati ibu- ibu setengah baya yang menjual bunga dan air dalam botol. Pradana membelinya.


Di depan salah satu kuburan, Pradana menghentikan langkah nya dan menarik lengan Yasinta supaya mengikuti dirinya. Yasinta membaca batu nisan yang bertuliskan nama seseorang yang sudah Yasinta kenal sangat dekat. Pradana menaburkan bunga di atas pusara itu lalu menyiramkan air yang diletakkan dalam botol. Pradana sudah membelinya di depan gerbang tempat pemakaman itu.


Yasinta mengikuti Pradana yang saat ini sedang berdoa. Tidak ada suara dan kata- kata. Pertanyaan dan tanda tanya diantara Yasinta dan Pradana masih ditangguhkan. Setelah Pradana berdoa, Pradana mulai berkata. Yasinta memperhatikan gerak- gerik laki-laki di samping nya itu.


" Mandala! Aku datang bersama Yasinta. Semoga kamu tenang di sana. Aku yakin, surga adalah tempat yang terbaik untuk kamu karena kamu sudah berjuang ketika melahirkan putri kita. Kamu tahu, Mandala. Putri kita tumbuh cantik seperti kamu. Primata, aku memanggilnya. Bukannya itu nama yang kamu buat kan untuk anak kita kalau berjenis kelamin perempuan." ucap Pradana pelan. Yasinta masih tidak lepas memperhatikan Pradana.

__ADS_1


" Kamu begitu mencintai Mandala, mas. Jika benar-benar Mandala sudah meninggal, kamu pasti sangat kehilangan nya bukan?" batin Yasinta.


Pradana menggandeng tangan Yasinta untuk pergi meninggalkan pemakaman itu. Pradana menggiring Yasinta ke kran untuk mencuci tangan, kaki dan juga membasuh wajahnya sebelum kembali masuk ke dalam mobilnya.


" Kenapa kamu harus melepaskan sepatu kamu dan masuk ke pemakaman itu dengan bertelanjang kaki, Yasinta?" tanya Pradana. Yasinta mengerutkan dahinya.


" Aku belum pandai menjelaskan kenapa aku harus melepaskan alas kaki ketika masuk ke tempat pemakaman dan hendak berziarah. Namun ini aku lakukan ketika ayah aku meninggal dunia dan ibu memberitahu bahwa aku harus melepaskan alas kaki aku ketika aku hendak masuk dan mengirim doa untuk ayah." kata Yasinta.


" Tidak lama setelah ayah meninggal dunia, ibu pun menyusul juga karena penyakit yang di deritanya lama. Saat itulah aku selalu ingat kata ibu, jika memasuki pemakaman aku harus melepaskan sandal maupun sepatu aku." terang Yasinta.


" Mungkin saja, ini adalah suatu penghormatan kepada semua ahli kubur di dalam tempat pemakaman. Dan juga menghargai bahwa di tempat itu ada malaikat yang sedang melakukan tugasnya." tambah Yasinta. Pradana hanya manggut-manggut tanda memahami apa yang di katakan oleh Yasinta. Kini giliran Yasinta mulai bertanya.


" Mandala meninggal setelah beberapa menit melahirkan Primata. Dan anak bayi yang di gendong oleh Mbak Nana adalah anak Mandala dengan aku." terang Pradana.


" Kenapa ingatan akan kejadian itu sudah tidak ada dalam otak aku, mas?" tanya Yasinta.


" Setelah kamu mengalami kecelakaan itu kamu gegar otak, Yasinta. Ada sedikit ingatan terbaru hilang di otak kamu. Namun menurut analisa dokter spesialis syaraf hal itu bersifat sementara. Asal kamu rajin minum obatnya." terang Pradana pelan- pelan.

__ADS_1


" Aku tidak menyangka kalau Mandala akan cepat pergi meninggalkan kita. Kamu pasti sedih sekali saat kejadian itu yah, mas?" tanya Yasinta. Pradana hanya menghela nafasnya.


" Namun kesedihan itu tidak sesedih yang aku rasakan saat ini." ucap Pradana. Yasinta mengerutkan dahinya.


" Kamu bersedih, mas?" sahut Yasinta.


" Benar! Aku sangat bersedih sekali karena kamu hendak menggugat cerai dengan aku. Ini sangat menyakiti aku." jelas Pradana.


" Ketika sebelum kamu mencoba mobil baru pemberian dari aku, kita baru saja pulang dan kembali dari puncak dan menikmati liburan di sana. Kita seperti pengantin baru yang habis berbulan madu. Setelah kembali pulang ke rumah aku memberikan mobil sport itu ke kamu. Dan saking senang nya kamu langsung mencoba mobilnya dan akhirnya kecelakaan itu terjadi."


" Boleh aku melihat mobil sport baru itu, mas?" sahut Yasinta. Pradana langsung menatap wajah Yasinta yang masih penasaran.


" Mobil sport itu masih di bengkel. Tapi kita akan melihat nya besok saja yah, sayang!" ucap Pradana. Yasinta menurut apa kata Pradana.


" Aku harap, kamu mengurungkan niat kamu untuk menggugat perceraian itu dan kembali dalam pelukan aku. Walaupun ingatanmu masih belum benar-benar pulih. Namun aku akan sabar menjelaskan semuanya kepada mu, Yasinta." batin Pradana. Pradana kini mulai mengajak Yasinta masuk ke dalam mobilnya.


"Kita pulang ke rumah kita ya, sayang? Kasihan Primata di rumah itu hanya bersama Mbak Nana." kata Pradana berusaha membuat hati Yasinta iba.

__ADS_1


" Baiklah! Kasihan Primata sudah tidak memiliki ibu kandungnya. Tetapi aku juga ibunya kan, mas?" ucap Yasinta. Pradana tersenyum bahagia dengan pertanyaan itu.


" Tentu, tentu sayang! Kamu juga ibunya Primata dan akulah ayahnya." sahut Pradana sambil. mengusap puncak kepala milik Yasinta dengan lembut.


__ADS_2