
Yasinta sudah diantar ke rumah kediaman Pak Brata. Yasinta sudah bersiap untuk tidur setelah membersihkan dirinya. Namun Pradana masih berada di kamar itu mempersiapkan obat- obatan yang akan diberikan oleh Yasinta. Obat dari dokter syaraf supaya Yasinta akan kembali pulih dan tidak mengalami rasa sakit di kepalanya sewaktu- waktu ketika terjadi gangguan di dalam otaknya.
" Bangunlah, sayang! Minum obatnya dulu!" ucap Pradana sambil membawa beberapa jenis obat dan segelas air putih. Yasinta mengerutkan dahinya.
" Aku sudah tidak sakit, mas! Aku baik- baik saja! Aku tidak perlu minum obat, mas! Tadi pagi minum dan ini malam minum lagi. Sebenarnya ada apa dengan kamu sih, mas? Aku loh tidak sakit." kata Yasinta. Pradana menghela nafasnya supaya lebih sabar menghadapi istrinya itu.
" Kamu harus minum ini, supaya lekas pulih. Bukannya kamu masih mengeluh sakit kepala juga kan?" kata Pradana.
" Iya sih! Tapi sudah tidak sakit lagi kok." sahut Yasinta.
__ADS_1
" Ayo nurut lah dengan aku sekali ini saja! Setelah kecelakaan itu, kata dokter kamu harus meminum obat ini rutin, sayang!" kata Pradana kembali. Yasinta menghela nafasnya kasar. Akhirnya karena tidak mau ribut akhirnya Yasinta minum obat itu juga. Pradana tersenyum puas.
Yasinta kini kembali membaringkan tubuhnya dan mulai menyelimuti tubuhnya. Namun dirinya masih gelisah, kenapa Pradana masih tidak juga keluar dari kamarnya.
" Kamu tidak kembali pulang ke rumah kamu, mas? Kamu meninggalkan Mandala sendirian loh!" kata Yasinta. Pradana kembali mengusap dahinya.
" Mas, aku mau bobok sendiri. Kamu bisa tidak kalau tidur di kamar kamu sendiri?" ucap Yasinta akhirnya. Pradana mengerutkan dahinya.
" Tidak boleh! Karena sebentar lagi kita bukan lagi suami istri! Dan besok aku akan mengurus berkas- berkasnya untuk perceraian kita. Jadi dalam hal ini, aku akan menyerahkan kamu sepenuhnya kepada Mandala. Kekasih kamu yang paling kamu cinta itu." kata Yasinta.
__ADS_1
" Maaf! Aku masih bersikeras tidak ingin bercerai dengan kamu." sahut Pradana. Kini dirinya malah menjatuhkan tubuhnya di dekat Yasinta lalu mulai memunggungi Yasinta dan tidur di satu kasur yang sama.
" Ais kamu loh, mas!" sahut Yasinta sambil cemberut. Akhirnya Yasinta malah berpindah tidur di kursi sofa.
Diam-diam Pradana merasakan pilu hatinya. Dia menangis dalam diamnya. Rasanya sakit sekarang ketika wanita yang disayang saat ini ingin berpisah dengan nya. Padahal dirinya lagi sayang- sayangnya. Apakah ini balasan nya?
Pradana mulai melihat Yasinta yang sudah terlelap di kursi sofa panjang itu. Pradana kini turun di atas peraduan itu. Pelan- pelan Pradana mengecup kening istrinya itu Lalu membelai puncak kepalanya.
" Semoga kamu lekas ingat dan tidak lagi meminta perceraian itu. Sungguh aku tidak rela jika harus jauh dari kamu. Aku harus bertindak setelah ini. Kau akan mendatangi pria itu. Supaya dia tahu kalau kamu adalah istriku." kata Pradana. Pradana kini mulai mengangkat tubuh Yasinta di atas kasur itu lalu mulai menyelimuti nya.
__ADS_1
" Kamu masih tidak berubah! Kamu tetap cantik dan bersinar." kata Pradana sambil memandangi wajah ayu Yasinta. Kini matanya tertuju pada benda kecil. yang melingkar di jari Yasinta. Pradana mulai melepaskan nya.
" Kamu tidak boleh memakai barang pemberian laki-laki itu." gumam Pradana sambil mengambil cincin dari jari Yasinta.